Tanjungpinang, Jurnalkota.co.id
Dinas Kepemudaan dan Olahraga (Dispora) Kota Tanjungpinang menyiapkan tenaga pendamping bersertifikat nasional untuk mendukung atlet difabel saat mengikuti pertandingan di dalam maupun luar negeri.
Selain menyiapkan tenaga pendamping, Dispora Tanjungpinang memberikan dukungan terhadap pembinaan atlet difabel melalui dana hibah kepada National Paralympic Committee Indonesia (NPCI) Kepulauan Riau.
Kepala Dispora Kota Tanjungpinang Ruli Friady mengatakan, salah seorang stafnya telah dikirim ke Solo, Jawa Tengah, untuk mengikuti pelatihan pendampingan atlet difabel.
Pelatihan tersebut diperlukan agar pendamping memahami kebutuhan atlet sekaligus memenuhi persyaratan ketika mendampingi mereka dalam sebuah kompetisi.
“Staf kita sudah dikirim ke Solo untuk mengikuti pelatihan pendampingan atlet NPCI. Ia mendapatkan sertifikat tingkat nasional,” kata Ruli seusai menghadiri pembukaan Kejuaraan Daerah Para Tenis Meja di Pusat Pelatihan PTM Bintan Center, Kompleks Bintan Centre Kilometer 9, Kota Tanjungpinang, Kamis (17/9/2026).
Dengan sertifikasi tersebut, Dispora Tanjungpinang kini memiliki tenaga yang dinilai memenuhi persyaratan untuk mendampingi atlet difabel dalam pertandingan.
“Jadi, apabila ada pertandingan atlet difabel, baik tingkat nasional maupun internasional, Dispora sudah memiliki pendamping yang memenuhi syarat,” ujar Ruli.
Menurut dia, pendamping memiliki peran penting dalam membantu atlet selama mengikuti kompetisi. Kehadiran tenaga yang memiliki kemampuan khusus diharapkan membuat kebutuhan atlet dapat ditangani dengan lebih baik.
Penyiapan pendamping juga menjadi bagian dari upaya memperkuat pembinaan olahraga disabilitas secara menyeluruh. Pembinaan tidak hanya berkaitan dengan program latihan, tetapi juga mencakup dukungan yang dibutuhkan atlet sebelum, selama, dan setelah pertandingan.
Ruli berharap dukungan tersebut dapat membantu atlet difabel asal Tanjungpinang mempertahankan prestasi sekaligus bersaing pada jenjang yang lebih tinggi.
Pada ajang olahraga disabilitas tingkat nasional sebelumnya, atlet Tanjungpinang disebut berhasil meraih medali emas dari cabang para-renang dan medali perunggu dari cabang para-menembak.
“Harapan kita, para atlet terus berprestasi, baik di tingkat nasional maupun internasional,” kata Ruli.
Sementara itu, Ketua NPCI Kepri Fachrizal mengapresiasi dukungan Pemerintah Provinsi Kepri, Pemerintah Kota Tanjungpinang, dan Kejaksaan Negeri terhadap pembinaan atlet para di daerah.
Menurut Fachrizal, dukungan lintas instansi diperlukan agar atlet difabel memiliki lebih banyak kesempatan untuk berlatih dan mengikuti pertandingan.
“Dari sisi olahraga, sahabat-sahabat kita penyandang disabilitas terus kita dorong. Harapan kami, ke depan, para atlet dapat mengikuti ajang olahraga tidak hanya di tingkat kota, tetapi juga provinsi dan nasional,” ujar Fachrizal.
Ia mengatakan, kompetisi menjadi salah satu bagian penting dalam pembinaan. Melalui pertandingan, atlet dapat mengukur kemampuan, menambah pengalaman, serta membangun mental untuk menghadapi ajang yang lebih besar.
Pada Kejurda Para Tenis Meja Kepri, sebanyak 12 atlet ambil bagian. Mereka terdiri dari empat atlet kategori kursi roda dan delapan atlet kategori berdiri atau standing.
Sebelum kejuaraan para-tenis meja digelar, NPCI Kepri juga menyelenggarakan Kejurda Para-Menembak di Senggarang, Kota Tanjungpinang.
Fachrizal berharap penyelenggaraan kejuaraan daerah secara berkelanjutan dapat menjaring bibit-bibit atlet baru dari berbagai cabang olahraga.
Pembinaan juga diharapkan semakin menarik minat siswa sekolah luar biasa (SLB) untuk menekuni olahraga dan mengembangkan potensinya.
Regenerasi dinilai penting agar Kepri terus memiliki atlet difabel yang mampu mengikuti kompetisi pada tingkat daerah hingga nasional.
“Kami berharap pembinaan ini dapat menarik minat anak-anak SLB untuk menekuni olahraga dan meraih prestasi sehingga lahir generasi penerus atlet difabel di Kepri,” kata Fachrizal.
Salah satu target pembinaan adalah mempersiapkan atlet menuju Pekan Paralimpiade Nasional (Peparnas) 2028. Para atlet potensial perlu dipersiapkan sejak dini melalui latihan rutin, pendampingan, dan kesempatan bertanding yang memadai.
Fachrizal berharap kerja sama antara pemerintah, NPCI, pelatih, sekolah, dan pihak terkait lainnya terus diperkuat. Dukungan tersebut dibutuhkan agar atlet difabel memiliki kesempatan yang setara untuk mengembangkan kemampuan dan meraih prestasi.








