Begal Sang Penjahat Jalanan

Jasa Maklon Sabun

www.jurnalkota.co.id

Oleh : Nurul Fahira (Mahasiswi Psikologi)

Pembegalan tentunya sudah tidak asing di telinga dan sekitar kita. Duo begal yang viral membacok bocah SMP di Pancoran Mas, Depok, ternyata tak cuma sekali beraksi. Dalam sehari, kedua pelaku ini ternyata melakukan aksi begal di tiga lokasi berbeda di wilayah Depok, (Detiknews, 25/04/2024).

Kedua pelaku begal tersebut yakni bernama Nickola Ahmad (19) dan Wahyu Asbullah (21). Saat diperiksa polisi, kedua begal itu mengaku melakukan aksi kejahatan ini untuk memenuhi kebutuhan hidup. Selain itu juga ada indikasi untuk dibelikan narkoba jenis sabu, (Serambinews, 26/04/2024).

Diberitakan sebelumnya, seorang remaja laki-laki yang masih mengenakan pakaian seragam sekolah berinisial DH dibacok begal yang merampas ponselnya di daerah Pancoran Mas, Kota Depok. Aksi bacok yang terlihat rekaman menggunakan CCTV mengakibatkan korban alami luka di punggung bawah sebelah kiri dan memerlukan hingga 10 jahitan, (Kompas.com, 26/04/2024).

Disebutkan dalam MegapolitanPos.com (31/01/2024), Polda Metro Jaya berhasil mengungkap sebanyak 17 kasus kriminal pencurian dengan kekerasan (curas), pencurian dengan pemberatan (curat) dan pencurian kendaraan bermotor (ranmor) di wilayah hukum Polda Metro Jaya selama Januari 2024. Tercatat, angka kejahatan di tahun 2023 juga lebih tinggi dari lima tahun terakhir. Ini terlihat dari tahun 2018 yang hanya mencatat sebanyak 204.654 perkara dan menurun menjadi 178.207 perkara di tahun berikutnya. Lalu, pada 2020 angkanya naik kembali menjadi 247.780 perkara. Polri juga mencatat tingkat kejahatan pada tahun 2021 meningkat menjadi 257.743 perkara, (Goodstats, 01/01/2024).

Realitanya, kejahatan terus meningkat di tiap tahunnya. Termasuk juga dengan begal. Mereka yang menjadi pelaku begal melakukan aksinya dengan berbagai motif yang disiasatinya. Tidak cukup merampas harta milik korban, para pelaku juga tidak sedikit melukai korbannya. Salah satu motifnya adalah menanyakan alamat kepada korban, yang nantinya dirampas harta bendanya setelah muncul kesempatan. Dan apabila korban memberontak, maka mulailah pelaku melukai korban dengan sajam (senjata tajam) yang mereka miliki.

Banyak faktor yang menyebabkan begal melakukan aksinya, seperti keterangan yang sudah didapat adalah bermacam-macam. Mereka ingin memenuhi kebutuhan hidupnya, dan juga mereka ingin memenuhi kebutuhan nafsunya, misalnya ingin membeli narkotika, sabu dan segala macamnya. Sungguh menyedihkan, padahal mereka kalau mencuri saja sudah dipidanakan, ditambah lagi dengan menyakiti dan melukai korban, bahkan juga membunuh. Tidak kebayang berapa banyak daftar panjang kasus kriminal di Indonesia jika ini tidak ditangani dengan segera.

Kasus begal yang semakin membludak ini tak ayal adalah akibat semakin tergerusnya islam di tengah ummat. Ummat kini dibutakan oleh tamaknya kenikmatan duniawi. Kalangan atas sibuk bersaing untuk mendapatkan uang sebanyak-banyaknya di antara mereka, sedangkan kalangan bawah juga sibuk tentunya, sibuk mengais rupiah untuk menghidupi kebutuhan dirinya sendiri. Keinginan yang tidak sebanding dengan pendapatan juga menjadi salah satu penyebab. Sebab, masyarakat ingin mendapatkan uang secara instan walaupun dengan cara yang tidak manusiawi.

Pendidikan yang seharusnya menjadi hak bagi setiap masyarakat kini sulit untuk didapat. Padahal pendidikan adalah pintu awal untuk mendapatkan akses edukasi terkait semua hal yang ada di muka bumi ini. Pendidikan yang berbasis islam yang pasti ujung dari pembelajarannya adalah ketaqwaan individu. Ketaqwaan ini yang minim ditemukan di zaman sekarang, mereka menerobos rambu-rambu syari’at untuk mencukupi kebutuhan pribadi.

Minimnya akses pendidikan, semakin melanggengkan arus liberalisasi yang kian mencekoki para pemuda. Bebas tanpa terikat oleh apapun. Bebas untuk melakukan apapun, sebab tidak ada penghalang sebagai batasnya melakukan sesuatu. Bebas untuk mencuri, merampok, membegal dan melukai siapapun untuk mendapatkan apa yang menjadi keinginannya karena uang tidak ada di genggaman.

Keinginan manusia sampai kapanpun tidak ada habisnya. Keinginan yang tidak terbatas inilah yang membuat kita dapat melakukan apapun dengan menghalalkan segala cara. Inilah yang dilakukan oleh pelaku, mereka rela membacok bocah SMP demi memuaskan keinginannya untuk membeli sabu dari handphone yang dimiliki oleh bocah tersebut. Padahal, kalau saja keinginannya ia tahan dan ia mendapat pemahaman terkait memakai obat-obatan terlarang itu diharamkan, maka ia tidak akan sanggup melakukan hal tersebut.

Inilah mengapa islam sangat tegas dalam hal ini. Segala hal dalam islam sudah diatur, baik itu dalam aspek pendidikan, keamanan, ekonomi, sosial dan lain-lain. Dalam aspek pendidikan, islam sudah mengatur agar segala rangkaian pendidikan yang dijalani mulai dari kecil hingga dewasa, semuanya diatur, dirancang dan dijalankan agar menambah ketaqwaan dan juga meningkatkan rasa takut kepada Allah. Bahkan sebelum daripada itu, sang Ibu yang sebagai Al Ummu Madrasatul Ula, sudah dibentuk semaksimal mungkin agar menjadi madrasah dan tempat pendidikan pertama bagi anak untuk menapaki jenjang pendidikan selanjutnya. Oleh karena itu, sang ibu juga harus dibekali pemahaman yang mumpuni agar bisa mendidik anak sesuai dengan yang Rasulullah ajarkan. Jikalau rasa takut kepada Allah sudah ditanamkan sejak dini, pastinya tidak ada lagi keberanian untuk melanggar perintah Allah.

Dalam aspek ekonomi juga tidak akan ada lagi seperti sekarang, pendistribusian harta akan jelas kemana alurnya, yang kekurangan harta atau bahkan tidak mempunyai harta untuk mencukupi kehidupan, akan diurusi oleh negara dengan pemberian zakat. Dan pajak hanya akan dikenakan kepada mereka yang mempunya harta melebihi pendapatan rata-rata ummat. Tidak akan ada lagi yang namanya pasar bebas, dan kebebasan pribadi untuk menguasai pulau, hutan dan lainnya yang merupakan aset masyarakat. Karena itu adalah tugas khalifah sebagai pemimpin negara untuk membagi rata kepada seluruh masyarakat, jadi tidak dikuasai oleh sebagian pihak saja seperti zaman sekarang.

Oleh karena itu, dari kasus ini kita bisa belajar, bahwasanya bertahan dalam sistem kapitalis-sekularisme adalah kesia-siaan. Sebab, sudah ada sistem yang bisa mensejahterakan semua kalangan, bukan cuma sebagian kalangan saja, namun sebagian yang lain tidak dipedulikan. Karena kasus kriminal yang terus bertambah tidak akan membuat jera jika sanksi yang diterapkan adalah bukan dari Allah sang pencipta dan pengatur kita, dan alam semesta.***

Jasa Maklon Skincare Tangerang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *