Belawan Langganan Bentrok, Bukti Sistem Rusak Harus Ditinggalkan

Jasa Maklon Sabun

www.jurnalkota.co.id

Oleh: Muzaidah
Aktivis Dakwah Muslimah

Mengapa sesama warga bisa saling melukai, bahkan hingga menghilangkan nyawa, di tanah air mereka sendiri? Kehidupan sosial yang semestinya diwarnai harmoni kini justru kerap dipenuhi amarah, kekerasan, dan dendam. Ketika bentrok antarmasyarakat menjadi pemandangan biasa, saat itulah kita perlu bertanya: ada apa dengan sistem kehidupan yang selama ini dijalankan?

Bentrok antarmasyarakat kembali terjadi di Belawan, Medan, Sumatera Utara. Peristiwa ini melibatkan warga Lorong Papan dan Gudang Arang yang sudah lama dikenal sering bersitegang. Kali ini, bentrokan berujung tragis dengan tewasnya seorang remaja berusia 14 tahun akibat tembakan senapan angin. Meski aparat kepolisian tengah menyelidiki pelaku, ketakutan dan keresahan telah mencengkeram masyarakat sekitar. Situasi ini bukanlah kejadian baru; kekerasan antarmasyarakat di daerah padat dan minim ekonomi tersebut telah berlangsung bertahun-tahun. Kondisi ini memperlihatkan betapa lemahnya sistem sosial dan hukum yang seharusnya menjaga ketertiban dan kesejahteraan masyarakat.

Berdasarkan laporan dari sindosumut.com (23/04/2025), bentrokan tersebut melibatkan banyak remaja, bahkan anak-anak di bawah umur. Sementara itu, menurut data dari medan.tribunnews.com (24/04/2025), kekerasan antarmasyarakat di Belawan telah terjadi berulang kali, didorong oleh ketegangan lama yang tidak pernah ditangani secara tuntas. Kondisi lingkungan yang tidak baik, minimnya fasilitas pendidikan dan ruang kreatif untuk anak muda, serta lemahnya ketahanan sosial semakin memperparah situasi. Data ini menunjukkan adanya kelalaian negara dalam membina kehidupan sosial yang harmonis dan damai di tengah masyarakat.

Berulangnya bentrokan di Belawan adalah potret kegagalan negara dalam menjalankan peran fundamentalnya: menjaga stabilitas dan keamanan sosial. Negara seolah baru bergerak setelah insiden berdarah terjadi, tanpa ada upaya pencegahan yang serius. Keterlibatan anak-anak dalam kekerasan memperlihatkan adanya kerusakan sistemik pada pendidikan dan pembinaan generasi muda. Keluarga kehilangan perannya sebagai pelindung dan pendidik pertama, sementara lembaga sosial seperti sekolah dan komunitas gagal memberikan arah yang benar. Negara hanya menangani masalah setelah terjadi, bukan mencegah dan membangun kehidupan rakyat yang lebih baik.

Kehidupan masyarakat yang seharusnya diliputi rasa aman justru dipenuhi ketegangan dan ketidakpastian. Sistem saat ini lebih fokus pada pencapaian indikator ekonomi makro seperti investasi dan pertumbuhan angka PDB (Produk Domestik Bruto), namun mengabaikan sisi kemanusiaan dan sosial. Akibatnya, terjadi ketimpangan besar antara pembangunan fisik dengan kualitas hidup rakyat di tingkat bawah. Di tengah gemerlap pembangunan kota, ada lorong-lorong yang dipenuhi anak-anak putus sekolah dan remaja yang terjerumus dalam lingkaran kekerasan. Ini menjadi bukti bahwa sistem yang diterapkan saat ini gagal melindungi dan membina rakyat secara menyeluruh.

Masalah ini semakin diperburuk oleh budaya individualisme yang ditanamkan dalam sistem sekuler liberal. Setiap individu diajarkan untuk mengejar kepentingannya sendiri, tanpa kepedulian terhadap kehidupan bersama. Tatanan sosial yang seharusnya mengikat individu dalam persaudaraan justru tercerai-berai. Negara pun hanya memosisikan diri sebagai regulator minimalis, bukan sebagai pelindung aktif. Akibatnya, masyarakat kehilangan arah, persaudaraan sesama Muslim melemah, dan kekerasan menjadi solusi instan dalam menyelesaikan konflik.

Islam memandang bahwa keamanan sosial adalah salah satu tujuan penting yang harus dijaga oleh negara. Negara dalam sistem Islam bukan hanya sebagai pengatur, melainkan sebagai pelayan dan pelindung rakyatnya. Negara bertugas membina ketakwaan individu melalui sistem pendidikan berbasis akidah Islam, memperkuat keluarga sebagai benteng utama pembinaan generasi, serta menciptakan suasana sosial yang mendorong kebaikan dan mencegah kemungkaran. Konflik antarmasyarakat tidak dibiarkan berlarut-larut; negara bertindak cepat dan tuntas untuk menyelesaikannya dari akarnya.

Dalam sistem Islam, keadilan dan keamanan ditegakkan melalui sistem hukum yang tegas dan adil. Rasulullah saw. bersabda, “Pemimpin adalah penggembala dan ia bertanggung jawab atas gembalaannya.” (h.r. Bukhari dan Muslim).

Hadis ini menegaskan bahwa pemimpin, termasuk negara, bertanggung jawab penuh terhadap kesejahteraan dan keamanan rakyatnya. Bukan hanya menunggu konflik pecah, tetapi harus aktif membina, mengayomi, dan melindungi rakyat dari segala bentuk ancaman sosial.

Islam juga membangun sistem sosial yang memperkuat ikatan ukhuwah (persaudaraan) di antara masyarakat. Pendidikan Islam mengajarkan pentingnya menghormati hak orang lain, menyelesaikan masalah dengan cara damai, dan menghindari kekerasan. Media dalam sistem Islam dikendalikan untuk membentuk opini umum yang mendukung nilai-nilai kebaikan, bukan membiarkan budaya kekerasan mengakar dalam masyarakat.

Selain itu, dalam sistem Islam, distribusi kesejahteraan tidak dibiarkan timpang. Negara menjamin kebutuhan dasar rakyat seperti pendidikan, kesehatan, dan keamanan secara langsung tanpa menyerahkannya kepada mekanisme pasar bebas. Dengan terpenuhinya kebutuhan pokok rakyat secara adil, kecemburuan sosial dan potensi konflik bisa ditekan secara signifikan. Anak-anak mendapatkan akses pendidikan yang bermutu dan ruang untuk melakukan hal-hal positif, sehingga tumbuh menjadi generasi yang produktif dan beradab.

Sistem Islam memberikan solusi lengkap untuk mencegah dan mengatasi masalah. Penanganan konflik sosial tidak hanya dengan menambah aparat, melainkan juga membangun masyarakat yang taat hukum dan beradab. Semua aspek kehidupan seperti pendidikan, media, ekonomi, dan hukum harus bekerja sama untuk menciptakan kehidupan yang harmonis dan sesuai dengan tuntunan syariat Islam.

Bentrok warga Belawan seharusnya menjadi alarm keras bagi kita semua. Selama sistem kehidupan yang diterapkan saat ini tidak berubah, dan selama negara abai terhadap fungsi sejatinya, kekerasan sosial akan terus berulang di berbagai tempat. Sudah saatnya kita berpaling dari sistem yang terbukti gagal ini, dan kembali kepada sistem Islam yang sempurna dan menyeluruh, satu-satunya sistem yang mampu mewujudkan keadilan, keamanan, dan kesejahteraan hakiki. Wallahualam bissawab. (rel)

Jasa Maklon Skincare Tangerang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *