Tanjungpinang, Jurnalkota.co.id
Wakil Wali Kota Tanjungpinang Raja Ariza, menerima audiensi Panitia Diskusi Buku dari Forum Taman Bacaan Masyarakat (FTBM) Kota Tanjungpinang di ruang kerjanya, Kamis (9/10/2025).
Audiensi tersebut dihadiri Ketua FTBM Abdul Rauf Rahim beserta tim. Pertemuan itu membahas rencana pelaksanaan bedah buku dan diskusi publik yang akan mengangkat karya tulis Raja Ariza berjudul “Pengaruh Bugis dalam Sejarah Melayu.”
Abdul Rauf menyampaikan, buku tersebut memiliki nilai historis tinggi dan penting untuk dikaji lebih dalam oleh masyarakat. Menurutnya, karya itu memberi sudut pandang baru tentang peran strategis orang Bugis dalam perkembangan pemerintahan dan kebudayaan Melayu.
“Buku ini membuka wawasan baru bahwa orang Bugis bukan hanya bagian dari sejarah, tetapi juga berperan strategis dalam politik dan budaya Melayu, khususnya di wilayah Johor, Riau, Lingga, dan Pahang pada abad ke-17 hingga ke-18,” ujar Abdul Rauf.
FTBM berharap kegiatan bedah buku nanti dapat memperkaya literasi sejarah sekaligus menjadi ruang dialog antara masyarakat dan penulis buku tersebut.
Raja Ariza mengapresiasi perhatian FTBM terhadap karyanya. Ia menjelaskan, buku itu berupaya menelusuri jejak migrasi dan pengaruh orang Bugis di kawasan Melayu, yang pada awalnya terjadi bukan karena ambisi politik, melainkan akibat kondisi sosial dan politik di Sulawesi Selatan pada masa itu.
“Melalui dinamika politik, tokoh-tokoh seperti Opu Daeng Bersaudara kemudian berperan dalam struktur pemerintahan Kerajaan Melayu sebagai Yang Dipertuan Muda, posisi yang sangat strategis dan berpengaruh,” kata Raja Ariza.
Ia menambahkan, keberadaan orang Bugis membawa perubahan besar dalam sistem pemerintahan serta memperkuat hubungan kekerabatan antara suku Melayu dan Bugis. Salah satu tokoh penting yang menonjol ialah Yang Dipertuan Muda Riau IV, Raja Haji, yang dikenal sebagai figur Melayu-Bugis berpengaruh.
“Orang Bugis juga berperan dalam pembangunan ekonomi, pendidikan, keamanan, dan pertahanan kerajaan Melayu. Karena itu, kemaharajaan Melayu mencapai puncak kejayaan dan dihormati di kawasan Selat Malaka serta pesisir timur Sumatera,” lanjutnya.
Raja Ariza menyebut, buku tersebut sudah dapat dibaca di Perpustakaan Kota Tanjungpinang, meski belum diterbitkan secara resmi. Ia berharap kegiatan bedah buku yang diinisiasi FTBM dapat menjadi sarana memperkenalkan warisan sejarah Bugis-Melayu kepada masyarakat luas.
Audiensi ditutup dengan diskusi hangat dan kesepakatan untuk menjadwalkan kegiatan bedah buku sebagai bagian dari upaya memajukan budaya literasi serta memperdalam pemahaman sejarah Bugis-Melayu di Tanjungpinang.








