Lebak, Jurnalkota.co.id
Peneliti dari University Leiden, Belanda, Jet Bakels, menegaskan pentingnya menjaga kelestarian budaya masyarakat Badui di pedalaman Kabupaten Lebak, Banten, di tengah derasnya arus modernisasi yang terus menggerus kearifan lokal di berbagai belahan dunia.
Menurut Bakels, masyarakat Badui memiliki sistem nilai yang kuat dalam menjaga keseimbangan alam dan harmonisasi kehidupan, sebuah warisan yang telah dijaga turun-temurun sejak masa Kerajaan Padjadjaran.
“Kita berharap budaya masyarakat Badui tetap lestari di tengah gempuran modernisasi, seperti halnya komunitas adat lain di dunia yang menghadapi tekanan serupa,” ujar Bakels saat ditemui di Gedung Museum Multatuli, Rangkasbitung, Jumat (17/4/2026).
Ia menilai, keberlanjutan budaya Badui sangat bergantung pada pilihan masyarakatnya sendiri, termasuk dalam menentukan sejauh mana mereka membuka diri terhadap dunia luar, terutama terkait kunjungan wisatawan.
Di satu sisi, kunjungan wisatawan domestik maupun mancanegara ke wilayah Badui, khususnya di Desa Kanekes, terus meningkat. Namun di sisi lain, fenomena ini juga memunculkan tantangan baru, seperti perilaku wisatawan yang kurang menjaga kebersihan lingkungan, termasuk penggunaan plastik dan perilaku tidak ramah lingkungan.
Bakels mengungkapkan, masyarakat Badui kini dihadapkan pada realitas baru sebagai “museum hidup” yang setiap hari menjadi objek pengamatan dan kunjungan publik.
“Mereka seperti berada di sebuah museum terbuka, menjadi semacam podium atau ruang pameran budaya yang terus dikunjungi orang,” kata dia.
Meski demikian, eksistensi masyarakat Badui justru semakin dikenal luas hingga ke mancanegara, termasuk di Belanda, Inggris, dan Perancis. Keunikan pola hidup mereka yang menolak modernisasi menjadi daya tarik tersendiri.
Hingga kini, masyarakat Badui tetap mempertahankan kehidupan tradisional tanpa infrastruktur modern seperti listrik, jalan permanen, fasilitas kesehatan formal, hingga perangkat elektronik. Rumah-rumah mereka pun dibangun secara sederhana menggunakan bahan alami seperti bambu, kayu, serta atap dari rumbia atau ijuk.
Lebih dari itu, masyarakat Badui juga dikenal memiliki komitmen kuat dalam menjaga kelestarian hutan adat. Prinsip hidup mereka yang selaras dengan alam membuat kawasan hutan tetap terjaga, sehingga terhindar dari kerusakan ekologis yang dapat memicu bencana.
“Kami melihat ajaran nenek moyang masyarakat Badui sejak masa Padjadjaran hingga sekarang tetap menekankan tanggung jawab untuk menjaga hutan agar tidak rusak,” ujar Bakels.
Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Lebak, Yosep Muhamad Holis, mengatakan pemerintah daerah terus berupaya melestarikan budaya Badui, salah satunya melalui dukungan terhadap tradisi tahunan Seba Badui.
Tradisi Seba merupakan ritual budaya di mana masyarakat Badui menyerahkan hasil bumi kepada kepala daerah, baik bupati maupun gubernur, sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa setelah menjalani puasa Kawalu.
“Tahun ini, perayaan Seba Badui akan dilaksanakan pada 24 hingga 26 April 2026 dan diikuti ribuan masyarakat Badui serta pejabat daerah,” ujar Yosep.
Ia menambahkan, tradisi tersebut tidak hanya menjadi simbol pelestarian budaya, tetapi juga berpotensi besar dalam mendorong sektor pariwisata dan perekonomian masyarakat lokal.
“Saya kira perayaan Seba Badui ini mampu menarik wisatawan dan menggerakkan roda ekonomi masyarakat,” katanya.
Di tengah dinamika perubahan zaman, masyarakat Badui menjadi contoh nyata bagaimana kearifan lokal dapat bertahan dan tetap relevan, sekaligus menjadi pengingat pentingnya menjaga keseimbangan antara manusia dan alam.
Penulis: Noma
Editor: Antoni








