Oleh: Rut Sri Wahyuningsih
Institut Literasi dan Peradaban
Berawal dari tahun 1851, sebagaimana dikutip dari Disnakermobduk Aceh, dibentuk Sekolah Guru Negeri di Surakarta. Organisasi Guru terjadi pada 1943 (masa pendudukan Jepang). Organisasi tersebut menjalankan pelatihan-pelatihan di Jakarta dengan dibimbing langsung pihak Nippon. Lanjut ke masa pascakemerdekaan, para guru pun mengadakan Kongres Pendidik Bangsa di Sekolah Guru Puteri, Surakarta. Pertemuan para pendidik tersebut diadakan pada 24-25 November 1945. Berkat rapat ini, lahir organisasi bernama Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI). Tanggal kelahiran organisasi tersebut diabadikan sebagai Hari Guru Nasional. Penetapan HGN ini diresmikan lewat Keputusan Presiden nomor 78 tahun 1994 (tirto.id, 13/11/2023).
HGN 2023 mengangkat tema “Bergerak Bersama Rayakan Merdeka Belajar”. Kata “Merdeka” yang berkaitan dengan Kurikulum Merdeka. Adapun kurikulum ini dibuat untuk mewujudkan kemunculan SDM Unggul Indonesia yang mempunyai Profil Pelajar Pancasila. Dengan begitu, tema ini dapat dianggap relevan dengan kondisi pendidikan kita sekarang. Jika dilihat secara keseluruhan, tema itu mengibaratkan seluruh satuan pendidikan dan siswa-siswinya untuk “Bergerak Bersama” menyemarakkan kurikulum yang berlaku sekarang.
Refleksi HARI GURU: Patutkah Merayakan Rusaknya Generasi Buah Merdeka belajar
Tema hari guru 2023 adalah Bergerak Bersama Rayakan Merdeka Belajar. Tema ini menjadi pertanyaan mengingat berbagai realita generasi yang sarat berbagai masalah serius mulai dari kriminalitas, Kesehatan mental bahkan hingga tingginya angka bunuh diri. Hal ini menunjukkan kurikulum yang saat ini diterapkan tidak tepat dan bermasalah. Dan ini menegaskan sistem kapitalis tidak memiliki sistem membangun generasi yang berkualitas.
Ketika dunia terheran-heran dengan kualitas anak-anak Palestina, tetap tegar meski telah kehilangan ayah, ibu, saudara, keluarga, teman bahkan bumi di mana ia berpijak telah hancur berpuing-puing karena serangan bom Israel. Tak sekalipun mereka surut, bahkan orasi-orasi mereka menunjukkan kematangan berpikir dan akidah yang kuat. Apalagi jika mengalihkan pandangan pada mereka yang terluka dan harus menerima tindakan medis tanpa anestesi, lisan mereka tak sekalipun menghujat Allah, sebaliknya selalu bersyukur dan bersandar sepenuhnya bahwa Allah-lah pengurus terbaik atas semua urusan mereka termasuk hidup dan matinya.
Sementara di Indonesia, rilis berita seorang anak usia 10 tahun gantung diri di kamarnya ketika dimint ibunya untuk berhenti main gadget. Atau seorang selebgram yang bergonta-ganti pasangan, kemudian ketika hamil tak tahu siapa ayah di bayi, secara spontan bayi yang baru dilahirkan ditenggelamkan di kloset dan di buang di bandara. Mental apakah itu? Dan bisakah kita bayangkan sepuluh atau dua puluh tahun ke depan bangsa kita dipimpin oleh generasi sakit mental begini?
Islam Memiliki Sistem Pendidikan Berkualitas yang Berasas Akidah
Kurikulum pendidikan adalah basis pembangunan generasi, jika baik kurilumnya maka akan baik outputnya. Standar baik atau buruk juga tidak bisa kita berikan kepada akal manusia yang lemah dan terbatas. Sebab tujuan kurikulum adalah membentuk membentuk syakhsiyah (kepribadian) Islamiyyah. Tak peduli apakah muslim atau non muslim, sebab, ketika Islam diterapkan sebagai sebuah peraturan yang memberikan solusi bagi manusia, dampaknya adalah Rahmat bagi seluruh alam.
Pendidikan dijamin oleh negara penyelenggaraannya. Baik infrastrukturnya, kurikulum, SDM, hingga segala sesuatu yang berkaitan dengan pendidikan agar berjalan lancar. Negara juga akan mendorong terwujudnya keterpaduan tiga pilar berjalan beriringan yaitu pilar keluarga, masyarakat dan negara sendiri. Tak akan terwujud jaminan keberhasilan membentuk generasi berkualitas jika masyarakatnya tidak terbiasa beramal makruf nahi mungkar, berbuat baik saja tak cukup, itu hanya sisi kemanusiaan, namun lebih dari itu, saling nasehat menasehati dalam kebenaran yang diperintahkan syariat ini adalah bagian terpenting bagi tumbuh kembang anak didik, sebab mereka akan bisa langsung praktik di masyarakat tentang ilmu yang di dapatnya selama ini.
Kurulikulum merdeka juga menuntut siswa bisa berinteraksi dengan masyarakat, bedanya fokusnya hanya mempersiapkan generasi siap kerja dan mampir terserap di berbagai lapangan pekerjaan. Padahal faktanya, dengan sistem ekonomi kapitalis yang diemban negara malah lebih berpihak pada para investor yang mereka tak rela jika dalam klausul kerjasamanya tanpa ada masa depan bagi para pekerja mereka sendiri, inilah akhirnya, lapangan pekerjaan menyempit karena masuknya tenaga kerja asing.
Generasi yang tercetak adalah mereka yang tak peka dengan persoalan masyarakat yang sejati, malah sibuk mengamankan kepentingan sendiri. Padahal, generasi yang berilmu mumpuni inilah yang nantinya menjadi garda terdepan mencerdaskan bangsa. Menggiring umat untuk senantiasa meninggikan kalimat Allah sehingga berdaulat di negeri sendiri. Bukan malah menjadi umpan masuknya penjajahan gaya baru, yakni menjadi buruh di negeri sendiri.
Sejarah kejayaan peradaban Islam tak akan bisa terhapuskan begitu saja dari perjalanan manusia di dunia, Islam terus menerus memberikan kontribusi terbaik bagi peradaban. Para ilmuwan seperti Ibnu Sina, Al-Khawarizmi, Al-Farizi, al-Kindi, Maria Astrulabi dan lainnya, begitu juga perguruan tinggi yang tersebar di negeri muslim yang hari ini masih bisa diakses seperti di Kairo, Cordoba dan lainnya menunjukkan betapa ketika tiga pilar bersinergi sempurna. Hal ini tidak mungkin terwujud jika kita belum mencabut sistem kapitalisme yang menjadi akar persoalan, dan menggantinya dengan syariat Islam. Wallahualam bissawab.**








