Tanjungpinang, Jurnalkota.co.id
Badan Pangan Nasional (Bapanas) menugaskan Perum Bulog untuk mengalokasikan 4.000 ton beras premium dari Sulawesi ke Provinsi Kepulauan Riau (Kepri). Langkah ini dilakukan untuk menjaga ketersediaan pangan menjelang Natal dan Tahun Baru (Nataru) sekaligus mengantisipasi potensi gangguan distribusi akibat cuaca buruk.
Pengalokasian beras tersebut merupakan tindak lanjut atas permintaan Gubernur Kepri Ansar Ahmad dalam pertemuan bersama Bapanas, Bulog, dan Kapolda Kepri di Jakarta pada 10 November 2025. Pertemuan itu juga dihadiri Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Kesehatan Hewan Kepri, Rika Azmi.
“Tentunya kami menyambut baik langkah Bapanas ini. Diharapkan alokasi ini dapat menjaga ketersediaan beras di Kepri jelang Nataru,” ujar Ansar Ahmad di Kota Tanjungpinang, Kamis (27/11/2025).
Ansar Ahmad meminta agar beras yang dialokasikan Bulog dapat segera disalurkan ke seluruh wilayah Kepri. “Beras ini diharapkan dapat dikirimkan segera,” kata Ansar Ahmad.
Jaga Stabilitas Harga
Dalam rapat High Level Meeting Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) sebelumnya, Ansar Ahmad menegaskan komitmen pemerintah daerah untuk menjaga stabilitas harga menjelang Nataru. Ia mengingatkan potensi tekanan harga yang dipicu cuaca ekstrem serta meningkatnya permintaan masyarakat pada akhir tahun.
Sejumlah komoditas yang perlu diwaspadai antara lain cabai merah, beras, ikan selar, minyak goreng, telur, dan ayam ras. Ansar Ahmad meminta perangkat daerah terkait memperkuat koordinasi, memperbarui neraca pangan, dan memastikan kelancaran distribusi barang kebutuhan pokok.
“Inflasi Kepri pada Oktober 2025 berada di level 0,36 persen (mtm) dan 3,01 persen (yoy), masih dalam rentang sasaran nasional. Namun potensi tekanan harga tetap perlu diantisipasi,” ujar Ansar Ahmad.
Sementara itu, Kepala BPS Kepri Margaretha Ari Anggorowati optimistis inflasi menjelang dan saat Nataru dapat dijaga di bawah 3,5 persen. Ia menilai sejumlah program pengendalian harga berjalan efektif, termasuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang tidak memicu lonjakan harga.














