Lebak, Jurnalkota.co.id
Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Lebak, Banten, melakukan fogging atau pengasapan di lingkungan Pondok Pesantren (Ponpes) Nurul Hasanah, Desa Cimangeunteung, Kecamatan Rangkasbitung, sebagai upaya mencegah penyebaran penyakit chikungunya yang belakangan ditemukan di wilayah tersebut.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Lebak, Eka Dharmana Putra, mengatakan fogging dilakukan sebagai langkah pengendalian populasi nyamuk dewasa yang menjadi vektor penyebaran virus chikungunya. Namun, ia menegaskan bahwa pengasapan saja tidak cukup untuk memutus rantai penularan.
“Kami selain melakukan fogging juga mengimbau masyarakat untuk terus melaksanakan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) melalui gerakan 3M Plus, yaitu menguras, menutup, dan mengubur barang-barang yang berpotensi menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk,” ujar Eka, Jumat (26/6/2026).
Menurut Eka, chikungunya merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus dan ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti maupun Aedes albopictus. Kedua jenis nyamuk tersebut berkembang biak di lingkungan yang terdapat genangan air bersih.
Ia menjelaskan, penderita chikungunya umumnya mengalami demam tinggi mencapai 39 hingga 40 derajat Celsius yang disertai nyeri hebat pada persendian, terutama di bagian lutut, pergelangan tangan, dan jari-jari, sehingga membuat penderitanya kesulitan berjalan. Gejala lain yang sering muncul antara lain sakit kepala, nyeri otot, serta tubuh terasa lemas.
Karena itu, Dinkes Lebak terus mengingatkan masyarakat agar rutin melakukan PSN dan menerapkan gerakan 3M Plus di lingkungan masing-masing. Langkah tersebut dinilai lebih efektif untuk membasmi jentik nyamuk sebelum berkembang menjadi nyamuk dewasa.
“Fogging hanya membunuh nyamuk dewasa. Sementara jentik-jentik nyamuk hanya bisa diberantas melalui pemberantasan sarang nyamuk secara rutin. Kami meyakini kombinasi fogging dan PSN mampu memutus mata rantai penyebaran chikungunya,” kata Eka.
Sementara itu, dokter Puskesmas Rangkasbitung, dr. Nadia Natasha, mengatakan pihaknya telah melakukan pemeriksaan terhadap lima warga Desa Cimangeunteung yang mengalami gejala mengarah pada chikungunya.
Dari hasil pemeriksaan tersebut, satu orang dinyatakan positif terinfeksi virus chikungunya, yakni seorang anak bernama Sopwan Damini (10). Pasien mengalami demam tinggi disertai nyeri sendi yang cukup berat hingga kesulitan berjalan.
“Pasien sudah mendapatkan penanganan medis di Puskesmas Rangkasbitung. Saat ini kondisinya terus membaik dan penyakit chikungunya pada umumnya tidak bersifat mematikan,” ujar Nadia.
Ia mengimbau masyarakat yang mengalami gejala serupa agar segera memeriksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan untuk mendapatkan penanganan sedini mungkin.
Di sisi lain, Pimpinan Pondok Pesantren Nurul Hasanah, KH Hasan Basri, mengungkapkan bahwa dalam dua pekan terakhir dirinya bersama anggota keluarga dan sejumlah santri juga mengalami keluhan berupa demam, nyeri sendi, serta kesulitan berjalan.
Meski demikian, ia mengaku bersyukur karena Dinas Kesehatan Kabupaten Lebak bergerak cepat melakukan fogging, pemeriksaan kesehatan, serta memberikan pengobatan kepada warga dan santri yang terdampak.
“Kami merasa lega setelah tim kesehatan datang melakukan fogging, pemeriksaan, dan pengobatan. Mudah-mudahan penyebaran penyakit ini segera berhenti dan seluruh warga yang sakit segera pulih,” kata Hasan Basri.
Dinkes Lebak berharap keterlibatan aktif masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan menjadi kunci utama mencegah penyebaran chikungunya maupun penyakit lain yang ditularkan melalui nyamuk, seperti demam berdarah dengue (DBD). Pemerintah juga mengimbau warga untuk segera melapor ke fasilitas kesehatan apabila menemukan gejala serupa agar penanganan dapat dilakukan lebih cepat.
Penulis: Noma
Editor: Antoni










