Tanjungpinang, Jurnalkota.co.id
Secangkir kopi mungkin terlihat sederhana. Namun, ketika dikemas dalam sebuah festival, kopi dapat menjadi pintu masuk untuk memperkenalkan budaya, menggerakkan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta menarik masyarakat dan wisatawan datang ke suatu daerah.

Gambaran tersebut terlihat pada malam puncak Festival Kopi Merdeka (FKM) 2026 yang digelar di Jalan Merdeka, kawasan Kota Lama Tanjungpinang, Kepulauan Riau, Minggu (23/8/2026) malam.
Puluhan ribu warga dari berbagai kabupaten dan kota di Kepulauan Riau memadati kawasan tersebut. Mereka datang untuk menyaksikan rangkaian pertunjukan sekaligus menikmati suasana festival yang mengangkat kopi, seni, budaya, ekonomi kreatif, dan identitas Kota Tanjungpinang.
Kemeriahan terlihat sejak sore hingga malam hari. Jalan Merdeka yang menjadi salah satu kawasan bersejarah di Kota Gurindam berubah menjadi ruang publik yang dipenuhi masyarakat dari berbagai kalangan.
Bagi Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau, banyaknya masyarakat yang hadir bukan semata-mata menjadi ukuran keberhasilan sebuah acara. Lebih jauh, Festival Kopi Merdeka memperlihatkan bagaimana kegiatan yang berangkat dari kebiasaan dan budaya masyarakat dapat berkembang menjadi instrumen untuk mendukung pembangunan sektor pariwisata dan ekonomi daerah.
Gubernur Kepulauan Riau Ansar Ahmad mengatakan, Festival Kopi Merdeka telah melalui perjalanan panjang sejak pertama kali diselenggarakan pada 2022.
Festival tersebut berawal dari gagasan untuk menggairahkan perekonomian masyarakat melalui budaya minum kopi yang telah menjadi bagian dari kehidupan sosial masyarakat Tanjungpinang.
Kota Tanjungpinang sejak lama dikenal memiliki banyak kedai kopi yang bukan sekadar menjadi tempat menikmati minuman. Kedai kopi juga menjadi ruang pertemuan masyarakat, tempat bertukar informasi, berdiskusi, serta membangun hubungan sosial.
Potensi tersebut kemudian dikembangkan menjadi sebuah kegiatan yang lebih besar melalui Festival Kopi Merdeka. Festival ini digagas oleh sejumlah pihak yang memiliki perhatian terhadap perkembangan seni, budaya, pariwisata, dan ekonomi kreatif di Tanjungpinang.
Sejumlah tokoh yang terlibat dalam gagasan awal penyelenggaraan festival tersebut di antaranya mantan Kepala Kejaksaan Negeri Tanjungpinang Joko Yuhono dan budayawan Kepulauan Riau Husnizar Hood. Festival juga mendapat dukungan dari seniman, pengusaha, pelaku UMKM, serta pelaku ekonomi kreatif di Kota Tanjungpinang.
Dalam perkembangannya, Festival Kopi Merdeka tidak hanya menjadi kegiatan tahunan masyarakat. Pada 2023 dan 2024, festival tersebut menjadi bagian dari Tanjungpinang Fest yang masuk dalam rangkaian Karisma Event Nusantara.
Selanjutnya, pada 2025, Festival Kopi Merdeka masuk dalam rangkaian kegiatan pariwisata Provinsi Kepulauan Riau sekaligus menjadi bagian dari persiapan penyusunan Calendar of Events Pariwisata Kepri 2026.
Perubahan posisi tersebut menunjukkan bahwa sebuah kegiatan lokal dapat memiliki nilai dan daya tarik yang lebih besar apabila dikelola secara konsisten, kreatif, dan berkelanjutan.
Festival tidak lagi hanya menjadi tempat masyarakat berkumpul dan mencari hiburan. Kegiatan semacam itu dapat menjadi ruang untuk mempromosikan destinasi wisata, mengenalkan produk UMKM, menampilkan seni budaya, serta membuka kesempatan bagi pelaku ekonomi kreatif untuk memperluas pasar.
Pendekatan tersebut dikenal sebagai pariwisata berbasis kegiatan atau event-based tourism. Melalui pendekatan itu, Kepulauan Riau tidak hanya mengandalkan keindahan alam dan destinasi wisata, tetapi juga menghadirkan alasan baru bagi wisatawan untuk datang melalui berbagai kegiatan yang mempunyai karakter lokal.
Festival Kopi Merdeka menjadi salah satu contoh bagaimana kebiasaan minum kopi dapat dikemas sebagai daya tarik pariwisata. Di dalamnya terdapat keterlibatan pelaku usaha, komunitas, seniman, pemerintah, dan masyarakat.
Kehadiran pengunjung dalam jumlah besar juga memberikan dampak terhadap aktivitas ekonomi di sekitar lokasi kegiatan. Pelaku UMKM, pedagang makanan dan minuman, penyedia jasa, serta pelaku usaha lainnya berkesempatan memperoleh manfaat dari meningkatnya pergerakan masyarakat.
Strategi pengembangan pariwisata berbasis kegiatan tersebut memiliki kaitan dengan perkembangan kunjungan wisatawan dan pertumbuhan ekonomi Kepulauan Riau.
Berdasarkan data yang disampaikan dalam kegiatan itu, jumlah kunjungan wisatawan mancanegara ke Kepulauan Riau sepanjang Januari hingga Mei 2026 mencapai 837.015 orang. Khusus pada Mei 2026, jumlah kunjungan wisatawan mancanegara tercatat sebanyak 210.737 orang.
Sementara itu, pertumbuhan ekonomi Kepulauan Riau pada triwulan II 2026 tercatat sebesar 6,99 persen secara tahunan atau year-on-year. Capaian tersebut menempatkan Kepulauan Riau di peringkat pertama di Sumatera dan peringkat ketiga secara nasional.
Data tersebut menunjukkan bahwa aktivitas perekonomian di Kepulauan Riau terus menggeliat. Pariwisata, UMKM, dan ekonomi kreatif menjadi sektor yang perlu diperkuat agar pertumbuhan ekonomi dapat memberikan manfaat lebih luas kepada masyarakat.
Dari sisi kebudayaan, Indeks Pembangunan Kebudayaan Kepulauan Riau pada 2024 mencapai 60,34 poin. Angka tersebut meningkat dibandingkan capaian pada 2023 yang berada di posisi 59,80 poin.
Peningkatan itu menjadi salah satu indikator bahwa pembangunan ekonomi dan pariwisata dapat berjalan beriringan dengan upaya menjaga serta memperkuat kebudayaan daerah.
Karena itu, Festival Kopi Merdeka memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar festival minuman. Festival tersebut mempertemukan unsur budaya, ekonomi kreatif, pariwisata, UMKM, seni pertunjukan, serta pemanfaatan ruang publik oleh masyarakat.
“Atas nama Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau, saya sangat menyambut baik dan menyampaikan apresiasi atas penyelenggaraan Festival Kopi Merdeka Tahun 2026 ini,” kata Ansar Ahmad.
Ia mengajak masyarakat Kepulauan Riau, khususnya warga Kota Tanjungpinang, untuk terus memberikan dukungan terhadap penyelenggaraan berbagai kegiatan berskala daerah, nasional, maupun internasional.
Menurut Ansar Ahmad, dukungan masyarakat menjadi bagian penting dalam menyukseskan sebuah kegiatan. Keberhasilan festival tidak hanya ditentukan oleh pemerintah dan penyelenggara, tetapi juga bergantung pada partisipasi masyarakat, komunitas, pelaku usaha, serta seluruh pihak terkait.
Keramaian yang terlihat di sepanjang Jalan Merdeka menjadi modal sosial bagi pengembangan kegiatan serupa. Antusiasme masyarakat menunjukkan adanya dukungan terhadap acara yang mengangkat identitas daerah sekaligus memberikan ruang bagi pertumbuhan ekonomi lokal.
Puncak Festival Kopi Merdeka 2026 dimeriahkan dengan berbagai pertunjukan. Sejumlah sanggar tari menampilkan karya terbaik mereka di hadapan masyarakat. Pengunjung juga menyaksikan penampilan para pemenang Fashion Kopi Merdeka.
Penyanyi Fauzana dan Aprilian turut memeriahkan malam puncak festival. Penampilan keduanya menambah semarak suasana dan menjadi salah satu bagian yang dinantikan masyarakat.
Pada kesempatan tersebut, Gubernur Ansar Ahmad bersama Wakil Gubernur Kepulauan Riau Nyanyang Haris Pratamura juga menyerahkan hadiah kepada para pemenang lomba yang diselenggarakan dalam rangkaian Festival Kopi Merdeka 2026.
Festival Kopi Merdeka pada akhirnya memperlihatkan bahwa potensi pariwisata tidak selalu harus bermula dari sesuatu yang besar. Kebiasaan sederhana yang hidup di tengah masyarakat dapat berkembang menjadi kekuatan baru apabila dikemas secara kreatif dan dikelola secara berkelanjutan.
Dari secangkir kopi, lahir ruang pertemuan antara pemerintah, masyarakat, pelaku UMKM, seniman, dan wisatawan. Festival tersebut tidak hanya menghidupkan kawasan Kota Lama Tanjungpinang, tetapi juga memperkuat kopi sebagai bagian dari budaya, ekonomi, pariwisata, dan identitas daerah.














