Tanjungpinang, Jurnalkota.co.id
Wali Kota Tanjungpinang Lis Darmansyah mengapresiasi rencana penyelenggaraan Festival Selat Melaka yang dijadwalkan berlangsung pada September 2026. Pulau Penyengat akan menjadi salah satu lokasi dalam rangkaian kegiatan yang melibatkan sekitar 270 delegasi dari berbagai daerah tersebut.
Rencana festival itu disampaikan pengurus Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Tanjungpinang saat beraudiensi dengan Lis Darmansyah di Kantor Wali Kota Tanjungpinang, Kamis (6/8/2026).
Festival Selat Melaka direncanakan berlangsung selama tiga hari. Rangkaian kegiatan akan dimulai di Kota Batam pada 19-20 September 2026, kemudian dilanjutkan di Kota Tanjungpinang pada 21 September 2026.
Ketua AJI Kota Tanjungpinang Sutana mengatakan, festival tersebut akan melibatkan sekitar 270 delegasi dari berbagai daerah di Indonesia.
Kehadiran ratusan peserta itu diharapkan menjadi kesempatan untuk memperkenalkan lebih luas sejarah, budaya, dan kekayaan Melayu yang dimiliki Tanjungpinang, terutama Pulau Penyengat.
Menurut Sutana, Pulau Penyengat dipilih menjadi bagian dari rangkaian Festival Selat Melaka karena memiliki nilai sejarah dan budaya yang kuat.
Melalui kegiatan tersebut, peserta diharapkan tidak hanya mengikuti agenda festival, tetapi juga memperoleh pengetahuan mengenai posisi Pulau Penyengat dalam perjalanan sejarah dan perkembangan kebudayaan Melayu.
“Tujuan kami memilih Pulau Penyengat adalah bagaimana kita ikut mengangkat Pulau Penyengat sebagai warisan budaya dunia. Karena itu, kami juga berencana mengundang perwakilan UNESCO dalam kegiatan ini,” kata Sutana.
Untuk rangkaian kegiatan di Tanjungpinang, Festival Selat Melaka antara lain akan diisi dengan diskusi panel dan sarasehan.
Sutana mengatakan, kegiatan tersebut juga diarahkan untuk memperkenalkan Pulau Penyengat sebagai salah satu ikon peradaban Melayu kepada para peserta yang datang dari berbagai wilayah Indonesia.
“Melalui kegiatan ini, kami ingin memperkenalkan Pulau Penyengat sebagai ikon peradaban Melayu kepada peserta dari seluruh Indonesia,” ujarnya.
Selain diskusi panel dan sarasehan, rangkaian Festival Selat Melaka direncanakan mencakup workshop dan perlombaan jurnalistik.
Lis Darmansyah: Momentum Mengenalkan Tanjungpinang
Wali Kota Tanjungpinang Lis Darmansyah menyambut positif rencana pelaksanaan festival tersebut.
Menurut Lis Darmansyah, kedatangan ratusan delegasi dapat menjadi momentum untuk memperkenalkan Tanjungpinang kepada masyarakat dari berbagai daerah, tidak hanya dari sisi pariwisata, tetapi juga sejarah dan kebudayaan Melayu.
Pulau Penyengat, kata dia, menjadi salah satu kekayaan sejarah dan budaya yang dapat diperkenalkan kepada peserta selama berada di Tanjungpinang.
“Ini kegiatan yang bagus karena para delegasi yang datang dari berbagai daerah dapat sekaligus mengenal Tanjungpinang, khususnya Pulau Penyengat yang memiliki sejarah dan budaya yang kuat,” kata Lis Darmansyah.
Ia berharap Festival Selat Melaka dapat memberikan ruang lebih luas untuk mempromosikan sejarah dan kebudayaan Tanjungpinang sekaligus memperkuat publikasi mengenai berbagai potensi daerah.
Menurut Lis Darmansyah, keterlibatan insan pers dalam kegiatan tersebut juga memiliki peran penting. Jurnalis dinilai dapat membantu memperluas penyebaran informasi mengenai sejarah, kebudayaan, dan potensi pariwisata Tanjungpinang kepada masyarakat.
Dengan kehadiran peserta dari berbagai daerah, informasi mengenai Pulau Penyengat dan kekayaan budaya Melayu di Tanjungpinang diharapkan dapat menjangkau publik yang lebih luas.
Dalam audiensi tersebut, Lis Darmansyah didampingi Asisten Administrasi Umum Sekretariat Daerah Kota Tanjungpinang Augus Raja Unggul.
Hadir pula jajaran Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kota Tanjungpinang, yakni Pelaksana Tugas Sekretaris Diskominfo Ririn Noviana dan Analis Kebijakan Ahli Muda Wulan Tri Wahyuni.
Sementara rombongan AJI Kota Tanjungpinang dipimpin Ketua AJI Kota Tanjungpinang Sutana.
Festival Selat Melaka diharapkan menjadi ruang pertemuan insan pers dan berbagai pihak sekaligus sarana memperkenalkan kekayaan sejarah serta kebudayaan Melayu.
Rangkaian workshop, perlombaan jurnalistik, diskusi panel, dan sarasehan juga diharapkan memperluas pengenalan terhadap Tanjungpinang dan Pulau Penyengat sebagai salah satu kawasan yang memiliki jejak penting dalam sejarah kebudayaan Melayu.








