Tanjungpinang, Jurnalkota.co.id
Musisi asal Kabupaten Bekasi yang kini menetap di Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau, Ian Bastian, resmi merilis singel keduanya berjudul “Lebih Tiga Kali”, Sabtu (22/8/2026).

Mengusung genre dangdut klasik Indonesia, lagu tersebut menceritakan seseorang yang memilih mengakhiri hubungan setelah berkali-kali dikhianati pasangannya.
“Lebih Tiga Kali” terinspirasi dari pengalaman hidup Ian yang awalnya dituangkan dalam catatan sederhana di atas kertas. Catatan tersebut kemudian dikembangkan menjadi lirik sebelum memasuki proses penggarapan musik.
“Berawal dari pengalaman hidup dan coretan di atas kertas, kini karya ini resmi terbang menemui kalian,” kata Ian dalam keterangannya.
Ian mengatakan, lagu tersebut menggambarkan perasaan seseorang yang telah berulang kali memberikan kesempatan kepada pasangannya. Namun, kepercayaan yang diberikan justru terus dikhianati hingga hubungan itu tidak dapat lagi dipertahankan.
“Lagu ‘Lebih Tiga Kali’ terinspirasi dari pengalaman hidup yang kemudian saya tuangkan melalui coretan-coretan di atas kertas. Lagu ini bercerita tentang seseorang yang telah berulang kali memberikan kesempatan, tetapi kepercayaannya terus dikhianati hingga akhirnya memilih mengakhiri hubungan,” ujarnya.
Dalam lagu itu, Ian menggambarkan keputusasaan seseorang akibat pengkhianatan yang terus berulang. Kesalahan demi kesalahan membuat tokoh dalam lagu tersebut merasa kesabaran dan pengorbanannya tidak lagi dihargai.
Tokoh dalam lagu itu semula masih berusaha mempertahankan hubungan dengan memberikan kesempatan dan memaafkan kesalahan pasangannya. Namun, pengkhianatan yang kembali terjadi perlahan menghilangkan kepercayaan yang telah dibangun.
Judul “Lebih Tiga Kali” dipilih untuk menegaskan bahwa pengkhianatan tersebut bukan hanya terjadi satu atau dua kali, melainkan berulang kali hingga melampaui batas kesabaran.
Keadaan itu mendorong tokoh dalam lagu untuk mengambil keputusan tegas. Ia memilih mengakhiri hubungan dan tidak lagi memberikan kesempatan kepada orang yang telah berkali-kali menyakitinya.
Menurut Ian, keputusan tersebut bukan lahir dari kemarahan sesaat, melainkan akumulasi kekecewaan. Kesempatan yang sebelumnya diberikan tidak digunakan oleh pasangannya untuk berubah, tetapi justru diikuti dengan kesalahan yang sama.
Ian menuturkan, setiap orang memiliki batas kesabaran dalam menghadapi persoalan, termasuk ketika menjalani sebuah hubungan. Menurut dia, memaafkan bukan berarti membiarkan kesalahan serupa terus dilakukan.
“Melalui lagu ini, saya ingin menyampaikan bahwa setiap orang memiliki batas kesabaran. Memaafkan bukan berarti membiarkan kesalahan yang sama terus terulang. Ada saatnya seseorang harus berani mengambil keputusan demi menjaga harga diri dan ketenangan hidupnya,” kata Ian.
Lagu tersebut menampilkan konflik emosional yang kerap ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Seseorang terkadang memilih bertahan meskipun telah disakiti karena masih berharap pasangannya menyadari kesalahan dan memperbaiki hubungan.
Namun, harapan dapat berubah menjadi kekecewaan ketika kepercayaan kembali dikhianati. Pada titik tertentu, seseorang harus menentukan sikap, yakni tetap mempertahankan hubungan atau memilih pergi demi melindungi diri dari luka yang sama.
Penolakan untuk kembali dalam lagu itu sekaligus menggambarkan keberanian seseorang dalam menetapkan batas. Tokoh di dalamnya tidak ingin kembali terjebak dalam janji yang sama setelah berkali-kali menghadapi kekecewaan.
Dengan tema tersebut, “Lebih Tiga Kali” tidak hanya menceritakan berakhirnya sebuah hubungan, tetapi juga membawa pesan mengenai pentingnya menjaga kepercayaan serta menghargai kesetiaan dan pengorbanan pasangan.
Ian menilai kepercayaan merupakan salah satu unsur penting dalam hubungan. Ketika kepercayaan telah dirusak berulang kali, permintaan maaf belum tentu mampu mengembalikan keadaan seperti semula.
Tema pengkhianatan dan batas kesabaran membuat lagu tersebut dekat dengan pengalaman banyak orang. Cerita yang disampaikan diharapkan dapat mewakili perasaan pendengar yang pernah berusaha mempertahankan hubungan, tetapi akhirnya memilih pergi karena tidak sanggup menghadapi kekecewaan berulang.
Perjalanan dari pengalaman hidup menjadi sebuah karya musik juga memperlihatkan cara Ian mengolah peristiwa dan emosi menjadi materi kreatif. Perasaan yang semula dituangkan dalam catatan sederhana kemudian dikembangkan menjadi lagu yang dapat didengarkan dan dimaknai masyarakat.
Dalam proses produksinya, Ian melibatkan sejumlah pihak. Aransemen musik “Lebih Tiga Kali” digarap oleh IndraOt, sedangkan proses pencampuran dan penyelarasan akhir suara atau mixing dan mastering dipercayakan kepada Heri Kuai.
Aransemen musik disusun untuk membangun suasana yang selaras dengan cerita dalam lirik. Sementara itu, proses mixing dan mastering dilakukan untuk menyatukan sekaligus menyempurnakan berbagai unsur suara sebelum lagu diperdengarkan kepada masyarakat.
Dengan membawa warna dangdut klasik Indonesia, “Lebih Tiga Kali” menjadi upaya Ian menghadirkan karya yang dekat dengan penikmat musik Tanah Air. Pilihan genre tersebut turut memperkuat penyampaian kisah mengenai cinta, pengkhianatan, dan kekecewaan yang menjadi inti lagu.
Perilisan “Lebih Tiga Kali” sekaligus menandai kelanjutan perjalanan Ian Bastian di industri musik. Sebagai karya kedua, singel itu menjadi bagian dari langkahnya untuk terus berkarya dan memperkenalkan karakter musiknya kepada masyarakat.
Ian berharap lagu tersebut dapat diterima oleh penikmat musik Indonesia, khususnya pendengar yang pernah mengalami kisah serupa.
“Semoga ‘Lebih Tiga Kali’ dapat mewakili perasaan para pendengar dan menjadi pengingat agar kita selalu menghargai kepercayaan serta ketulusan pasangan. Saya juga berharap karya kedua ini menjadi langkah baik bagi perjalanan saya untuk terus berkarya di dunia musik,” tuturnya.




