Lebak, Jurnalkota.co.id
Dinas Pertanian (Distan) Kabupaten Lebak, Banten, menginstruksikan seluruh petugas penyuluh pertanian untuk mempercepat proses tanam di wilayah binaan masing-masing. Langkah ini dilakukan guna mengejar target luas tambah tanam (LTT) yang ditetapkan pada April 2026.
Kepala Distan Lebak, Rahmat Yuniar, mengatakan pihaknya menargetkan LTT mencapai 10.600 hektare pada bulan ini. Namun hingga pertengahan April, realisasi tanam baru mencapai sekitar 4.600 hektare.
“Kita pada April 2026 ditargetkan LTT seluas 10.600 hektare. Saat ini baru terealisasi 4.600 hektare, sehingga masih ada sekitar 6.000 hektare yang harus kita kejar hingga akhir bulan,” kata Rahmat dalam keterangannya, Rabu (15/4/2026).
Menurut dia, percepatan tanam menjadi langkah strategis untuk memastikan target tersebut tercapai, sekaligus mendukung program swasembada pangan nasional yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto.
Rahmat menjelaskan, tantangan utama yang dihadapi petani saat ini adalah potensi kekeringan akibat fenomena El Nino yang disebutnya sebagai “Godzilla El Nino” atau kemarau ekstrem. Kondisi ini berisiko mengganggu produktivitas pertanian, terutama di lahan tadah hujan.
Untuk mengantisipasi hal tersebut, Distan Lebak telah menginstruksikan sejumlah langkah teknis di lapangan, mulai dari pemasangan pompanisasi, perbaikan jaringan irigasi, hingga optimalisasi embung sebagai sumber cadangan air.
“Kami mendorong percepatan tanam di wilayah rawan kekeringan dengan dukungan pompanisasi dan perbaikan irigasi agar kebutuhan air tetap terpenuhi,” ujarnya.
Selain itu, petani juga dianjurkan menggunakan benih varietas padi yang tahan terhadap kondisi kekeringan, seperti Inpari 32, Inpari 42, dan Inpago 8. Varietas tersebut dinilai memiliki daya adaptasi lebih baik pada lahan dengan ketersediaan air terbatas.
Dengan pemilihan varietas yang tepat serta pengaturan waktu tanam yang optimal, Rahmat meyakini produksi padi tetap dapat terjaga meskipun menghadapi kondisi cuaca yang tidak menentu.
“Varietas ini cukup tangguh di lahan kering. Jika dipadukan dengan teknik budidaya yang tepat, maka hasil produksi di sawah tadah hujan masih bisa dipertahankan,” kata dia.
Distan Lebak juga mengaku telah melakukan berbagai langkah antisipatif lainnya, seperti pemetaan wilayah rawan kekeringan, penguatan sistem peringatan dini (early warning system), serta peningkatan pengelolaan sumber daya air di sentra-sentra produksi pertanian.
Upaya tersebut diharapkan mampu meminimalkan dampak kekeringan sekaligus mempercepat realisasi tanam di berbagai wilayah.
Sementara itu, Ketua Kelompok Tani Blok Sentral Rangkasbitung, Ahmad, mengatakan para petani di wilayahnya mulai menggarap lahan untuk mengejar target tanam April.
Menurut dia, kondisi cuaca yang masih diwarnai curah hujan cukup tinggi menjadi peluang bagi petani untuk mempercepat masa tanam.
“Kami sekarang mulai turun ke sawah untuk percepatan tanam. Curah hujan masih cukup, jadi ketersediaan air masih mendukung,” ujar Ahmad.
Ia berharap target tanam di wilayahnya dapat tercapai sesuai rencana. Untuk April ini, kelompok taninya menargetkan luas tanam sekitar 50 hektare.
“Kami optimistis target 50 hektare bisa tercapai bulan ini,” katanya.
Dengan sinergi antara pemerintah daerah, penyuluh, dan petani, percepatan tanam di Kabupaten Lebak diharapkan dapat berjalan optimal, sehingga target produksi pangan tetap terjaga di tengah ancaman perubahan iklim.
Penulis: Noma
Editor: Antoni














