Kesadaran Tauhid dan Pembentukan Karakter Generasi

Jasa Maklon Sabun

www.jurnalkota.co.id

Oleh: Niken Faramida, S.E.
Pendidik di Yogyakarta

Kejahatan jalanan yang melibatkan pelajar, pergaulan bebas, penyalahgunaan narkoba, dan degradasi moral masih menjadi persoalan serius di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Berbagai persoalan tersebut terus dibicarakan karena berkaitan langsung dengan masa depan generasi penerus bangsa.

Beragam program pendidikan telah digulirkan untuk menjawab persoalan itu. Pada 2017, pemerintah menerbitkan Peraturan Presiden Nomor 87 Tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter (PPK).

Program tersebut menempatkan pendidikan karakter sebagai gerakan bersama yang melibatkan sekolah, keluarga, dan masyarakat.

Selain PPK, dikenal pula pendidikan karakter profetik yang bersumber dari sifat-sifat Nabi Muhammad SAW, yakni siddiq atau jujur, amanah atau dapat dipercaya, fatanah atau cerdas, serta tabligh atau menyampaikan kebenaran.

Kini, Pemerintah DIY menghadirkan pendekatan Pendidikan Khas Kejogjaan (PKJ). Program tersebut diharapkan menjadi salah satu langkah strategis untuk memperkuat karakter dan jati diri generasi muda.

Membentuk manusia utama

PKJ diarahkan untuk membentuk Jalma Kang Utama, yaitu manusia unggul yang memiliki kematangan batin, berperilaku luhur, bersikap santun, serta berpegang teguh pada nilai budaya dan kearifan lokal.

Karakter tersebut ditopang oleh tiga filosofi Kejogjaan, yakni Hamemayu Hayuning Bawana, Sangkan Paraning Dumadi, dan Manunggaling Kawula Gusti.

Hamemayu Hayuning Bawana mengandung semangat menjaga keselamatan, keharmonisan, dan kelestarian kehidupan. Sementara itu, Sangkan Paraning Dumadi berkaitan dengan pemahaman mengenai asal-usul dan tujuan kehidupan.

Adapun Manunggaling Kawula Gusti menggambarkan kedekatan manusia sebagai kawula dengan Tuhan sebagai Gusti.

PKJ tidak hanya menyasar pendidikan dasar dan menengah. Program yang diharapkan mampu menjawab problematika generasi saat ini tersebut juga diluncurkan sebagai mata kuliah di perguruan tinggi DIY pada 20 Agustus 2026.

Dalam penerapannya, PKJ bukan sekadar pembelajaran mengenai budaya, melainkan juga instrumen pembentukan karakter dan cara pandang peserta didik.

Upaya tersebut menunjukkan bahwa negara terus mencari pendekatan yang tepat untuk membentuk manusia berkarakter. Mulai dari PPK, pendidikan profetik, hingga PKJ, setiap pendekatan menawarkan nilai dan metode yang berbeda.

Pendidikan karakter tentu dibutuhkan oleh generasi muda. Namun, upaya tersebut memerlukan pendekatan yang menyentuh akar persoalan serta memiliki standar yang kokoh dalam menentukan karakter manusia yang ingin dibentuk.

Tantangan lingkungan kehidupan

Pembentukan karakter generasi tidak akan selesai hanya dengan mengganti model pendidikan. Setelah berbagai program diterapkan, persoalan moral tetap menjadi perhatian serius.

Salah satu penyebabnya adalah ketidaksesuaian antara nilai yang diajarkan di ruang kelas dan kenyataan yang dihadapi peserta didik dalam kehidupan sehari-hari.

Di sekolah, mereka diajarkan untuk bersikap santun, jujur, disiplin, sederhana, dan berbudi luhur. Namun, pada sisi lain, lingkungan kehidupan kerap mendorong gaya hidup materialistis dan hedonistis.

Arus tersebut menjadi tantangan besar ketika mental dan kepribadian generasi muda belum terbentuk secara kokoh. Nilai-nilai yang disampaikan dalam pendidikan pun berisiko berhenti sebagai pengetahuan, bukan menjadi kesadaran yang diwujudkan dalam perilaku.

PKJ mencoba menempatkan budaya sebagai salah satu instrumen pembentukan karakter. Budaya pada dasarnya merupakan produk sejarah masyarakat yang dapat memuat berbagai nilai luhur.

Meski demikian, tidak semua unsur budaya dapat dijadikan sumber utama untuk menentukan standar baik-buruk ataupun benar-salah bagi seorang Muslim. Setiap nilai budaya tetap perlu ditelaah dan diselaraskan dengan akidah serta syariat Islam.

Islam tidak bersikap antipati terhadap budaya. Nilai budaya yang tidak bertentangan dengan ajaran agama dapat digunakan sebagai sarana pendidikan sekaligus memperkuat identitas sosial masyarakat.

Fondasi kesadaran tauhid

Salah satu filosofi yang menopang PKJ adalah Sangkan Paraning Dumadi, yang membicarakan asal-usul dan tujuan kehidupan manusia.

Dalam Islam, pertanyaan mengenai asal-usul, tujuan, dan akhir perjalanan manusia dijawab melalui konsep tauhid. Tauhid mengajak manusia memahami hakikat kehidupannya: dari mana ia berasal, untuk apa ia hidup, dan ke mana ia akan kembali setelah meninggal dunia.

Islam mengajarkan bahwa manusia diciptakan oleh Allah SWT. Kehidupan bukan sekadar proses menjalani rutinitas duniawi, melainkan kesempatan untuk mengabdi kepada-Nya.

Perjalanan manusia juga tidak berakhir ketika kematian tiba. Setiap manusia akan memasuki kehidupan akhirat dan mempertanggungjawabkan seluruh perbuatannya di hadapan Allah SWT.

Pemahaman tersebut bukan hanya filosofi kehidupan, melainkan bagian dari keimanan seorang Muslim. Oleh karena itu, filosofi kebudayaan perlu diperkuat dengan pemahaman tauhid agar mampu membentuk pola pikir dan kesadaran generasi secara lebih kokoh.

Kesadaran tauhid menempatkan Allah SWT bukan hanya sebagai Pencipta, melainkan juga sebagai Zat yang mengatur kehidupan manusia.

Membentuk generasi berbudi luhur tidak cukup dengan memperkenalkan nilai-nilai kebaikan. Generasi muda memerlukan pemahaman mendalam yang menumbuhkan kesadaran mengenai hubungannya sebagai hamba dengan Allah SWT sebagai Sang Khalik.

Kesadaran tersebut dapat menjadi kendali dalam diri. Seseorang akan terdorong memilih perbuatan yang membawa kebaikan bagi sesama dan menghindari tindakan yang merusak, sekalipun tidak sedang diawasi orang lain.

Kolaborasi keluarga, sekolah, dan negara

Kesadaran tauhid perlu ditumbuhkan melalui kerja bersama antara keluarga, sekolah, masyarakat, dan negara.

Di lingkungan keluarga, orangtua dan anak dapat saling mengingatkan serta mendiskusikan perilaku yang patut dilakukan maupun dihindari.

Di sekolah, guru tidak hanya menyampaikan pengetahuan, tetapi juga mendampingi peserta didik untuk berpikir kritis mengenai berbagai perilaku destruktif yang mengancam generasi muda.

Guru juga perlu membimbing peserta didik agar mampu mengenali, memilih, dan menjalankan tindakan konstruktif dalam kehidupan sehari-hari.

Namun, kesadaran yang tumbuh dalam diri peserta didik harus ditopang oleh lingkungan yang membantu mereka berkembang dan konsisten dalam kebaikan.

Masyarakat perlu memiliki keberanian untuk mengajak kepada kebaikan sekaligus mencegah berbagai tindakan yang merusak. Sementara itu, negara harus hadir melalui penegakan hukum yang tegas agar perilaku destruktif tidak semakin meluas.

Sebagai penyelenggara pendidikan, negara juga perlu memberikan ruang bagi penanaman kesadaran tauhid dalam kurikulum, mulai dari pendidikan anak usia dini hingga perguruan tinggi.

Selain itu, pemerintah perlu memperkuat kapasitas tenaga pendidik melalui pelatihan yang memadai. Dengan demikian, guru memiliki ketangguhan, pengetahuan, dan keterampilan untuk menjawab berbagai keresahan generasi berdasarkan kesadaran tauhid.

Pendidikan karakter membutuhkan lebih dari sekadar program dan slogan. Pembentukan karakter harus menyentuh keyakinan, pola pikir, serta lingkungan yang memengaruhi perilaku generasi muda.

Ketika nilai budaya yang baik dipadukan dengan kesadaran tauhid yang kokoh serta didukung keluarga, sekolah, masyarakat, dan negara, pendidikan diharapkan mampu melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berbudi luhur dan bertanggung jawab.

Wallahu a’lam bishawab.

Jasa Maklon Skincare Tangerang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *