Jakarta, Jurnalkota.co.id
Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas I Cipinang mengembangkan pembelajaran berbasis pengalaman melalui Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Warga Mandiri. Warga binaan didorong membagikan pengetahuan yang dimiliki sekaligus melatih kemampuan menjadi tutor bagi sesamanya.
Pendekatan tersebut diwujudkan melalui kegiatan berbagi pengetahuan atau Knowledge Sharing di Lapas Kelas I Cipinang, Jakarta Timur, Senin (12/10/2026). Kegiatan ini menghadirkan seorang warga binaan berinisial ARH yang memiliki pengalaman profesional di industri minyak.
Sebagai pemateri sekaligus calon tutor, ARH membagikan pengetahuan mengenai jenis minyak dan bahan bakar, proses distribusi, hingga pasar serta nilai ekonomi produk industri tersebut. Pengalaman kerjanya menjadi bahan pembelajaran bagi warga binaan yang mengikuti kegiatan.
Diskusi berlangsung interaktif dan berkembang pada pembahasan proses bisnis serta peluang kewirausahaan. Peserta mendapat kesempatan memahami keterkaitan antara produk yang digunakan sehari-hari dengan rangkaian kegiatan ekonomi di baliknya.
Bagi ARH, kesempatan berbagi pengetahuan membuat pengalaman kerjanya tetap dapat memberikan manfaat. Ia merasa kemampuan yang dimiliki masih bisa digunakan untuk membantu orang lain memperoleh wawasan baru selama menjalani pembinaan.
“Saya ingin pengalaman kerja yang pernah saya miliki tetap bisa bermanfaat. Ketika teman-teman tertarik dan mulai bertanya, saya merasa ilmu yang saya punya ternyata masih bisa dibagikan. Saya juga belajar bagaimana menyampaikan pengetahuan agar mudah dipahami,” ungkap ARH.
Melalui kegiatan tersebut, ARH juga belajar menyampaikan materi kepada peserta dengan latar belakang pengetahuan yang berbeda. Penguasaan bidang pekerjaan menjadi bekal awal, sementara kemampuan menjelaskan terus dilatih melalui diskusi.
Proses belajar pun berlangsung dua arah. Peserta memperoleh informasi dari pengalaman pemateri, sedangkan pemateri mendapat kesempatan mengembangkan keterampilan komunikasi melalui pertanyaan dan tanggapan yang muncul selama kegiatan.
Salah seorang peserta berinisial ARS mengatakan, pembelajaran itu membuka wawasannya mengenai bagaimana suatu produk memiliki nilai ekonomi. Ia mulai mengenal hubungan antara proses produksi, distribusi, dan pemasaran dalam industri yang dibahas.
Sebelum mengikuti kegiatan tersebut, ARS mengaku hanya memahami minyak sebagai bahan bakar untuk kebutuhan sehari-hari. Penjelasan dari sesama warga binaan membuatnya tertarik mempelajari proses yang lebih luas di balik pemanfaatan produk tersebut.
“Awalnya saya hanya tahu minyak sebagai bahan bakar yang kita gunakan sehari-hari. Ternyata di baliknya ada proses panjang dan peluang usaha yang menarik untuk dipelajari. Kegiatan seperti ini membuat kami mendapat pengetahuan baru dari pengalaman teman sendiri,” ujarnya.
Pengalaman ARS menunjukkan bagaimana pengetahuan seorang warga binaan dapat menjadi bahan belajar bagi peserta lain. Bidang industri yang sebelumnya belum dipahami diperkenalkan melalui pengalaman kerja seseorang yang pernah berkecimpung di dalamnya.
Pembahasan mengenai peluang kewirausahaan juga menjadi bagian dari diskusi. Materi tersebut memperluas pengenalan peserta terhadap proses bisnis, sejalan dengan pembicaraan mengenai pasar dan nilai ekonomi produk industri minyak.
Kepala Seksi Bimbingan Kemasyarakatan Lapas Kelas I Cipinang, Yudha Ageng CH, menjelaskan bahwa Knowledge Sharing merupakan agenda rutin setiap Senin. Kegiatan ini ditujukan untuk memperkuat kapasitas calon tutor sekaligus memetakan potensi warga binaan.
Menurut Ageng, Kepala Lapas Kelas I Cipinang Syarpani mendorong pemberian ruang bagi setiap warga binaan untuk mengembangkan kemampuan. Pengalaman dan pengetahuan yang mereka miliki dapat menjadi bagian dari pembelajaran bersama.
“Bapak Kalapas, Syarpani, terus mendorong agar setiap Warga Binaan mendapat ruang untuk mengembangkan potensinya,” kata Ageng.
Ia menjelaskan, kegiatan rutin tersebut digunakan untuk melatih calon tutor berbagi pengetahuan, membangun kepercayaan diri, dan mengembangkan kemampuan mengajar. Warga binaan mendapat kesempatan mengambil peran dalam proses pendidikan bagi sesamanya.
“Jadi, mereka tidak hanya belajar, tetapi juga belajar menjadi pendidik bagi sesamanya,” ujar Ageng.
Melalui pendekatan pembelajaran antarsesama atau peer learning, PKBM Warga Mandiri menghubungkan pengalaman profesional dengan keterampilan komunikasi. Materi yang dibagikan bersumber dari kemampuan warga binaan dan dibahas melalui interaksi bersama peserta.
Pemetaan potensi menjadi bagian penting dalam kegiatan tersebut. Kesempatan menyampaikan materi memberi ruang bagi warga binaan untuk memperlihatkan pengetahuan yang dikuasai sekaligus melatih cara membagikannya kepada orang lain.
Dalam konteks penguatan calon tutor, kegiatan ini mempertemukan penguasaan materi dengan latihan mengajar. Pengalaman kerja menjadi sumber pembahasan, sedangkan diskusi menjadi kesempatan untuk belajar menyampaikan penjelasan yang mudah dipahami peserta.
PKBM Warga Mandiri pun dikembangkan sebagai ruang pendidikan sekaligus pemberdayaan. Warga binaan dapat berkontribusi dalam pembelajaran sesuai pengalaman yang dimiliki, sembari mengembangkan kemampuan diri selama mengikuti proses pembinaan di lapas.
Bagi pemateri maupun peserta, kegiatan berbagi ilmu menyediakan kesempatan untuk terus belajar. Pengalaman ARH di industri minyak menjadi contoh bagaimana pengetahuan profesional dapat dibagikan dan dimanfaatkan dalam lingkungan pendidikan antarsesama warga binaan.
Melalui kegiatan tersebut, Lapas Cipinang mendorong tumbuhnya budaya berbagi pengetahuan. Pengalaman warga binaan menjadi sumber pembelajaran bersama, sekaligus ruang untuk membangun kepercayaan diri dan mengembangkan kemampuan sebagai calon tutor di PKBM Warga Mandiri.









