Lis Darmansyah: Penanganan Malaria di Tanjungpinang Tak Bisa Hanya Andalkan Pemerintah

Jasa Maklon Sabun

Tanjungpinang, Jurnalkota.co.id

Wali Kota Tanjungpinang Lis Darmansyah menegaskan bahwa upaya pengendalian malaria di Kota Tanjungpinang tidak dapat dilakukan hanya melalui sosialisasi maupun intervensi pemerintah semata. Menurut dia, keterlibatan aktif masyarakat menjadi faktor penting untuk menekan penyebaran penyakit yang masih ditemukan di sejumlah wilayah tersebut.

Pernyataan itu disampaikan Lis Darmansyah saat bersilaturahmi dengan warga Tanjung Sebauk dan Senggarang, Kelurahan Senggarang, Kecamatan Tanjungpinang Kota, Selasa (23/6/2026) malam.

Dalam pertemuan tersebut, Lis Darmansyah mengingatkan bahwa beberapa kawasan masih berada pada tingkat kerawanan tinggi terhadap penyebaran malaria. Karena itu, diperlukan langkah bersama antara pemerintah dan masyarakat agar kasus tidak terus bertambah.

“Penanganan malaria tidak bisa hanya dengan imbauan, tetapi harus mengajak masyarakat bergerak bersama. Ini menjadi tugas kita semua,” kata Lis Darmansyah.

Menurut Lis Darmansyah, pemerintah daerah akan terus memberikan dukungan melalui berbagai program pencegahan dan penanganan. Namun, keberhasilan pengendalian malaria sangat bergantung pada kesadaran warga dalam menjaga kebersihan lingkungan dan menerapkan langkah-langkah pencegahan secara mandiri.

Lis Darmansyah mengatakan kehadiran pemerintah di tengah masyarakat bertujuan memperkuat komunikasi sekaligus memberikan edukasi secara langsung terkait bahaya malaria dan cara pencegahannya. Selain sosialisasi, pemerintah juga membagikan brosur edukasi kepada warga.

“Setiap warga perlu melakukan tindakan preventif untuk dirinya masing-masing. Ini bukan hanya tugas pemerintah, tetapi tanggung jawab bersama,” ujarnya.

Sementara itu, Lurah Senggarang Edi Susanto mengungkapkan bahwa hingga saat ini terdapat enam titik penyebaran malaria di wilayahnya dengan tingkat kasus yang berbeda-beda.

Berdasarkan data yang dihimpun, Tanjung Sebauk Darat menjadi wilayah dengan jumlah kasus tertinggi. Dari 122 kepala keluarga (KK) yang tinggal di kawasan tersebut, sebanyak 109 KK tercatat terdampak malaria.

Selain itu, Kampung Bebek mencatat 15 KK terpapar, Senggarang Darat 17 KK, Senggarang Besar 16 KK, serta Tanjung Sebauk Laut sebanyak 88 KK.

Meski demikian, Edi menyebut sejumlah wilayah mulai menunjukkan perkembangan positif setelah berbagai intervensi dilakukan.

“Beberapa wilayah seperti Tanjung Sebauk Darat, Kampung Bebek, dan Senggarang Darat sudah mulai aman. Namun, Senggarang Besar dan Tanjung Sebauk Laut masih belum landai,” katanya.

Ia menjelaskan pemerintah bersama Dinas Kesehatan, Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan, relawan, serta perangkat RT dan RW terus melakukan berbagai langkah pengendalian. Salah satunya melalui penaburan bahan pengendali jentik di sejumlah genangan air, terutama bekas tambang yang berpotensi menjadi habitat nyamuk penyebab malaria.

Di sisi lain, Kepala Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DKP2KB) Kota Tanjungpinang Rustam mengungkapkan jumlah kasus malaria yang tercatat di Tanjungpinang hingga saat ini mencapai 518 kasus.

Menurut Rustam, strategi penanganan yang dilakukan tidak hanya menunggu laporan masyarakat atau pasien datang ke fasilitas kesehatan, tetapi juga melalui penemuan kasus secara aktif di lapangan.

“Petugas kami melakukan survei demam, penemuan kasus, sekaligus edukasi kepada masyarakat agar segera berobat jika mengalami gejala demam dan mengikuti pengobatan sampai tuntas,” ujar Rustam.

Ia menjelaskan pengobatan malaria membutuhkan kedisiplinan tinggi karena berlangsung selama sekitar 14 hari. Apabila pengobatan tidak diselesaikan sesuai anjuran tenaga kesehatan, maka risiko penularan maupun kemunculan kembali kasus akan semakin besar.

Selain pengobatan, pemerintah juga terus memperkuat upaya pencegahan dengan mendorong kebersihan lingkungan dan melakukan intervensi di lokasi yang berpotensi menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk, khususnya kawasan rawa dan genangan air.

“Kami juga melakukan fogging dua siklus untuk membunuh nyamuk dewasa,” katanya.

Berdasarkan hasil pemantauan terbaru, sejumlah wilayah seperti Sebauk Darat dan Kampung Bebek menunjukkan tren penurunan kasus yang cukup baik. Namun, Sebauk Laut dan Senggarang Besar masih menjadi perhatian karena angka kasusnya relatif tinggi.

Rustam mengingatkan bahwa daerah yang sudah mengalami penurunan kasus tetap harus waspada. Menurut dia, kasus malaria dapat kembali muncul apabila pengobatan pasien tidak tuntas dan kebersihan lingkungan mulai diabaikan.

Saat ini, pemerintah mencatat sedikitnya 58 titik rawa kecil yang menjadi fokus pengendalian karena berpotensi menjadi tempat perindukan nyamuk penyebab malaria. Pemerintah berharap keterlibatan aktif masyarakat dapat mempercepat upaya pengendalian sehingga penyebaran malaria di Tanjungpinang dapat ditekan secara berkelanjutan.

 

Jasa Maklon Skincare Tangerang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *