Oleh: Deny Setyoko Wati, S.H
Aktivis Muslimah DIY
Program moderasi beragama makin gencar diaruskan. Terlebih di momentum Ramadhan tahun ini. Seperti dalam agenda Ramadhan Public Lecture, yang mengangkat tema “Meneguhkan Kembali Komitmen Negara terhadap Kebebasan Beragama” di Masjid Kampus UGM. Dalam acara tersebut, Kepala Kantor Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) DIY, Dr. Ahmad Bahiej, S.H., M.Hum menyampaikan kebebasan beragama adalah sunatullah.
Prinsip itu diimplementasikan melalui Peraturan Presiden Nomor 58 Tahun 2023 tentang Penguatam Moderasi Beragama. Ia menyebutkan, esensi moderasi beragama bukanlah upaya memoderasi ajaran agama itu sendiri, tetapi membangun kesadaran umat beragama untuk bersikap proporsional dalam menghadapi perbedaan.
“Moderasi beragama bukanlah reduksi terhadap nilai-nilai agama, melainkan upaya menempatkan umat pada jalan tengah. Tujuannya agar masyarakat tidak terjebak dalam sikap ekstrem kanan maupun kiri, tetapi mampu menjadi penyeimbang yang menghormati keragaman dalam bingkai kebhinnekaan.
Agenda lainnya yang juga mengangkat moderasi beragama adalah Safari Syiar Ramadhan yang dipandu oleh Kakankemenag kota Yogyakarta. Agenda tersebut merupakan tindak lanjut dari kerjasama antara Kementerian Agama RI dengan Universitas Al Azhar Kairo. Dimana adanya kegiatan tersebut diharapkan dapat mempererat hubungan ulama Al Azhar dengan masyarakat Yogyakarta dalam rangka menyebarkan dakwah Islam yang moderat dan inklusif. (diy.kemenag.go.id,09/03/2025)
Ramadhan, memang bulan yang istimewa dibandingkan bulan-bulan yang lainnya. Sebab didalamnya, terdapat perintah bagi kaum mukmin untuk menjalankan ibadah puasa sebulan penuh. Dimana perintah berpuasa tersebut, untuk menghantarkan setiap mukmin agar menjadi bertakwa.
Imam Ibnu al-‘Arabi dalam kitab Ahkam al-Quran menjelaskan frasa la’allakum tattaqun (agar kalian bertakwa) dengan tiga penjelasan. Pertama, mukmin yang mencapai derajat takwa akan terbentuk sikap dalam dirinya untuk selalu menjauhi perbuatan dan perkataan yang Allah haramkan. Kedua, ibadah puasa bukanlah untuk melemahkan fisik melainkan melemahkan syahwat yang mengajak manusia pada kejahatan. Apabila syahwat lemah, niscaya kecenderungan takwa akan menguat. Jika ketakwaan menguat seorang mukmin akan akan terdorong untuk berbuat ihsan, beribadah kepada Rabb penuh dengan keikhlasan, mencintai hukum-hukum Islam dan bersemangat menjalankan semua perintah Allah dan RasulNya.
Ketiga, mukmin yang bertakwa sebagai buah dari puasa Ramadhan, juga akan menjauhkan dirinya dari perbuatan meniru perilaku kaum kafir. Puasa adalah sarana untuk membentuk loyalitas hanya kepada Allah, RasulNya dan kaum mukmin.
Sehingga, adanya bulan Ramadhan ini sejatinya untuk membentuk insan yang taat dan bertakwa. Namun, apakah program moderasi beragama mampu membentuk insan yang bertakwa? Untuk menjawabnya perlu kita ketahui dulu perihal moderasi beragama itu.
Pada tahun 2004, Daniel Pipes selaku pendiri Middle East Forum yang juga dikenal dengan aktor dibalik gerakan islamofobia, menulis artikel berjudul, “RAND Corporation dan Fixing Islam”. Dalam tulisannya itu, Pipes mengaku harapannya untuk memodifikasi Islam telah berhasil diterjemahkan menjadi sebuah strategi oleh Cheryl Benard, seorang peneliti RAND Corporation. Bernard menyebut, misi ini dengan istilah “religius building” yaitu usaha untuk membangun agama Islam alternatif. Ia juga pernah memiliki ide untuk membuat agama Islam menjadi agama pasif dan tunduk terhadap pemerintahan AS. Ia menjelaskan konsepnya itu dalam buku “Civil Democratic Islam: Partners, Resources, and Strategies”.
Mereka berusaha mengubah Islam karena ajaran Islam yang murni tidak akan mengizinkan non muslim mengendalikan umat Islam. Mereka pun membuat rencana untuk memasukkan konsep Barat ke dalam ajaran Islam seperti demokrasi, HAM, gender dan sebagainya. Karena dengan hal itu, mmereka akan bisa menguasai dan mengendalikan pemikiran kaum muslim.
Lalu, agar Islam ala RAND tersebut diterima oleh kaum muslim diseluruh dunia, RAND Corporation menyatakan bahwa tangan Amerika Serikat harus disembunyikan. Sebab, mereka juga menyadari jika Islam ala RAND ini terlihat jelas dijalankan oleh AS, maka akan mendapat penolakan keras dari kaum muslim. Oleh karena itu, mereka menetapkan memilih boneka-boneka dari kalangan muslim sendiri untuk menjalankan misi mereka. Kemudian, disusunlah strategi untuk mewujudkan rancangan tersebut yang terpapar jelas dalam buku “Building Moderate Muslim Network”.
Bagi mereka, patner ideal untuk menjalankan misi menyebarkan islam versi baru ini adalah muslim “dari dalam” komunitas umat Islam sendiri, yang sebenarnya bekerja untuk kepentingan Amerika. Mereka lalu merekrut tokoh-tokoh muslim yang berkeinginan memodernkan dan mereformasi Islam sesuai zaman sebagai pengemban ide. Ide ini lantas disebut sebagai “Islam moderat”.
Dalam perjalanannya, Islam moderat ini mendapatkan penentangan dari sebagian kaum muslim yang bisa mengindera strategi licik AS. Lantas, program ini dibuat umum seolah program negara untuk seluruh umat beragama, dengan nama “Moderasi Beragama”.
Berdasarkan hal diatas tampak jelas bahwa moderasi beragama adalah Islam versi baru standar Barat (AS). Ini menunjukkan bahwa moderasi beragama tidak berasal dari hukum-hukum Islam. Lantas, apakah mungkin sesuatu yang bukan berasal dari Islam, akan menjadikan pemeluknya semakin taat dan bertakwa? (Rel)














