www. Jurnalkota.co.id
Oleh: Muzaidah
Aktivis Dakwah Muslimah
Beberapa pekan terakhir, warga Medan dan sekitarnya dikejutkan dengan suhu udara yang sangat panas. Bahkan malam hari pun terasa gerah dan tidak nyaman. Banyak orang bertanya-tanya, apakah ini hanya fenomena alam biasa? Atau sebenarnya ada hal lain yang memperburuk cuaca panas ini? Suhu yang ekstrem seharusnya menjadi peringatan bagi kita semua, bahwa ada yang tidak beres dalam cara kita mengelola lingkungan dan kota.
Menurut data BMKG, suhu udara maksimum di Medan pada 2 Juni 2025 mencapai 38,2°C, dan ini termasuk salah satu suhu tertinggi di tahun ini. BMKG menjelaskan bahwa suhu tinggi ini disebabkan oleh cuaca cerah tanpa awan, sehingga sinar matahari langsung menyinari permukaan bumi (Kompas.com, 3/6/2025).
Suhu panas juga dirasakan malam hari. Pada 29 Mei 2025, suhu di malam hari mencapai 37,8°C, membuat banyak warga mengeluh karena tidak bisa tidur nyenyak (Detik.com, 29/5/ 2025).
Selain itu, suhu rata-rata di Medan beberapa hari terakhir bertahan di angka 36–37°C. BMKG menyebutkan bahwa ini masih masuk kategori wajar untuk musim kemarau, namun tidak menutup kemungkinan adanya pengaruh dari aktivitas manusia yang memperparah suhu udara (Detik.com, 1/6/2025).
Suhu panas memang bisa terjadi secara alami, terutama saat musim kemarau. Pada periode Mei hingga Agustus, curah hujan menurun dan matahari bersinar lebih terik. Tetapi jika suhu sudah menyentuh angka ekstrem, bahkan terasa panas di malam hari, maka ini bukan sekadar fenomena alam biasa.
Akar dari masalah ini sebenarnya bukan hanya karena musim kemarau. Kota Medan dalam beberapa tahun terakhir mengalami pembangunan yang sangat pesat. Banyak hutan kota dan lahan terbuka diubah menjadi kawasan industri, perumahan, dan pusat perbelanjaan. Hal ini menghilangkan ruang hijau yang selama ini berfungsi menyerap panas dan menjaga suhu udara tetap stabil.
Penyebab lain adalah banyaknya pohon yang ditebang tanpa kontrol yang ketat. Bahkan, proyek-proyek besar seperti perumahan subsidi dan tempat rekreasi sering kali berdiri di atas lahan yang seharusnya dilestarikan. Alih-alih menjaga lingkungan, justru semakin mempersempit ruang udara alami. Hal ini menyebabkan kota menjadi padat dan suhu udara meningkat karena tidak ada lagi penyejuk alami dari pepohonan.
Polusi dari kendaraan bermotor dan pabrik juga menjadi faktor besar. Semakin banyak kendaraan dan aktivitas industri, semakin banyak pula gas buang yang menumpuk di udara. Gas-gas ini menyerap panas dan membuat udara semakin tidak sehat. Ironisnya, semua ini dianggap sebagai tanda kemajuan, padahal secara perlahan menghancurkan lingkungan dan merusak kenyamanan hidup masyarakat.
Semua kerusakan ini tak lepas dari sistem ekonomi yang kita anut hari ini, yaitu sistem kapitalis. Dalam sistem ini, pembangunan diarahkan hanya untuk mencari keuntungan. Siapa yang punya uang, bisa membangun apa saja, di mana saja, tanpa mempertimbangkan dampak jangka panjangnya. Negara lebih berpihak pada investor dan pemilik modal daripada melindungi masyarakat dan alam.
Kapitalisme telah menjadikan kota seperti Medan sebagai ladang bisnis, bukan tempat hidup manusia yang nyaman. Orientasi pembangunan hanya pada fisik—bukan keberlanjutan lingkungan. Maka tak heran jika pembangunan jalan, gedung, dan perumahan lebih diprioritaskan dibanding perlindungan hutan dan tata kota yang ramah lingkungan. Semua demi uang, meski rakyat jadi korban dan alam semakin rusak.
Berbeda dengan kapitalisme, Islam mengajarkan bahwa bumi ini adalah amanah dari Allah Swt yang harus dijaga dan dimanfaatkan dengan bijak. Manusia bukan penguasa mutlak atas alam, tapi khalifah yang bertugas memakmurkannya tanpa merusaknya. Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman: “Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi setelah (Allah) memperbaikinya” (TQS Al-A’raf: 56).
Islam memiliki panduan lengkap dalam pembangunan dan tata ruang kota. Dalam sejarahnya, Rasulullah saw. menata Kota Madinah dengan seimbang antara pemukiman, masjid, pasar, dan ruang terbuka. Tidak ada pembangunan yang semrawut, apalagi merugikan rakyat kecil atau merusak alam. Semua dibangun berdasarkan syariat, bukan kepentingan pemilik modal.
Negara dalam sistem Islam juga memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga lingkungan. Pemerintah Islam akan menetapkan kebijakan pembangunan berdasarkan maslahat umum, bukan kepentingan segelintir orang. Ruang hijau dijaga, pembangunan dikontrol, dan aktivitas industri dipantau agar tidak merusak alam atau mencemari udara.
Solusi dari persoalan ini tidak cukup hanya dengan kampanye tanam pohon atau hemat energi. Yang dibutuhkan adalah perubahan sistemik—menggantikan sistem kapitalis dengan sistem Islam. Dalam sistem Islam, pembangunan bukan hanya soal untung, tapi juga keberkahan dan kebermanfaatan jangka panjang.
Islam mewajibkan perencanaan kota yang adil dan terarah. Negara akan memastikan bahwa setiap pembangunan memperhatikan kelestarian alam, kenyamanan masyarakat, dan ketentuan syariat. Tidak ada penebangan pohon sembarangan, tidak ada izin proyek yang merusak, dan tidak ada ruang bagi keserakahan segelintir orang.
Dengan diterapkannya Islam secara kaffah (menyeluruh), akan lahir tata kota yang seimbang dan sehat. Umat bisa hidup nyaman, alam tetap lestari, dan pembangunan berjalan tanpa merusak. Semua ini bukan mimpi, tapi bisa jadi nyata jika sistem Islam diterapkan sebagai sistem kehidupan.
Panas ekstrem yang terjadi di Medan bukan sekadar fenomena alam. Ini adalah akibat dari cara kita memperlakukan bumi, dan sistem pembangunan yang hanya mementingkan keuntungan. Islam memiliki solusi yang menyeluruh untuk menjaga keseimbangan antara pembangunan dan kelestarian lingkungan. Maka sudah saatnya kita berbenah dan kembali kepada aturan Allah, karena hanya dengan Islam, bumi dan manusia bisa hidup dengan aman dan nyaman.
Wallahualam bissawab.**













