Jakarta, Jurnalkota.co.id
Pemerintah Kota (Pemkot) Administrasi Jakarta Barat terus memperkuat upaya menjaga kerukunan dan persatuan di tengah keberagaman masyarakat melalui Dialog Peningkatan Kerukunan Umat Beragama Tahun 2026 yang digelar di Ruang Ali Sadikin, Kantor Wali Kota Jakarta Barat, Selasa (23/6/2026).
Kegiatan yang diselenggarakan Suku Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Suban Kesbangpol) Jakarta Barat itu menghadirkan sekitar 80 peserta dari berbagai organisasi keagamaan, kepemudaan, dan kemasyarakatan. Forum tersebut menjadi ruang dialog sekaligus sarana memperkuat kolaborasi dalam menjaga toleransi dan keharmonisan sosial di wilayah Jakarta Barat.
Peserta yang hadir berasal dari berbagai unsur, di antaranya Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), Dewan Kemakmuran dan Pengurus Rumah Ibadah (DKP RMI), Fatayat Nahdlatul Ulama (NU), Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII), Pemuda Katolik, Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI), Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI), hingga Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI).
Mewakili Wali Kota Jakarta Barat, Sekretaris Kota Jakarta Barat Firmanudin Ibrahim menegaskan bahwa kerukunan antarumat beragama merupakan modal sosial yang sangat penting dalam mendukung pembangunan daerah serta menjaga stabilitas wilayah.
Menurut dia, keberagaman yang dimiliki masyarakat Jakarta Barat harus dipandang sebagai kekuatan dan aset bersama yang perlu dirawat melalui sikap saling menghormati, toleransi, serta komunikasi yang terbuka antarwarga.
“Kerukunan adalah modal sosial yang sangat berharga. Dengan terciptanya rasa aman dan saling menghargai, masyarakat dapat menjalankan aktivitas serta ibadah dengan tenang sehingga stabilitas wilayah tetap terjaga,” kata Firmanudin.
Ia mengatakan, Jakarta Barat sebagai salah satu wilayah dengan tingkat keberagaman yang tinggi membutuhkan partisipasi aktif seluruh elemen masyarakat untuk menjaga suasana yang harmonis dan kondusif.
Menurut Firmanudin, tantangan kehidupan sosial saat ini semakin kompleks. Selain dipengaruhi dinamika lokal, berbagai perkembangan global dan kondisi ekonomi juga berpotensi memengaruhi hubungan sosial di tengah masyarakat.
Karena itu, organisasi keagamaan dan organisasi kemasyarakatan memiliki peran strategis dalam memperkuat persatuan sekaligus menjadi mitra pemerintah dalam menyelesaikan berbagai persoalan sosial yang muncul di masyarakat.
“Peran tokoh agama dan organisasi kemasyarakatan sangat penting untuk menjaga persatuan serta memberikan edukasi kepada masyarakat agar selalu mengedepankan sikap toleran dan saling menghormati,” ujarnya.
Firmanudin juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjadikan dialog sebagai sarana utama dalam menyelesaikan berbagai persoalan maupun perbedaan pandangan yang muncul di tengah kehidupan bermasyarakat.
Menurut dia, komunikasi yang baik dan musyawarah menjadi kunci dalam mencegah munculnya konflik yang dapat mengganggu keharmonisan sosial.
“Apabila terdapat persoalan atau perbedaan pandangan, penyelesaiannya harus dilakukan secara bijak melalui komunikasi dan musyawarah sehingga tidak berkembang menjadi konflik yang dapat mengganggu keharmonisan masyarakat,” katanya.
Selain penyampaian materi, kegiatan tersebut juga diisi dengan sesi dialog interaktif yang memberikan kesempatan kepada peserta untuk menyampaikan pandangan, pengalaman, maupun masukan terkait upaya menjaga kerukunan di lingkungan masing-masing.
Dialog menghadirkan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jakarta Barat KH Abdurrahman Shoheh serta perwakilan Direktorat Jenderal Politik dan Pemerintahan Umum (Ditjen Polpum) Kementerian Dalam Negeri sebagai narasumber.
Dalam sesi tersebut, para peserta diajak memperkuat pemahaman mengenai pentingnya menjaga toleransi, menghormati perbedaan, serta membangun sinergi antarumat beragama sebagai bagian dari upaya menjaga persatuan bangsa.
Forum itu juga menjadi wadah untuk memperkuat jejaring komunikasi antara pemerintah, tokoh agama, organisasi kemasyarakatan, dan kelompok kepemudaan agar mampu merespons berbagai persoalan sosial secara cepat dan tepat.
Melalui kegiatan ini, Pemerintah Kota Jakarta Barat berharap semangat toleransi dan kebersamaan dapat terus tumbuh di tengah masyarakat. Kolaborasi yang kuat antara pemerintah dan seluruh elemen masyarakat dinilai menjadi kunci dalam menjaga keamanan, ketertiban, serta keharmonisan kehidupan sosial di wilayah Jakarta Barat.
Dengan terpeliharanya kerukunan antarumat beragama dan antarkelompok masyarakat, Jakarta Barat diharapkan dapat terus menjadi wilayah yang aman, damai, inklusif, dan nyaman bagi seluruh warganya tanpa memandang latar belakang agama, suku, maupun budaya.
Penulis: Awal
Editor: Antoni














