Lebak, Jurnalkota.co.id
Di tengah tekanan ekonomi keluarga, sejumlah perempuan di Kabupaten Lebak, Banten, memilih bertahan dengan cara berjualan kue keliling dari kampung ke kampung. Dengan berjalan kaki hingga beberapa kilometer setiap hari, mereka berupaya memenuhi kebutuhan pangan keluarga sekaligus membiayai pendidikan anak.
Suhayah (35), misalnya. Warga Kampung Borondong, Kecamatan Cibadak, ini harus mengambil peran sebagai tulang punggung keluarga setelah suaminya menganggur sebagai buruh bangunan selama dua pekan terakhir.
“Kita bekerja keras berjualan keliling untuk kebutuhan makan dan biaya anak sekolah, terlebih suami sedang tidak bekerja,” kata Suhayah saat ditemui, Minggu (19/4/2026).
Setiap hari, Suhayah memulai aktivitasnya sekitar pukul 10.00 WIB. Dengan membawa aneka kue dagangannya, ia berjalan kaki menyusuri perkampungan sejauh kurang lebih tiga kilometer. Panas terik musim kemarau bukan halangan baginya untuk tetap berjualan hingga sekitar pukul 14.00 WIB.
Kue-kue yang dijual merupakan hasil produksi sendiri di rumah, seperti gegeplak, bawan, risol, hingga gandasuri kacang hijau. Meski sederhana, usaha tersebut terbukti mampu menopang kebutuhan keluarga.
“Alhamdulillah, dari berjualan ini kami tidak kekurangan pangan. Bahkan bisa membantu biaya sekolah anak,” ujarnya.
Dari modal produksi sekitar Rp200.000 per hari, Suhayah mampu meraup keuntungan sekitar Rp75.000. Penghasilan itu cukup untuk memenuhi kebutuhan harian keluarga, termasuk biaya pendidikan anak-anaknya.
Anak pertamanya bahkan telah lulus sekolah menengah atas (SLTA) dan kini bekerja di sebuah SPBU, sementara anak keduanya masih menempuh pendidikan di bangku SMP.
Kisah serupa juga dialami Murni (40), pedagang kue keliling asal Rangkasbitung. Ia mengaku telah menjalani usaha tersebut selama tujuh tahun untuk membantu perekonomian keluarga, mengingat suaminya hanya bekerja sebagai pesuruh sekolah dengan penghasilan terbatas.
“Keuntungan bersih bisa Rp60.000 sampai Rp80.000 per hari. Itu sudah cukup untuk kebutuhan pokok dan biaya sekolah anak,” kata Murni.
Dalam kesehariannya, Murni mulai berjualan sejak pukul 09.00 WIB dan baru kembali ke rumah sekitar pukul 16.30 WIB. Ia menempuh jarak hingga empat kilometer dengan berjalan kaki untuk menjajakan kue tradisional ke berbagai sudut permukiman warga.
Menurut Murni, pekerjaan tersebut memang melelahkan, namun menjadi pilihan realistis untuk mempertahankan ekonomi keluarga di tengah keterbatasan.
“Capek pasti, tapi ini yang bisa kami lakukan agar keluarga tetap bertahan,” ujarnya.
Fenomena perempuan yang menjadi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Kabupaten Lebak memang cukup dominan. Berdasarkan data Dinas Koperasi dan UKM setempat, terdapat sekitar 175.000 unit usaha, dengan sebagian besar pelakunya adalah perempuan.
Mereka bergerak di berbagai sektor, mulai dari pedagang kue keliling, penjual sayuran, aneka makanan, lotek pecel, nasi uduk, hingga usaha rumah makan.
Kepala Bidang UMKM Dinas Koperasi dan UKM Kabupaten Lebak, Juli Zakiah, mengatakan pemerintah daerah terus mendorong penguatan peran perempuan dalam sektor UMKM melalui berbagai program pembinaan dan pendampingan.
“Kami mengapresiasi kerja keras kaum perempuan yang mampu meningkatkan kesejahteraan keluarga melalui usaha kecil seperti berjualan keliling. Ini juga berkontribusi dalam mengurangi angka kemiskinan,” kata Juli.
Menurutnya, peran perempuan dalam sektor informal tidak hanya membantu ekonomi rumah tangga, tetapi juga menjadi pilar penting dalam menjaga ketahanan ekonomi daerah, terutama di tingkat akar rumput.
Di tengah berbagai keterbatasan, para pedagang kue keliling ini membuktikan bahwa ketekunan dan kerja keras dapat menjadi jalan untuk bertahan, bahkan mengangkat kesejahteraan keluarga secara perlahan.
Penulis: Noma
Editor: Antoni








