Peserta Kemah Budaya Wartawan Optimistis Saba Budaya Badui Mendunia

Jasa Maklon Sabun

Lebak, Jurnalkota.co.id

Peserta Kemah Budaya Wartawan dalam rangkaian peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2026 optimistis budaya dan kearifan lokal masyarakat Badui di pedalaman Kabupaten Lebak, Banten, dapat dikenal dunia serta memberi dampak positif bagi perekonomian masyarakat adat setempat.

Salah satu peserta Kemah Budaya Wartawan dari PWI Sumatera Selatan, Mella, menilai masyarakat Suku Badui memiliki kekuatan budaya yang unik dan berpotensi menjadi rujukan dunia dalam pelestarian alam dan adat istiadat.

“Kami melihat masyarakat Suku Badui memiliki kekayaan budaya luar biasa. Pelestarian alam dan adat istiadat yang masih dijaga hingga kini menjadi kekuatan yang bisa dikenal dunia,” kata Mella di Lebak, Jumat (23/1/2026).

Kemah Budaya Wartawan merupakan bagian dari rangkaian kegiatan HPN 2026 yang bertujuan mengenalkan kehidupan masyarakat adat Badui secara langsung kepada insan pers dari berbagai daerah.

Kehidupan masyarakat Badui dinilai menarik dan unik karena hingga kini tetap memegang teguh adat istiadat leluhur serta menjaga nilai-nilai kearifan lokal dalam tatanan kehidupan sosial.

Di kawasan permukiman Badui, tidak ditemukan infrastruktur modern seperti jalan beraspal, penerangan listrik, fasilitas pendidikan dan kesehatan, maupun perabotan elektronik. Pola hidup sederhana juga tercermin dari rumah-rumah panggung yang terbuat dari bambu, kayu, dan beratapkan rumbia.

Dalam menopang kehidupan ekonomi, masyarakat Badui mengandalkan hasil bercocok tanam ladang serta produksi kerajinan, seperti kain tenun dan berbagai aksesori tradisional.

“Melalui kegiatan Kemah Budaya Wartawan ini, kami berharap masyarakat Badui semakin dikenal dunia karena konsistensi mereka dalam menjaga kearifan lokal,” ujar Mella.

Pandangan serupa disampaikan peserta Kemah Budaya Wartawan dari PWI Jakarta, Erna Winarsih. Menurut dia, masyarakat Badui memiliki solidaritas tinggi dalam menjaga keseimbangan alam sekaligus mengelola hasil pertanian ladang dan kerajinan tenun.

Erna menilai pemerintah daerah perlu mendorong peningkatan mutu dan kualitas produk kerajinan Badui, disertai dukungan promosi yang berkelanjutan.

“Peran media sangat penting untuk mempublikasikan kegiatan ekonomi masyarakat Badui agar dikenal lebih luas. Selain itu, pelaku usaha dan lembaga seperti asosiasi UMKM maupun Kamar Dagang dan Industri (Kadin) dapat ikut berperan,” katanya.

Ia menambahkan, kain tenun Badui bahkan telah digunakan dalam rancangan busana yang dipasarkan hingga luar daerah, sehingga berpotensi menembus pasar global.

“Kami meyakini produk tenun Badui bisa mendunia jika promosi dan pendampingannya dimaksimalkan,” ujarnya.

Sementara itu, tetua adat Badui sekaligus Kepala Desa Kanekes, Jaro Oom, mengatakan masyarakat adat Badui pada dasarnya sudah dikenal hingga mancanegara. Namun, ia menegaskan istilah yang lebih tepat adalah saba budaya, bukan destinasi wisata.

Menurut Jaro Oom, keterbatasan sarana dan prasarana di wilayah adat, seperti akses jalan, listrik, layanan kesehatan, dan pendidikan, membuat kawasan Badui tidak tepat disebut sebagai destinasi wisata.

“Kami berharap warga dari luar daerah datang dengan niat saba budaya. Kami tidak menganjurkan menyebutnya sebagai destinasi wisata,” kata Jaro Oom.

 

Penulis: Noma
Editor: Antoni

Jasa Maklon Skincare Tangerang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *