Lebak, Jurnalkota.co.id
Sebanyak 100 siswa Sekolah Rakyat 36 Kabupaten Lebak, Banten, resmi memulai Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di Gedung Balai Latihan Kerja (BLK) milik pemerintah daerah, Rabu (1/10/2025). Dari jumlah tersebut, 25 siswa merupakan jenjang sekolah dasar (SD) dan 75 siswa jenjang sekolah menengah pertama (SMP).
Kepala Sekolah Rakyat 36 Lebak, Tuti Sugiarti, mengatakan seluruh siswa kini tinggal di asrama BLK dan sedang mengikuti rangkaian MPLS yang berlangsung selama dua pekan. Setelah itu, kegiatan dilanjutkan dengan masa matrikulasi sebelum memasuki proses belajar formal.
“Kami berharap kegiatan belajar mengajar di Sekolah Rakyat dapat berjalan lancar dan melahirkan siswa berprestasi di bidang akademik,” ujar Tuti.
Menurutnya, Sekolah Rakyat yang diinisiasi Presiden Prabowo Subianto dirancang untuk menghadirkan pendidikan berkualitas, inklusif, dan berkelanjutan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu. Para guru, wali asuh, dan wali asrama bekerja keras agar siswa mendapat pendampingan maksimal, mulai dari seleksi kesehatan, pemetaan bakat dan minat melalui Talent DNA ESQ, hingga dukungan psikologis bila ditemukan hambatan belajar.
Kurikulum Sekolah Rakyat dibagi dalam tiga tahapan, yakni kurikulum matrikulasi selama tiga bulan, kurikulum nasional, dan kurikulum berasrama (boarding school). Sistem asrama ini diharapkan mampu membentuk siswa yang cerdas, berkarakter, mandiri, sekaligus memiliki rasa cinta tanah air.
“Dengan pendidikan berkualitas, kami berharap bisa memutus rantai kemiskinan,” kata Tuti.
Selain itu, pihak sekolah menjamin lingkungan belajar bebas dari bullying, intoleransi, dan pelecehan. Seluruh tenaga pendidik telah mendapatkan pembekalan serta memiliki sertifikat Profesi Pendidikan Guru (PPG). Saat ini, Sekolah Rakyat 36 Lebak didukung 12 guru profesional.
Muhammad Risman, salah seorang siswa SMP Sekolah Rakyat 36, mengaku bangga bisa melanjutkan pendidikan secara gratis di sekolah berasrama tersebut. Seluruh biaya pendidikan, termasuk kebutuhan sehari-hari, ditanggung pemerintah.
“Saya senang bisa sekolah lagi. Sebelumnya hampir putus sekolah karena keterbatasan ekonomi orang tua,” ucapnya.
Penulis: Noma
Editor: Antoni







