Lebak, Jurnalkota.co.id
Sebanyak 17 warga Badui di pedalaman Kabupaten Lebak, Banten, dirujuk ke RSUD Banten sejak Januari hingga Februari 2026 setelah dinyatakan positif tuberkulosis (TBC).
Koordinator Sahabat Relawan Indonesia (SRI) Muhammad Arif Kirdiat mengatakan, tingginya kasus TBC di kawasan permukiman masyarakat Badui diduga dipicu minimnya ventilasi udara dan sanitasi, serta sejumlah faktor sosial dan adat.
“Kami dari awal Januari sampai Februari 2026 merujuk 17 warga Badui positif TBC ke RSUD Banten,” kata Arif saat dihubungi di Rangkasbitung, Jumat (20/2/2026).
Menurut dia, penyebab kasus TBC di permukiman Badui cukup kompleks. Selain ventilasi dan sanitasi yang terbatas, akses pelayanan kesehatan dan distribusi obat juga menjadi tantangan.
Arif menilai mekanisme pengambilan obat di puskesmas pendamping perlu dibuat lebih sederhana agar tidak membingungkan masyarakat adat.
Selama ini, pasien TBC di kalangan masyarakat Badui bersedia menjalani pengobatan selama enam bulan dengan melibatkan keluarga sebagai Pengawas Minum Obat (PMO). Namun, mereka kerap mengalami kendala dalam memperoleh obat lanjutan.
“Kami berharap puskesmas memberikan kemudahan akses obat TBC bagi pasien,” ujarnya.
Arif juga mengungkapkan, pihaknya menemukan satu kasus baru TBC atas nama Asiwin (54), warga Kampung Cisadane, Badui.
Ia mendorong agar dilakukan skrining TBC secara serentak di kawasan Badui untuk memutus mata rantai penularan. Menurutnya, selama ini belum pernah dilakukan pemeriksaan skrining menyeluruh sehingga belum diketahui secara pasti jumlah warga yang terpapar.
“Kami biasanya merujuk pasien ketika kondisinya sudah cukup parah,” kata dia.
Dinkes Pastikan Obat Tersedia
Sementara itu, Kepala Seksi Pencegahan Penyakit Menular Dinas Kesehatan Kabupaten Lebak Rohmat memastikan layanan diagnosis dan pengobatan TBC tersedia dan gratis di seluruh puskesmas, termasuk puskesmas pendamping masyarakat Badui.
“Kami menjamin ketersediaan pengobatan TBC tersedia di 43 puskesmas,” kata Rohmat.
Penulis: Noma
Editor: Antoni









