www.jurnalkota.co.id
Oleh: Farah Adibah
Aktivis Muslimah, Yogyakarta
Serangan Israel dan Ketabahan Gaza
Serangan Israel terhadap warga Palestina kembali memakan korban. Pada Jumat (5/8/2022), rudal menghantam apartemen di Kota Gaza. Puluhan orang tewas, termasuk anak-anak dan perempuan. Dalam tiga hari, sedikitnya 43 orang meninggal dunia, 15 di antaranya anak-anak. Lebih dari 300 orang mengalami luka-luka.
Serangan itu menegaskan ketidakberimbangan konflik di Gaza. Bangunan hunian, sekolah, hingga rumah sakit menjadi sasaran. Israel bahkan menerapkan strategi kelaparan massal untuk memaksa penduduk meninggalkan Gaza.
Di balik penderitaan itu, dunia menyaksikan ketabahan rakyat Palestina, khususnya perempuan dan anak-anak. Mereka tetap belajar di antara puing bangunan, menghafal Al-Qur’an di tenda pengungsian, atau mengikuti ujian sambil menggendong adik yatim. Keteguhan ini menjadi cermin ketahanan generasi Gaza.
Kontras dengan Generasi Dunia Lain
Sementara itu, di banyak belahan dunia lain, termasuk Indonesia, generasi muda hidup dalam fasilitas serba cukup: listrik, internet, dan lingkungan aman. Namun ironisnya, banyak dari mereka justru dilanda krisis batin.
Fenomena yang dikenal sebagai duck syndrome merebak di kalangan mahasiswa. Istilah ini muncul dari Universitas Stanford untuk menggambarkan kondisi seseorang yang tampak tenang di luar, namun sebenarnya sedang tertekan, panik, bahkan hampir putus asa.
Mahasiswa dituntut berprestasi akademik, aktif berorganisasi, berjejaring luas, tampil menarik, dan tetap menampilkan senyum. Namun di balik itu, banyak yang rapuh, kosong, dan merasa tidak berarti.
Kapitalisme dan Generasi Rapuh
Perbedaan mencolok antara anak-anak Gaza dan mahasiswa di negara sekuler-kapitalis berakar pada sistem pendidikan dan nilai hidup. Anak Gaza sejak kecil ditempa dengan nilai Islam, menyadari bahwa mereka bukan hanya pelajar, melainkan juga pejuang.
Sebaliknya, generasi dalam sistem kapitalistik dibesarkan dengan standar materi: nilai akademik, pekerjaan mapan, status sosial, dan popularitas. Tujuan hidup jarang ditanamkan. Akibatnya, meski hidup nyaman, banyak yang merasa hampa dan kehilangan arah.
Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani dalam Nizhamul Islam menegaskan, kapitalisme menyesatkan fitrah manusia karena menempatkan tujuan hidup semata pada kesenangan duniawi. Maka, lahirlah generasi rapuh, mudah goyah hanya karena gagal ujian, tertinggal dari teman, atau patah hati.
Jalan Perubahan
Fenomena duck syndrome tidak cukup diatasi dengan sekadar mengubah rutinitas. Akar masalahnya adalah standar hidup yang keliru. Islam menawarkan solusi:
1. Mengembalikan tujuan hidup. Generasi perlu diarahkan untuk kembali memahami identitas sejati sebagai hamba Allah dan khalifah di bumi.
2. Meninggalkan sistem kapitalisme. Tekanan hidup bukan semata kesalahan individu, melainkan produk sistem. Karena itu, menggantinya dengan sistem Islam adalah keharusan.
3. Membangun barisan perjuangan. Gaza tidak akan terbebas dengan seruan semata, melainkan dengan perjuangan bersama.
Dengan pendidikan Islam yang menyeluruh, generasi akan tumbuh seperti anak-anak Gaza—kuat, beriman, berilmu, dan siap berjuang meski dalam keterbatasan.
Wallahu A’lam Bishawab.








