Oleh: Farah Adibah
Aktivis Muslimah, Yogyakarta
Dunia tengah menghadapi krisis tenaga kerja yang kian parah. Dari London hingga Jakarta, dari Washington hingga Beijing, gejalanya sama: pengangguran massal melanda generasi muda. Mereka yang mestinya menjadi tulang punggung bangsa justru terjebak dalam lingkaran putus asa. Ada yang bekerja tanpa upah, ada pula yang hanya “pura-pura bekerja” demi sekadar dianggap produktif.
Fenomena ini memperlihatkan wajah buram kapitalisme abad ke-21: sistem yang gagal memberi makan manusia, tetapi rakus menghisap tenaga dan masa depan mereka.
Krisis Global, Indonesia Tak Luput
Data CNBC Indonesia menunjukkan gejala serius. Di Inggris dan Prancis, angka pengangguran melonjak tajam. Amerika Serikat harus menghadapi PHK massal di sektor teknologi dan manufaktur. Cina, motor industrialisasi Asia, pun mengalami perlambatan serapan tenaga kerja.
Indonesia menghadapi ironi tersendiri. Meski angka pengangguran nasional diklaim menurun, faktanya separuh dari total pengangguran didominasi anak muda. Mereka lulusan sekolah, kampus, hingga vokasi, tetapi tetap kesulitan mencari kerja. Pendidikan mahal yang ditempuh justru berakhir pada ijazah tanpa nilai tukar di pasar kerja.
Ketimpangan dan Ilusi Solusi
Penyebab utamanya bukan sekadar kurangnya keterampilan, melainkan konsentrasi kekayaan pada segelintir orang. Data Celios menunjukkan, kekayaan 50 orang terkaya di Indonesia setara dengan milik 50 juta rakyat. Ketimpangan ini menegaskan bagaimana kapitalisme melanggengkan dominasi elite dan meminggirkan rakyat.
Program pemerintah seperti job fair atau jurusan vokasi sering kali hanya menjadi seremoni. Job fair tak mampu menandingi badai PHK, sementara lulusan vokasi pun justru menambah daftar pengangguran.
Generasi Muda di Persimpangan
Generasi muda, aset terpenting bangsa, justru menjadi korban pertama. Di negara maju, banyak anak muda harus menerima pekerjaan tanpa gaji. Di Indonesia, mereka dituding kurang kompeten, padahal masalah utamanya adalah ketiadaan lapangan kerja yang layak.
Dalam logika kapitalisme, efisiensi selalu lebih penting daripada manusia. Ketika mesin lebih murah, tenaga manusia disingkirkan. Maka, pengangguran akan selalu menjadi masalah permanen selama sistem ini bercokol.
Alternatif Islam
Islam menawarkan jawaban berbeda. Dalam pandangan Islam, penguasa adalah ra‘in (pengurus rakyat), yang wajib menjamin akses kerja, bukan menyerahkan nasib pada mekanisme pasar.
• Pendidikan diarahkan bukan sekadar mencetak buruh murah, melainkan melahirkan manusia berilmu dan berakhlak, yang siap berkontribusi membangun peradaban.
• Negara menyediakan fasilitas konkret: tanah bagi yang membutuhkan, modal tanpa riba, serta pembangunan industri strategis yang menyerap tenaga kerja luas.
• Ekonomi Islam memastikan distribusi kekayaan adil melalui zakat, larangan riba, dan pengaturan kepemilikan umum, sehingga kesejahteraan merata.
Penutup
Krisis tenaga kerja global adalah bukti keruntuhan kapitalisme. Sistem ini hanya melahirkan kesenjangan, pengangguran, dan keputusasaan. Generasi muda adalah korban paling nyata.
Karena itu, umat tidak boleh lagi terjebak dalam ilusi perbaikan kapitalisme. Jalan keluar hakiki hanyalah kembali kepada sistem Islam dalam bingkai Khilafah Islamiyah. Hanya dengan itu, penguasa benar-benar menjadi pelayan rakyat, bukan pelayan oligarki.
Wallahu A’lam Bishawab.








