Lingga, Jurnalkota.co.id
Kapolres Lingga, Pahala Martua Nababan, memimpin apel Bhabinkamtibmas di Lapangan Tribrata Polres Lingga, Senin (4/5/2026). Kegiatan ini tidak sekadar menjadi rutinitas pembinaan personel, tetapi juga momentum penguatan peran Bhabinkamtibmas dalam menjaga stabilitas keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) melalui pendekatan yang lebih humanis dan berakar pada kearifan lokal.

Apel tersebut tampak berbeda dari biasanya. Seluruh peserta mengenakan tanjak, penutup kepala khas Melayu yang sarat makna filosofi. Penggunaan atribut budaya ini menjadi simbol penghormatan terhadap identitas lokal sekaligus penegasan komitmen Polres Lingga dalam merawat nilai-nilai budaya di tengah pelaksanaan tugas kepolisian.
Dalam konteks wilayah Kepulauan Riau yang kental dengan budaya Melayu, pendekatan berbasis kearifan lokal dinilai penting untuk membangun kedekatan antara aparat kepolisian dan masyarakat. Tanjak yang dikenakan bukan sekadar pelengkap seremonial, melainkan representasi nilai kesopanan, kehormatan, serta jati diri yang melekat dalam kehidupan masyarakat Melayu.
Kapolres Lingga menegaskan, Bhabinkamtibmas memiliki peran strategis sebagai ujung tombak Polri di tengah masyarakat. Oleh karena itu, pendekatan budaya menjadi salah satu kunci dalam menjaga situasi kamtibmas tetap kondusif.
“Bhabinkamtibmas harus hadir sebagai sosok yang proaktif, responsif, dan humanis. Dengan pendekatan budaya seperti ini, kita dapat membangun kepercayaan dan komunikasi yang lebih kuat dengan masyarakat,” ujar Nababan dalam arahannya.
Ia menekankan bahwa keberhasilan tugas kepolisian tidak hanya ditentukan oleh penegakan hukum semata, tetapi juga kemampuan membangun relasi sosial yang baik dengan masyarakat. Dalam hal ini, Bhabinkamtibmas diharapkan mampu memahami karakteristik wilayah binaannya, termasuk nilai-nilai adat dan budaya yang hidup di tengah masyarakat.
Selain itu, Kapolres juga mengingatkan pentingnya deteksi dini terhadap potensi gangguan kamtibmas. Menurutnya, peran Bhabinkamtibmas sebagai problem solver harus terus diperkuat agar setiap persoalan di masyarakat dapat diselesaikan secara cepat dan tepat sebelum berkembang menjadi konflik yang lebih besar.
“Lakukan deteksi dini terhadap setiap potensi gangguan kamtibmas serta bangun komunikasi yang kuat dengan seluruh elemen masyarakat,” tegasnya.
Dalam upaya meningkatkan kualitas kinerja, Kapolres Lingga juga mewajibkan seluruh Bhabinkamtibmas mengikuti apel jam pimpinan yang dilaksanakan setiap Senin di awal bulan. Apel ini menjadi sarana konsolidasi, evaluasi, serta penyampaian arahan strategis guna memastikan pelayanan kepada masyarakat berjalan optimal.
Lebih jauh, Bhabinkamtibmas juga didorong untuk aktif mendukung berbagai program pemerintah yang menyentuh langsung kehidupan masyarakat. Di antaranya program ketahanan pangan melalui pengembangan jagung pipil, distribusi beras SPHP, hingga Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang saat ini tengah digalakkan.
Menurut Nababan, keterlibatan aktif Bhabinkamtibmas dalam program-program tersebut merupakan bentuk nyata kehadiran Polri di tengah masyarakat, tidak hanya dalam aspek keamanan, tetapi juga dalam mendukung kesejahteraan warga.
“Bhabinkamtibmas harus menjadi penggerak di tengah masyarakat. Dampingi warga dan dorong partisipasi aktif demi kesejahteraan bersama,” ujarnya.
Pendekatan ini dinilai sejalan dengan upaya transformasi Polri menuju institusi yang lebih presisi dan berorientasi pada pelayanan publik. Dengan memadukan nilai profesionalitas dan kearifan lokal, diharapkan kehadiran polisi semakin dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
Melalui apel yang sarat nuansa budaya tersebut, Kapolres Lingga berharap seluruh Bhabinkamtibmas semakin solid, profesional, dan mampu menjalankan tugas secara optimal. Di sisi lain, kehadiran mereka di tengah masyarakat juga diharapkan menjadi representasi Polri yang humanis, berbudaya, serta dekat dengan warga.
Penguatan nilai budaya dalam pelaksanaan tugas ini sekaligus menjadi pesan bahwa keamanan dan ketertiban tidak hanya dibangun melalui pendekatan struktural, tetapi juga melalui sentuhan kultural yang mampu menyatukan aparat dan masyarakat dalam satu semangat kebersamaan.








