www.jurnalkota.co.id
Oleh: Teguh Susanto
Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Tanjungpinang
Penulis kerap mendengar, bahkan membaca, upaya membandingkan Tanjungpinang dengan Batam. Seolah-olah kemajuan sebuah kota hanya diukur dari gedung pencakar langit, derasnya investasi, serta gemerlap fasilitas modern. Perbandingan semacam ini mungkin terdengar wajar, tetapi sesungguhnya menyesatkan.
Tanjungpinang dan Batam tidak lahir dari rahim sejarah yang sama. Membandingkannya tanpa memahami asal-usul dan jalan sejarah masing-masing sama artinya dengan menghapus luka, pengorbanan, serta nilai-nilai yang melahirkan Tanjungpinang sebagai sebuah kota.
Dalam peringatan Hari Jadi ke-242 Kota Tanjungpinang, sudah saatnya kita berhenti bertanya, “Tanjungpinang kalah apa dari Batam?” dan mulai mengajukan pertanyaan yang lebih jujur sekaligus mendasar: “Apakah kita masih ingat mengapa Tanjungpinang berdiri?”
Tanjungpinang Tidak Dibangun, Ia Diperjuangkan
Tanjungpinang tidak lahir dari perencanaan investor. Kota ini tidak dibesarkan oleh modal asing, tidak tumbuh dari fasilitas mewah, apalagi karpet merah pembangunan.
Tanjungpinang diperjuangkan.
Kota ini merupakan benteng pertahanan Kerajaan Riau tanah tempat orang Melayu berdiri tegak, menolak tunduk, dan menegakkan marwah bangsanya. Di sinilah Melayu bukan sekadar identitas etnis, melainkan sebuah bangsa dengan kehormatan dan kedaulatan.
Setiap jengkal tanah Tanjungpinang menyimpan kisah darah, air mata, dan doa. Kota ini lahir bukan dari kenyamanan, melainkan dari keberanian untuk melawan.
Laut yang Pernah Menjadi Medan Tempur
Laut Tanjungpinang tidak pernah sunyi dari sejarah. Di perairan inilah dentuman meriam memecah langit, keris beradu, serta teriakan takbir dan pekikan laskar Melayu mengguncang samudra.
Para pejuang Melayu tidak memiliki kemewahan persenjataan kolonial. Namun mereka memiliki sesuatu yang tidak pernah dimiliki penjajah: harga diri dan keberanian untuk memilih gugur dengan terhormat.
Mereka memilih berdiri, meski sadar bahwa risiko tertinggi dari perlawanan adalah kematian.
Raja Haji Fisabilillah dan Marwah yang Tak Ditawar
Nama Raja Haji Fisabilillah bukan sekadar catatan sejarah. Ia adalah simbol perlawanan bangsa Melayu terhadap keserakahan dan arogansi VOC Belanda.
Ketika VOC merampas kapal Betsy pada 1782 hasil tangkapan sah Kerajaan Riau—Raja Haji memahami bahwa persoalan ini bukan lagi soal dagang. Ini adalah penghinaan terhadap kedaulatan dan marwah bangsa.
Dan terhadap penghinaan, bangsa yang bermaruah hanya memiliki satu jawaban: perlawanan.
6 Januari 1784: Laut yang Pernah Mendidih
Pada 6 Januari 1784, laut Tanjungpinang menyambut perang. Raja Haji berdiri sebagai panglima. Perang Riau dikobarkan bukan demi takhta atau harta, melainkan untuk kehormatan dan kemerdekaan.
VOC datang dengan kesombongan. Kapal komando Malaka’s Walvaren memasuki perairan Tanjungpinang dengan keyakinan akan menang mudah. Mereka keliru.
Dentuman meriam dan serangan laskar Melayu mengubah kesombongan menjadi kepanikan. Kapal Malaka’s Walvaren ditenggelamkan. Arnoldus Lemker tewas bersama sekitar 500 prajurit Belanda. Laut antara Tanjungpinang dan Pulau Penyengat menjelma menjadi kuburan kolonialisme.
VOC mundur ke Malaka bukan sekadar mundur, melainkan dipermalukan. Mereka belajar pahit bahwa bangsa Melayu bukan bangsa yang bisa diinjak dan diperintah sesuka hati. Marwah tidak bisa dibeli. Kedaulatan tidak bisa ditawar.
Gugur, Tetapi Tidak Pernah Kalah
Perlawanan berlanjut. Raja Haji mengejar Belanda hingga ke jantung kekuatannya di Malaka. Pertempuran besar tak terelakkan: sembilan kapal perang, 2.130 prajurit, dan 362 meriam.
Di Teluk Ketapang, pada 18 Juni 1784, Raja Haji Fisabilillah gugur bersama sekitar 500 pejuang Melayu. Ia gugur, tetapi tidak pernah kalah. Ia wafat sebagai syuhada, meninggalkan warisan paling mahal bagi bangsanya: harga diri.
Bangga Menjadi Orang Tanjungpinang
Hari ini, Tanjungpinang mungkin tidak berkilau seperti Batam. Tidak dipenuhi gedung tinggi, tidak pula dipuja sebagai kota investasi.
Namun kami bangga. Bangga menjadi orang Tanjungpinang. Bangga pada kota yang lahir dari darah, air mata, dan doa. Bangga pada tanah yang mengajarkan bahwa kehormatan lebih tinggi daripada kenyamanan.
Selamat Hari Jadi ke-242 Kota Tanjungpinang. Kota ini berdiri bukan karena kemewahan, melainkan karena marwah yang tidak pernah tunduk.**














