Cilegon, Jurnalkota.co.id
Banjir yang kembali melanda kawasan Jalan Lingkar Selatan (JLS) Kota Cilegon, khususnya di Kecamatan Ciwandan, menuai sorotan dari mahasiswa dan masyarakat. Mereka menilai pemerintah tidak bisa terus menyederhanakan persoalan banjir hanya sebagai dampak cuaca, tanpa menyinggung kerusakan lingkungan akibat aktivitas pertambangan pasir dan batu yang masif di wilayah tersebut.
Mahasiswa asal Ciwandan, Idan Wildan, mengatakan kondisi sepanjang jalur PCI–Anyer saat ini didominasi bekas galian tambang pasir dan batu. Bahkan, sebagian aktivitas pertambangan disebut masih berlangsung hingga kini dan diduga tidak seluruhnya mengantongi izin resmi.
Menurut Wildan, pengerukan perbukitan dan gunung secara terus-menerus telah menghilangkan fungsi daerah resapan air. Akibatnya, banjir menjadi ancaman yang berulang setiap kali hujan dengan intensitas tinggi mengguyur wilayah Ciwandan.
“Jangan hanya beropini bahwa banjir ini murni akibat cuaca. Publik bisa melihat dengan jelas bagaimana alam menjadi semakin ganas karena gunung dan bukit terus dikeruk tanpa kendali,” ujar Wildan, Minggu (4/1/2026).
Peristiwa banjir di Kecamatan Ciwandan tersebut juga sempat viral di media sosial. Sejumlah unggahan memperlihatkan genangan air yang melumpuhkan akses jalan dan aktivitas warga, yang dinilai menjadi dampak langsung dari rusaknya lingkungan di sekitar kawasan pertambangan pasir dan batu, baik yang telah berhenti beroperasi maupun yang masih aktif.
Atas kondisi tersebut, mahasiswa mendesak Gubernur Banten dan Wali Kota Cilegon untuk segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap seluruh aktivitas pertambangan di wilayah Cilegon dan sekitarnya.
Sejumlah tuntutan disampaikan, antara lain penutupan permanen tambang pasir dan batu yang merusak lingkungan serta diduga tidak memiliki izin resmi. Selain itu, mahasiswa juga meminta aparat penegak hukum untuk memeriksa dan menindak tegas pengusaha tambang yang melanggar ketentuan hukum dan lingkungan.
Mahasiswa juga menuntut transparansi kepada publik terkait perizinan, dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL), serta pengawasan terhadap aktivitas pertambangan.
“Sudah cukup gunung dirusak oleh pengusaha tambang. Sudah cukup laut kita diurug demi kepentingan industri dan pabrik. Sampai kapan semua ini terus dibiarkan?” kata Wildan.
Mahasiswa berharap banjir yang kembali terjadi di Ciwandan dapat menjadi momentum bagi pemerintah daerah untuk melakukan introspeksi serius, agar pembangunan tidak terus mengorbankan keselamatan masyarakat dan kelestarian lingkungan.
“Banjir bukan sekadar bencana alam, tetapi juga akibat dari kebijakan dan pembiaran,” pungkasnya.
Penulis: Noma
Editor: Antoni











