Tanjungpinang, Jurnalkota.co.id
Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kota Tanjungpinang menghadirkan ruang edukasi budaya melalui kegiatan diskusi bertajuk “Bincang Budaya” yang digelar di stand Dekranasda pada bazar MTQH XX tingkat Kota Tanjungpinang 2026 di Melayu Square, Selasa (28/4/2026).
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkaya pelaksanaan bazar agar tidak sekadar berorientasi pada transaksi, tetapi juga menghadirkan nilai edukasi dan pelestarian budaya bagi masyarakat.
Plt Sekretaris Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagin) Kota Tanjungpinang, M. Endy Febri, mengatakan “Bincang Budaya” merupakan inovasi yang diinisiasi Ketua Umum Dekranasda Kota Tanjungpinang untuk memberikan nilai tambah pada rangkaian kegiatan MTQH.
“Melalui kegiatan ini, bazar tidak hanya menunggu pengunjung, tetapi juga menghadirkan program yang edukatif dan bermanfaat. Hari ini kita mulai, dan dalam tiga hari ke depan akan dilanjutkan dengan sharing kerajinan untuk pelajar serta demo memasak menu tradisional,” ujar Endy.
Diskusi yang dikemas santai namun sarat makna ini menghadirkan narasumber dari Lembaga Adat Melayu (LAM) Provinsi Kepulauan Riau Kota Tanjungpinang, Dato Setia Perdana Rendra Setyadiharja.
Dalam pemaparannya, Rendra menekankan bahwa busana Melayu tidak sekadar menjadi identitas visual, tetapi juga mengandung nilai religius dan sosial yang mendalam.
Ia menjelaskan, baju cekak musang dengan lima kancing melambangkan rukun Islam, sementara baju Teluk Belanga dengan satu kancing mencerminkan keesaan Allah SWT.
“Busana Melayu sarat makna. Setiap detail memiliki filosofi, bukan sekadar estetika,” kata Rendra.
Namun demikian, ia mengingatkan adanya kecenderungan modifikasi busana yang tidak sesuai dengan pakem tradisi, seperti perubahan bentuk kancing dan lengan, yang berpotensi mengaburkan nilai asli budaya Melayu.
Selain itu, Rendra juga menyoroti pentingnya penggunaan kain samping atau sampin sebagai pelengkap busana Melayu, baik berbahan songket maupun pelikat. Ia menjelaskan, tata cara pemakaian sampin memiliki makna tersendiri, termasuk dalam menunjukkan status sosial.
“Posisi kain di atas lutut biasanya untuk yang belum menikah, sementara di bawah lutut untuk yang sudah menikah,” ujarnya.
Tak hanya itu, ia juga mengulas filosofi tanjak sebagai identitas laki-laki Melayu. Beberapa jenis tanjak seperti Dendam Tak Sudah dan Solok Timbo disebut sebagai bentuk warisan budaya yang telah lama dikenal masyarakat.
Namun, menurutnya, bentuk tanjak yang banyak digunakan saat ini cenderung merupakan hasil kreasi atau modifikasi dari bentuk aslinya.
Diskusi berlangsung interaktif dan diikuti peserta dari perwakilan kecamatan dan kelurahan se-Kota Tanjungpinang.
Salah satu peserta, Hendri, mengaku mendapatkan banyak wawasan baru dari kegiatan tersebut, khususnya terkait teknik penggunaan kain samping dan filosofi tanjak.
“Diskusi seperti ini memberikan suasana berbeda. Kami tidak hanya mendengar, tetapi juga memahami makna di balik busana Melayu,” ujarnya.
Ia berharap kegiatan serupa dapat digelar kembali dengan skala lebih besar dan melibatkan pelajar agar generasi muda semakin mengenal budaya daerahnya.
Melalui kegiatan ini, Dekranasda Kota Tanjungpinang diharapkan mampu meningkatkan pemahaman sekaligus kecintaan masyarakat terhadap budaya Melayu, serta memperkuat pelestarian nilai-nilai kearifan lokal di tengah arus modernisasi.














