Lebak, Jurnalkota.co.id
Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kabupaten Lebak menggelar pelatihan perbengkelan otomotif sepeda motor bagi para pencari kerja sebagai upaya meningkatkan kompetensi dan daya saing tenaga kerja lokal.
Sekretaris Disnaker Kabupaten Lebak, Rully Charuliyanto, mengatakan pelatihan tersebut diikuti oleh 16 peserta dan berlangsung selama 35 hari, mulai Mei hingga berakhir pada 22 Juni 2026.
“Peserta pelatihan otomotif sepeda motor ini berjumlah 16 orang dan pelaksanaannya berlangsung selama 35 hari,” kata Rully di Lebak, Rabu (17/6/2026).
Menurut dia, peserta yang mengikuti pelatihan berasal dari keluarga kurang mampu yang masuk kategori Desil 1 dan Desil 2 berdasarkan data kesejahteraan sosial.
Sebelumnya, Disnaker Lebak juga telah menyelenggarakan pelatihan komputer dan digital marketing yang diikuti oleh 32 peserta.
Rully menjelaskan, program pelatihan tersebut merupakan bagian dari kebijakan Bupati Lebak Hasbi Asyidiki Jayabaya dalam mendukung percepatan penghapusan kemiskinan melalui peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Ia menilai keterampilan yang dimiliki peserta akan membuka peluang untuk hidup mandiri, memperoleh pekerjaan, bahkan menciptakan lapangan kerja baru.
Untuk mendukung penyerapan tenaga kerja, Pemerintah Kabupaten Lebak menjalin kerja sama dengan perusahaan jasa perbengkelan sepeda motor Planet Ban.
“Setelah lulus pelatihan, para peserta akan mengikuti proses seleksi untuk berkesempatan bekerja di Planet Ban,” ujarnya.
Salah seorang peserta, Muhamad Kausar Firdaus (19), warga Rangkasbitung, mengaku senang mendapat kesempatan mengikuti pelatihan tersebut. Lulusan SMKN 1 Rangkasbitung itu berharap keterampilan yang diperolehnya dapat menjadi bekal untuk meraih pekerjaan.
“Kami berharap setelah lulus pelatihan bisa bekerja di Planet Ban dan memiliki masa depan yang lebih baik,” katanya.
Sementara itu, instruktur pelatihan, Hamzah Alwi Iskandar, menilai kemampuan peserta berkembang cukup baik. Hal itu terlihat dari hasil praktik perbaikan dan bongkar pasang mesin sepeda motor yang telah mereka lakukan selama pelatihan.
Menurut Hamzah, materi yang diberikan mengacu pada Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI), sehingga keterampilan yang diperoleh peserta sesuai dengan kebutuhan dunia kerja.
“Kami optimistis para peserta memiliki peluang besar untuk bekerja di perusahaan jasa perbengkelan maupun membuka usaha sendiri di daerah masing-masing,” ujar Hamzah.
Penulis: Noma
Editor: Antoni














