www.jurnalkota.co.id
Oleh Indri Nur Adha
(Aktivis Muslimah)
Seperti drama yang sedang kita lihat di televisi, bersatu karena keserakahan ingin menguasai negeri-negeri, berpecah belah karena sudah tidak satu visi dan misi. Itulah bentuk kerapuhan hubungan yang berlandaskan materi.
Menurut laporan dari Anadolu pada hari Kamis, 8 Mei 2025, Presiden Amerika Serikat Donald Trump memutuskan untuk tidak lagi menjalin komunikasi langsung dengan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu. Keputusan tersebut diambil setelah beberapa orang kepercayaan Trump menyampaikan bahwa Netanyahu diduga telah bersikap manipulatif terhadap dirinya dan memanfaatkan hubungan mereka demi kepentingan pribadi atau politik. Selain itu, sikap arogan Menteri Urusan Strategis Israel, Ron Dermer, dalam diskusi dengan tokoh Partai Republik turut memperburuk situasi.
Seorang pejabat menyebut bahwa Trump merasa dimanipulasi oleh Netanyahu, sesuatu yang sangat tidak disukainya karena membuatnya terlihat lemah. Hal ini mendorongnya memutus hubungan dengan Netanyahu. Yanir Cozin, koresponden Radio Angkatan Darat Israel, juga menyoroti bahwa memburuknya hubungan AS–Israel dipicu oleh kegagalan pemerintah Israel menyusun rencana jelas terkait Iran, Houthi di Yaman, dan Gaza (tempo.co, 09/05/2025).
Kita seakan diajak melihat drama yang ada di serial televisi, dari yang awalnya berteman baik lalu putus hubungan karena satu dan lain hal. Begitulah gambaran hubungan Amerika dengan Israel yang dikabarkan oleh media baru-baru ini. Trump merasa kecewa dengan Netanyahu karena saat ini dia diharuskan untuk mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk mencapai visi Trump untuk Timur Tengah, namun Netanyahu menolak bekerja sama untuk mendukung langkah-langkah tersebut. (khazanah.republika.co.id, 09/05/2025).
Padahal jauh sebelum kabar pecah kongsinya antara Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, kita sudah mengetahui bahwa sering terjadi kerja sama antara kedua belah pihak dalam menjalankan program kerja yang mereka buat, salah satunya adalah kerja sama dalam pemasokan persenjataan dari Amerika ke Israel.
Pada 7 Februari 2025, AS menyetujui penjualan senjata ke Israel senilai lebih dari USD 7 miliar, termasuk bom dan rudal. Sebelumnya, Presiden Donald Trump bertemu PM Israel Benjamin Netanyahu dan mengusulkan agar Gaza dikuasai Washington serta merelokasi penduduknya ke luar Palestina. Menurut Defense Security Cooperation Agency (DSCA), dua proposal penjualan senjata telah diajukan ke Kongres. Satu bernilai USD 6,75 miliar untuk amunisi dan perlengkapan militer yang akan dikirim awal tahun ini. Paket lainnya mencakup 3.000 rudal Hellfire senilai USD 660 juta, dengan pengiriman mulai 2028 dan pelatihan dari militer AS (tempo.co, 11/02/2025).
Demikian gambaran persatuan musuh-musuh Islam. Mereka tetap terikat pada kepentingan masing-masing. Meski mereka bersatu dalam memusuhi Islam dan kaum Muslimin, namun mereka tetap mengutamakan kepentingan kelompoknya. Seperti yang terjadi pada Amerika Serikat dan Israel, kedua pihak akan melakukan apa pun untuk mencapai tujuan dari kelompoknya masing-masing. Jika sudah tidak sejalan dengan tujuan kelompoknya maka mereka rela untuk saling meninggalkan dan berpisah satu sama lain.
Inilah gambaran dari kapitalisme, yang menjadikan materi sebagai tujuan utama dan satu-satunya. Tidak ada pencapaian tertinggi selain materi. Meskipun harus menyikut kanan-kiri, mereka rela melakukannya demi kepentingan kelompoknya. Maka tak heran jika kita melihat yang awalnya berdekatan menjadi terpecah belah, karena sudah tidak terpenuhi tujuannya jika bersama. Padahal Amerika Serikat dan Israel adalah kelompok yang sama-sama memusuhi kaum Muslim. Mereka bekerja sama dalam misi genosida yang dilakukan di Gaza. Kedua kelompok ini telah melakukan kehinaan terhadap kaum Muslim, ditambah lagi haus kekuasaan yang membuat mereka ingin saling menguasai.
Keadaan yang mereka alami saat ini sesuai dengan yang Allah Swt. gambarkan, bahwa persatuan mereka adalah rapuh, seperti yang telah disampaikan Allah dalam Alquran:
“Mereka tidak akan memerangi kamu (secara) bersama-sama, kecuali di negeri-negeri yang berbenteng atau di balik tembok. Permusuhan antara sesama mereka sangat hebat. Kamu mengira bahwa mereka itu bersatu, padahal hati mereka terpecah belah. Hal itu disebabkan karena mereka kaum yang tidak berakal.”
(QS. Al-Hasyr [59]: 14)
Landasan hubungan yang dilakukan oleh kelompok-kelompok dalam sistem kapitalis adalah asas manfaat. Ketika sudah tidak ada lagi kemaslahatan yang mereka peroleh, maka akan melemah ikatan yang mereka bangun. Hal ini sangat berbeda dengan hubungan dalam sistem Islam, karena yang menjadi landasan hubungan antara satu dengan yang lain adalah akidah Islam. Umat Islam harus menyadari bahwa umat sejatinya memiliki kekuatan besar jika dibangun atas akidah, sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah dan para sahabat serta umat Islam terdahulu. Umat harus disadarkan akan modal besar yang mereka miliki, yang akan mampu menghancurkan musuh-musuh Islam.
Penyadaran ini perlu kerja sama antara jamaah dakwah Islam ideologis yang menjadikan akidah Islam sebagai pengikatnya. Jamaah dakwah ini akan membimbing umat untuk menapaki jalan perjuangan yang telah dicontohkan oleh Rasulullah saw. Sehingga umat sadar bahwa kita harus bersatu, karena dengan persatuan umat akan lebih mudah melawan musuh-musuh Allah. Umat tidak akan disibukkan lagi oleh perkara-perkara cabang yang tidak perlu diributkan hingga menimbulkan perpecahan. Sudah waktunya umat memikirkan sesuatu yang lebih besar, yaitu membebaskan Baitul Maqdis dari kekuasaan kaum kafir. Untuk perjuangan ini diperlukan kesadaran dan persatuan umat dari seluruh dunia.
Persatuan umat akan menghantarkan pada tegaknya kepemimpinan Islam, yang dengan itu akan tegak Daulah Islam. Daulah Islam akan memimpin dunia, menjadi negara adidaya yang akan meninggikan kalimat Allah dan menjadi pelindung seluruh umat Islam. Ia akan mampu mengalahkan AS dan kroninya, termasuk membebaskan Baitul Maqdis dari musuh-musuh Allah dengan jihad. Karena janji Allah itu pasti, Islam akan menang dan kembali tegak. Untuk itu, harus ada kelompok yang memperjuangkan penegakan sistem Islam tersebut, dengan mengikuti metode yang telah dicontohkan oleh Rasulullah saw. Maka jadilah kita orang-orang yang ikut berjuang dalam kelompok tersebut. Wallahualam bissawab.**













