Manifestasi Takdir dalam Jalinan Lungsi dan Pakan
Secara teknis, koleksi Sri Gading Lestari menonjolkan kekuatan struktur kain tenun yang dikerjakan secara manual oleh para perajin di berbagai pelosok Indonesia. Benang lungsi yang memanjang vertikal dan benang pakan yang masuk secara horizontal menciptakan struktur yang kokoh, melambangkan fondasi kehidupan dan warisan leluhur yang tak lekang oleh waktu. Bagi Dian Oerip, setiap helai benang yang bertemu di alat tenun bukan mesin (ATBM) adalah representasi dari setiap langkah dan keputusan manusia dalam roda kehidupan.
Filosofi ini menjadi ruh utama dalam setiap potongan busana yang dipamerkan di INACRAFT 2026. Pengunjung tidak hanya disuguhi pakaian siap pakai, tetapi juga diajak memahami bahwa wastra adalah identitas yang hidup. Penggunaan warna-warna alam dan motif yang sarat makna spiritual mempertegas posisi Oerip Indonesia sebagai jenama yang konsisten menjaga orisinalitas di tengah gempuran tren fesyen cepat (fast fashion).

“Sri Gading Lestari adalah sebuah perenungan tentang bagaimana kita menghargai setiap pertemuan dalam hidup. Seperti benang lungsi dan pakan, kehidupan kita terdiri dari garis-garis takdir yang saling bersilangan. Melalui koleksi ini, saya ingin menyampaikan bahwa warisan leluhur bukan hanya tentang kain yang kita kenakan, tetapi tentang bagaimana kita menjaga nilai-nilai keberlanjutan dan spiritualitas yang ada di dalamnya agar tetap lestari,” ujar Dian Errakumalasari.
Menghidupkan Legenda Sri Gading Lestari dari Tanah Jawa Timur
Pemilihan nama “Sri Gading Lestari” tidaklah sembarangan. Nama ini berakar kuat dalam khazanah cerita rakyat Jawa Timur, khususnya yang berkaitan dengan sejarah Madura dan Pasuruan. Sri Gading Lestari dikenal sebagai putri dari Adipati Madura, Arya Wiraraja. Kisahnya yang melegenda berfokus pada pengasingan dirinya demi mempertahankan cinta abadi bersama Pangeran Joko Taruno. Narasi romantis dan penuh pengorbanan ini merupakan latar belakang dari asal-usul objek wisata Air Terjun Putuk Truno di Pasuruan.
Dian Oerip mengambil esensi dari cerita rakyat tersebut—yakni tentang kesetiaan, keteguhan hati, dan pengasingan diri yang berujung pada keabadian—untuk dituangkan ke dalam desainnya. Karakter Sri Gading Lestari yang kuat namun lembut tercermin dalam siluet busana yang fleksibel namun tetap memiliki struktur yang tegas. Dengan mengangkat legenda ini, Oerip Indonesia berupaya melakukan dekolonisasi fesyen dengan cara membumikan kembali cerita-cerita lokal ke dalam produk modern yang relevan bagi pasar internasional.
Kaitan antara legenda dan tenun ini menciptakan kedalaman emosional bagi para kolektor wastra. Setiap busana seolah bercerita tentang perjalanan sang putri, tentang kesunyian hutan tempat ia mengasingkan diri, hingga gemuruh air terjun yang menjadi saksi bisu cintanya. Pendekatan naratif ini membuat karya-karya Dian Oerip memiliki nilai “bercerita” (storytelling) yang kuat, sebuah elemen krusial dalam industri kreatif masa kini.
Dedikasi Belasan Tahun Menjelajahi Pelosok Nusantara
Kehadiran Sri Gading Lestari di INACRAFT 2026 merupakan akumulasi dari dedikasi Dian Errakumalasari selama belasan tahun. Sebagai desainer sekaligus pendiri Oerip Indonesia, Dian telah menghabiskan sebagian besar waktunya untuk melakukan perjalanan ekspedisi budaya ke berbagai desa terpencil di Indonesia. Dari pegunungan di Timor hingga pesisir Sumatera, ia mencari jejak-jejak tenun yang mulai ditinggalkan oleh generasi muda.
Perjalanan ini bukan sekadar mencari bahan baku, melainkan sebuah misi untuk merawat keberlanjutan kain tenun tradisional. Dian melihat bahwa banyak motif tenun yang hampir punah karena tidak adanya regenerasi perajin. Oleh karena itu, melalui Oerip Indonesia, ia memberikan ruang bagi para perajin lokal untuk terus berkarya dengan memberikan jaminan pasar dan apresiasi yang layak atas karya seni mereka.
“Selama belasan tahun menjelajahi pelosok, saya melihat bahwa tenun adalah napas dari banyak komunitas di Indonesia. Namun, keberlanjutannya terancam jika kita hanya melihatnya sebagai komoditas dagang. Di Oerip Indonesia, kami memadukan pendekatan spiritual dan sosial. Kami tidak hanya membeli kain, kami membangun hubungan dengan para perajin, memahami doa-doa yang mereka sematkan dalam setiap tenunan, dan memastikan bahwa kesejahteraan mereka meningkat seiring dengan dikenal luasnya karya mereka,” tambah Dian.
Misi Sosial dan Kesejahteraan Perajin Lokal
Salah satu pilar utama yang menyokong keberhasilan Oerip Indonesia adalah misi sosialnya yang kuat. Dian Errakumalasari secara konsisten menerapkan model bisnis yang berpihak pada perajin. Pendekatan yang dilakukan bukan sekadar transaksional, melainkan spiritual dan sosial. Ia percaya bahwa kain yang dihasilkan dengan hati yang tenang dan kesejahteraan yang cukup akan memancarkan energi yang berbeda bagi pemakainya.
Di stan nomor 55–56 JICC, pengunjung dapat melihat detail-detail kecil yang menunjukkan kerumitan proses pembuatan kain. Setiap motif yang dihasilkan secara manual membutuhkan waktu berbulan-bulan untuk diselesaikan. Dengan mengangkat tema Sri Gading Lestari, Dian juga mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya mendukung produk lokal yang memiliki dampak sosial nyata. Keuntungan dari setiap karya yang terjual dialokasikan kembali untuk mendukung keberlangsungan komunitas perajin tenun di daerah asal kain tersebut.
Misi ini menjadi sangat relevan di era industri fesyen yang mulai bergeser menuju keberlanjutan (sustainability). Oerip Indonesia membuktikan bahwa fesyen bisa menjadi alat untuk pemberdayaan ekonomi sekaligus pelestarian budaya. Para perajin, yang mayoritas adalah perempuan di desa-desa, menjadi ujung tombak dalam menjaga warisan Nusantara ini tetap hidup di tengah modernitas.
Wastra Nusantara sebagai Representasi Identitas Global
Melalui pameran di INACRAFT 2026, Oerip Indonesia menegaskan posisi Wastra Nusantara sebagai produk budaya yang mampu bersaing di kancah internasional tanpa kehilangan jati dirinya. Koleksi Sri Gading Lestari menunjukkan bahwa teknik tradisional seperti tenun lungsi dan pakan dapat diolah menjadi busana yang modis, elegan, dan memiliki daya tawar tinggi.
Penggunaan material yang ramah lingkungan dan proses produksi yang menghargai etika kerja menjadi nilai tambah bagi jenama asal Ngawi ini. Dian Oerip berhasil mengubah persepsi bahwa kain tradisional hanya cocok untuk acara formal atau kaku. Dengan sentuhan desain yang kontemporer, tenun Sri Gading Lestari bertransformasi menjadi busana yang dinamis, mencerminkan roda kehidupan manusia yang terus berputar namun tetap berpijak pada akar tradisi.
Pameran ini menjadi momentum penting bagi Oerip Indonesia untuk memperluas jejaring dan memperkenalkan filosofi “takdir dalam tenunan” kepada audiens yang lebih luas. Di tengah hiruk-pikuk JICC, kehadiran Sri Gading Lestari memberikan ruang bagi pengunjung untuk sejenak berhenti dan merenungkan kembali hubungan mereka dengan sejarah, alam, dan sesama manusia melalui sehelai kain tenun.
Karya-karya Dian Errakumalasari dalam koleksi Sri Gading Lestari di INACRAFT 2026 menjadi bukti nyata bahwa wastra bukan sekadar benda mati. Ia adalah catatan sejarah, doa para perajin, dan simbol keteguhan budaya yang akan terus lestari selama ada tangan-tangan yang tulus menjaganya.















