Generasi Z di Tengah Bayang-Bayang Krisis Multidimensi

Jasa Maklon Sabun

www.jurnalkota.co.id

Oleh: Farah Adibah
Aktivis Muslimah, Yogyakarta

Generasi Z kini kerap disebut sebagai generasi yang paling cemas. Berbagai hasil survei menunjukkan kecenderungan yang sama, yakni meningkatnya kecemasan, tekanan psikologis, hingga gangguan kesehatan mental yang dialami anak-anak muda. Di Indonesia, lebih dari 60 persen Generasi Z mengaku cemas menghadapi masa depan mereka.

Fenomena tersebut bukan hanya terjadi di Indonesia. Di berbagai negara, jutaan anak muda menghadapi persoalan serupa. Tingkat pengangguran usia muda masih tinggi, persaingan kerja semakin ketat, biaya hidup terus meningkat, sementara kepastian karier terasa semakin sulit diraih.

Pada saat yang sama, mereka juga menghadapi tekanan lain yang tidak kalah berat. Media sosial menghadirkan tuntutan untuk selalu tampil sempurna, produktif, dan berhasil. Standar hidup yang dibangun ruang digital sering kali membuat banyak anak muda merasa tertinggal, tidak cukup baik, atau gagal memenuhi ekspektasi lingkungan.

Ironisnya, di tengah berbagai tekanan tersebut, Generasi Z justru kerap menerima stigma negatif. Mereka dianggap terlalu sensitif, malas, tidak tahan menghadapi tekanan, hingga dicap sebagai generasi yang sulit beradaptasi dengan dunia kerja.

Padahal, jika ditelaah lebih dalam, kecemasan yang dialami Generasi Z tidak bisa dipahami hanya sebagai persoalan individu.

Lebih dari Sekadar Masalah Personal

Kecemasan yang dialami jutaan anak muda di berbagai negara menunjukkan bahwa persoalan ini memiliki dimensi yang lebih luas dibandingkan sekadar lemahnya mental seseorang.

Apabila penyebabnya murni berasal dari karakter individu, tentu pola yang muncul tidak akan begitu seragam di banyak negara dengan latar belakang budaya, ekonomi, dan sosial yang berbeda.

Fenomena tersebut memperlihatkan adanya persoalan struktural yang memengaruhi kehidupan generasi muda secara bersamaan.

Menurut penulis, kondisi itu merupakan bagian dari krisis multidimensi yang lahir dari sistem kehidupan yang mendominasi dunia saat ini.

Dalam pandangannya, sistem ekonomi kapitalistik telah menciptakan ketimpangan yang semakin lebar. Lapangan pekerjaan tidak mampu mengimbangi pertumbuhan angkatan kerja, sementara biaya pendidikan, perumahan, dan kebutuhan hidup terus meningkat.

Akibatnya, banyak anak muda merasa kehilangan kepastian mengenai masa depan mereka.

Tekanan Sosial di Era Digital

Persoalan ekonomi kemudian diperparah oleh perkembangan teknologi digital.

Media sosial tidak hanya menjadi ruang komunikasi, tetapi juga arena kompetisi yang menghadirkan tekanan psikologis. Setiap hari, anak muda disuguhi berbagai narasi tentang kesuksesan, kekayaan, gaya hidup, hingga pencapaian pribadi yang sering kali tidak mencerminkan realitas sebenarnya.

Budaya membandingkan diri dengan orang lain pun semakin sulit dihindari.

Menurut penulis, kondisi tersebut turut membentuk budaya hedonisme dan liberalisme yang membuat generasi muda kehilangan arah hidup. Akibatnya, rasa cemas, kesepian, hingga depresi menjadi persoalan yang semakin sering dijumpai.

Di sisi lain, negara dinilai belum sepenuhnya hadir memberikan perlindungan terhadap berbagai persoalan yang dihadapi generasi muda.

Harapan di Balik Kegelisahan

Meski demikian, penulis melihat bahwa kegelisahan Generasi Z juga dapat menjadi awal lahirnya perubahan.

Sikap kritis yang mulai berkembang di kalangan anak muda dinilai sebagai modal penting untuk membangun kesadaran bahwa persoalan yang mereka hadapi bukan hanya persoalan pribadi, melainkan juga berkaitan dengan sistem yang mengatur kehidupan masyarakat.

Kesadaran tersebut, menurut penulis, perlu diarahkan kepada pencarian solusi yang mendasar, bukan sekadar pelarian sesaat melalui hiburan maupun tren di media sosial.

Teladan dari Sejarah Islam

Penulis kemudian mencontohkan sejarah Islam yang dinilainya berhasil melahirkan generasi muda dengan kualitas kepemimpinan, ilmu pengetahuan, dan akhlak yang kuat.

Muhammad Al-Fatih, misalnya, dipersiapkan sejak usia muda melalui pembinaan akidah, ilmu, dan kepemimpinan hingga akhirnya berhasil menaklukkan Konstantinopel.

Contoh lain adalah Imam Syafi’i yang telah menghafal Al-Qur’an sejak usia tujuh tahun dan menjadi salah satu ulama besar sebelum menginjak usia dua puluh tahun.

Menurut penulis, lahirnya tokoh-tokoh tersebut tidak terlepas dari sistem pendidikan dan pemerintahan yang menjadikan pembinaan generasi sebagai prioritas.

Peran Negara Menurut Perspektif Islam

Dalam pandangan Islam, negara memiliki tanggung jawab sebagai pengurus sekaligus pelindung rakyat.

Penulis mengutip sabda Rasulullah SAW yang menyatakan bahwa seorang pemimpin adalah pengurus rakyat dan akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya.

Karena itu, negara dipandang berkewajiban menghadirkan pendidikan yang berkualitas, membuka lapangan pekerjaan yang adil, serta menciptakan lingkungan sosial yang mendukung tumbuh kembang generasi muda.

Selain itu, Islam juga mengajarkan bahwa ketenangan jiwa tidak hanya diperoleh melalui terpenuhinya kebutuhan materi.

Menurut penulis, ketenangan sejati lahir dari kedekatan kepada Allah SWT dan pemahaman bahwa kehidupan memiliki tujuan yang lebih besar daripada sekadar mengejar pengakuan sosial maupun keberhasilan duniawi.

Ketika generasi muda memahami perannya sebagai hamba Allah sekaligus bagian dari umat yang memiliki tanggung jawab terhadap masyarakat, mereka diyakini akan memiliki arah hidup yang lebih jelas dan ketahanan mental yang lebih kuat.

Penutup

Fenomena meningkatnya kecemasan di kalangan Generasi Z merupakan persoalan yang kompleks. Faktor ekonomi, tekanan sosial, perkembangan teknologi, hingga perubahan budaya saling berkelindan membentuk krisis multidimensi yang memengaruhi kehidupan generasi muda.

Bagi penulis, penyelesaian persoalan tersebut tidak cukup dilakukan melalui pendekatan psikologis semata. Diperlukan perubahan yang lebih mendasar terhadap sistem kehidupan yang dinilai menjadi akar berbagai persoalan.

Dalam pandangannya, Islam sebagai sebuah mabda atau ideologi menawarkan konsep yang pernah melahirkan generasi-generasi unggul, tidak hanya kuat secara spiritual, tetapi juga berilmu, berkepribadian, serta memiliki kepedulian terhadap masyarakat.

Karena itu, penulis mengajak Generasi Z agar tidak berhenti pada kegelisahan dan kritik terhadap keadaan. Kegelisahan tersebut semestinya menjadi awal untuk mencari akar persoalan sekaligus solusi yang diyakini mampu menghadirkan masa depan yang lebih baik, yakni melalui penerapan nilai-nilai Islam dalam kehidupan. Wallahu a’lam.

Jasa Maklon Skincare Tangerang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *