Lebak, Jurnalkota.co.id
Sejumlah petani di Kabupaten Lebak, Banten, mengaku mengalami kerugian besar akibat serangan hama babi hutan yang merusak tanaman palawija. Serangan tersebut menyebabkan produksi pertanian menurun drastis hingga memaksa sebagian petani melakukan panen lebih awal.
Ketua Kelompok Tani Sukabungah, Ruhiana, mengatakan hasil panen jagung di lahan seluas satu hektare yang dikelolanya turun tajam akibat serangan kawanan babi hutan.
“Seharusnya kami bisa memanen sekitar 4 ton jagung per hektare. Namun, karena diserang babi hutan, hasilnya hanya sekitar 500 kilogram,” kata Ruhiana di Desa Tambakbaya, Kecamatan Cibadak, Kabupaten Lebak, Kamis (30/7/2026).
Menurut dia, kondisi tersebut membuat petani mengalami kerugian cukup besar. Biaya produksi untuk menggarap lahan mencapai sekitar Rp10 juta per hektare, sedangkan hasil penjualan panen hanya sekitar Rp2,5 juta.
Ruhiana menjelaskan, kawanan babi hutan biasanya datang pada dini hari dalam kelompok yang mencapai sekitar 15 ekor. Selain merusak tanaman, hewan liar tersebut juga dinilai agresif sehingga petani khawatir melakukan penjagaan secara langsung.
“Kami bingung mengatasi hama babi hutan karena sulit diberantas. Akhirnya kami terpaksa memanen jagung lebih awal agar kerugiannya tidak semakin besar,” ujarnya.
Ia menambahkan, lahan jagung yang dikelolanya berada di Blok Hutan Pasir Pogor, Desa Tambakbaya. Di kawasan tersebut terdapat sekitar lima hektare lahan palawija yang juga terdampak serangan babi hutan.
Selain jagung, petani di wilayah itu menanam berbagai komoditas lain seperti singkong, ubi-ubian, kacang tanah, dan cabai. Serangan babi hutan menyebabkan sebagian tanaman rusak sehingga hasil panen menurun, bahkan ada yang mengalami gagal panen.
Keluhan serupa disampaikan Patma (60), petani di Blok Ciliweung, Rangkasbitung. Ia mengaku tanaman ubi-ubian dan kacang tanah di lahan seluas satu hektare miliknya gagal dipanen akibat dirusak babi hutan.
Menurut Patma, kawanan babi hutan biasanya masuk ke area perkebunan sekitar pukul 01.00 WIB dari kawasan hutan perkebunan kelapa sawit di sekitar lokasi.
Ia menduga kemunculan babi hutan di lahan pertanian semakin sering terjadi sejak pembangunan Waduk Karian yang mengubah habitat satwa liar tersebut.
“Kami menduga babi hutan masuk ke kebun karena habitatnya sudah berubah menjadi waduk,” kata Patma.
Penulis: Noma
Editor: Antoni












