Lebak, Jurnalkota.co.id
Kenaikan harga plastik di pasaran berdampak langsung pada meningkatnya permintaan daun pisang sebagai bahan pembungkus alternatif. Kondisi ini membawa berkah bagi para pedagang daun pisang di Kabupaten Lebak, Banten, yang mengalami lonjakan omzet hingga dua sampai tiga kali lipat dalam dua pekan terakhir.
Salah satu pedagang, Abas (35), mengaku pendapatannya meningkat signifikan seiring tingginya permintaan pasar, terutama dari wilayah Jakarta.
“Sekarang omzet bisa mencapai Rp1,2 juta per hari, sebelumnya hanya sekitar Rp600.000,” kata Abas saat ditemui di Lebak, Selasa (21/4/2026).
Menurut Abas, lonjakan permintaan mulai terasa sejak harga plastik sebagai bahan pembungkus mengalami kenaikan. Hal ini membuat banyak pelaku usaha makanan beralih menggunakan daun pisang yang dinilai lebih ramah lingkungan dan ekonomis.
Ia mengungkapkan, saat ini dirinya bahkan kewalahan memenuhi permintaan pasar, khususnya dari Pasar Kebayoran, Jakarta. Jika sebelumnya hanya memasok dua koli per hari, kini meningkat menjadi empat koli dengan total nilai mencapai Rp1,2 juta.
“Kami tentu senang karena peningkatan ini sangat membantu ekonomi keluarga,” ujarnya.
Untuk memenuhi kebutuhan pasokan, Abas setiap pagi membeli daun pisang dari petani di sejumlah wilayah di Kabupaten Lebak. Daun tersebut dibeli dengan harga sekitar Rp200 per pelapah, bahkan terkadang didatangkan dari daerah perbatasan Kabupaten Serang.
Setelah dikumpulkan, daun pisang tersebut kemudian diikat dan dijual kembali kepada tengkulak pada sore hari untuk didistribusikan ke Jakarta.
“Biasanya sore hari sudah diambil tengkulak untuk dibawa ke Pasar Kebayoran,” kata Abas.
Hal serupa juga dirasakan Herman (45), pedagang lainnya di Lebak. Ia menyebut omzet penjualannya kini mencapai Rp1,8 juta per hari, meningkat dari sebelumnya sekitar Rp900.000.
“Saat ini saya bisa memasok hingga enam koli per hari. Dulu rata-rata hanya tiga koli,” ujar Herman.
Ia menjelaskan, jenis daun pisang yang paling diminati adalah pisang kelutuk karena memiliki tekstur yang lebih kuat dan tidak mudah robek, sehingga cocok digunakan sebagai pembungkus makanan.
Herman biasanya mendapatkan pasokan dari petani yang berada di kawasan bantaran Daerah Aliran Sungai (DAS) Ciujung. Wilayah tersebut dikenal subur dan cocok untuk budidaya tanaman pisang.
“Kami beli dari petani sekitar Rp150 per pelapah,” katanya.
Sementara itu, seorang tengkulak daun pisang, Samsuri (50), mengatakan peningkatan permintaan juga berdampak besar pada usahanya. Ia mengaku kini mampu mencatat omzet hingga Rp30 juta per hari, meningkat dari sebelumnya sekitar Rp15 juta.
“Kenaikan ini memang dipicu oleh mahalnya harga plastik, sehingga banyak yang beralih ke daun pisang,” ujar Samsuri.
Menurut dia, tren penggunaan daun pisang sebagai pembungkus diperkirakan masih akan terus meningkat, seiring kesadaran masyarakat terhadap penggunaan bahan yang lebih ramah lingkungan.
Penulis: Noma
Editor: Antoni














