Jalan Panjang Anak Badui Menjual Madu Odeng hingga Menembus Kota

Jasa Maklon Sabun

Lebak, Jurnalkota.co.id

Terik matahari menyengat Kota Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Banten, siang itu. Di sebuah pos keamanan yang sudah lama tak terpakai, dua remaja duduk berteduh sambil mengusap peluh.

Keduanya adalah kakak beradik warga Badui Dalam, Sarip (16) dan Samid (14).

Di samping mereka tergeletak dua kantong besar berisi 40 botol madu Odeng, madu hutan yang sejak lama menjadi salah satu sumber penghidupan masyarakat adat Badui di Desa Kanekes, Kabupaten Lebak.

Bagi masyarakat Badui Dalam, madu bukan sekadar barang dagangan. Cairan manis itu merupakan hasil perjalanan panjang melintasi hutan, perbukitan, hingga jalanan beraspal yang ditempuh dengan berjalan kaki.

Aturan adat melarang warga Badui Dalam menggunakan kendaraan bermotor. Karena itu, Sarip dan Samid mengandalkan langkah kaki untuk membawa madu dari Kampung Cikeusik menuju berbagai daerah pemasaran di Banten, DKI Jakarta, hingga Jawa Barat.

Mereka berangkat sejak Selasa (12/5/2026). Selain membawa madu, keduanya hanya menenteng pakaian seadanya.

Dalam perjalanan, mereka sempat bermalam di Polsek Cimarga sebelum kembali melanjutkan perjalanan menyusuri jalur Rangkasbitung-Tangerang sambil menawarkan madu dari rumah ke rumah dan di sepanjang jalan.

“Kalau hari ini madu habis terjual, hari ini juga pulang,” ujar Sarip, Jumat (15/5/2026).

Siang itu, baru dua botol madu yang berhasil terjual. Namun wajah Sarip tetap tenang. Ia mengaku sudah terbiasa menjalani perjalanan serupa sejak usia 14 tahun.

Selama dua tahun terakhir, Sarip rutin berdagang madu untuk membantu perekonomian keluarga sekaligus memenuhi kebutuhan pribadinya. Kini, ia mulai mengajak adiknya belajar berdagang. Samid tercatat sudah empat kali ikut berjalan bersamanya.

Di lingkungan masyarakat Badui Dalam, anak-anak yang membantu orang tua menjual madu bukan hal asing. Banyak dari mereka sudah ikut berdagang sejak usia belia.

Madu Odeng yang mereka jual berasal dari lebah hutan di kawasan Gunung Kendeng, wilayah hutan lindung tanah ulayat Badui.

Dalam satu kali perjalanan, 40 botol madu yang dibawa Sarip dapat menghasilkan pendapatan sekitar Rp6,5 juta dengan harga jual berkisar Rp150.000 hingga Rp200.000 per botol.

Perjalanan menuju Tangerang biasanya ditempuh sekitar sepekan hingga seluruh madu habis terjual. Saat lelah, mereka beristirahat di pos keamanan atau kantor polisi. Ketika malam tiba, mereka mencari tempat aman untuk tidur.

Sarip mengaku tidak pernah berjualan hingga larut malam demi menghindari tindak kejahatan.

“Kalau sudah habis di Tangerang, kami pulang lagi ke Badui. Perjalanannya dua hari,” katanya.

Sarip dan Samid berjalan tanpa alas kaki melewati aspal panas, jalan berbatu, hingga kerikil tajam. Namun mereka mengaku sudah terbiasa. Rasa lelah seakan kalah oleh tekad membawa uang pulang untuk keluarga.

“Kami senang kalau madu habis terjual dan bisa membawa uang untuk keluarga,” ujar Sarip.

Semangat serupa dimiliki Santa (55), warga Badui Luar yang rutin berjalan kaki menjual madu Odeng hingga Cilegon dan Merak. Dari Serang, ia menempuh perjalanan sekitar 20 kilometer dengan berjalan kaki.

Selama lima tahun terakhir, Santa berkeliling menjajakan madu ke Serang, Cilegon, Merak, bahkan Jakarta. Dalam sepekan, ia mampu menjual sekitar 35 botol madu dengan pendapatan mencapai Rp4 juta.

Menurut Santa, permintaan madu Odeng tetap tinggi karena banyak pelanggan percaya khasiatnya bagi kesehatan.

“Pelanggan kami banyak, mulai masyarakat biasa sampai pengusaha,” katanya.

Namun produksi madu tidak selalu stabil karena bergantung pada perkembangan lebah Odeng yang bersarang di pohon-pohon besar kawasan Gunung Kendeng.

Budidaya dilakukan secara tradisional. Madu diambil langsung dari sarang lebah untuk kemudian diperas menjadi cairan madu siap jual.

Belakangan, produksi meningkat seiring perubahan musim dari penghujan menuju kemarau. Banyak pohon berbunga dan menghasilkan nektar melimpah sehingga satu sarang dapat menghasilkan empat hingga enam botol madu.

“Sekarang produksi bisa sampai 40 botol per pekan,” ujar Santa.

Sementara itu, Sekretaris Desa Kanekes Medi mengatakan madu Odeng hingga kini masih menjadi salah satu tulang punggung ekonomi masyarakat adat Badui.

Menurut dia, saat musim peralihan dan pepohonan mulai berbunga, produksi madu meningkat cukup signifikan sehingga aktivitas perdagangan warga menjadi lebih ramai.

“Hampir setiap hari ada warga Badui yang berangkat menjual madu ke luar daerah,” katanya.

Meski demikian, pemerintah desa terus mengingatkan warga agar tidak berdagang hingga dini hari. Imbauan itu disampaikan setelah seorang warga Badui Dalam bernama Refan menjadi korban pembegalan saat berjualan di Jakarta pada malam hari.

“Kami tidak ingin kejadian serupa terulang,” ujar Medi.

Pemerintah desa juga menerbitkan surat jalan bagi warga Badui Dalam yang hendak berdagang ke luar daerah. Surat tersebut memuat alamat, nomor telepon, serta tujuan perjalanan karena sebagian besar warga belum memiliki identitas resmi.

Selain itu, pemerintah desa rutin memantau keberadaan warga melalui komunikasi WhatsApp selama mereka berdagang di luar wilayah adat.

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Koperasi dan UKM Kabupaten Lebak Imam Suangsa mengatakan budidaya madu Odeng telah masuk kategori usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) yang terus didorong agar berkembang.

Menurut dia, masyarakat Badui memiliki kemampuan turun-temurun dalam membudidayakan lebah Odeng dan pemerintah berupaya memperkuat pembinaan agar kualitas madu tetap terjaga.

“Madu Odeng Badui sudah diterima pasar luar daerah karena kualitasnya dinilai baik,” kata Imam.

Ia menambahkan, perputaran ekonomi dari usaha madu Odeng diperkirakan mencapai miliaran rupiah setiap tahun.

Selain madu, masyarakat Badui juga menghasilkan berbagai produk lain seperti kain tenun tradisional, tas koja, batik, golok, hingga aneka cendera mata.

“Kami berharap madu Odeng menjadi salah satu andalan ekonomi masyarakat Badui,” ujarnya.

Di tengah derasnya perubahan zaman, langkah kaki Sarip dan Samid yang menyusuri jalanan tanpa alas kaki menjadi gambaran tentang bagaimana tradisi, ketekunan, dan perjuangan ekonomi terus berjalan berdampingan di tanah Badui.

 

Penulis: Noma
Editor: Antoni

Jasa Maklon Skincare Tangerang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *