www, jurnalkota.co.id
Oleh: Rut Sri Wahyuningsih
Institut Literasi dan Peradaban
Kamis, 28 Mei 2025, Presiden Prabowo Subianto menerima tanda jasa kehormatan Prancis ‘Grand-croix de la Lgion d’honneur’ di Lapangan Sapta Marga Akmil Magelang, yang penyematannya langsung dilakukan oleh Presiden Prancis Emmanuel Macron.
Grand Croix de la Légion d’Honneur merupakan penghargaan kehormatan tertinggi di Prancis, yang mengakui pencapaian luar biasa dalam pengabdian kepada negara. Medali Grand Croix hanya diberikan kepada sosok-sosok luar biasa yang dinilai telah memberikan jasa besar, baik di tingkat sipil maupun militer.
Penyematan ini juga menjadi lambang persahabatan mendalam antarnegara, sekaligus bentuk pengakuan global atas peran penting Indonesia di kancah internasional. Sedangkan, dalam konteks kunjungan kenegaraan, medali tersebut menjadi simbol penghargaan atas kontribusi Presiden Prabowo dalam memperkuat kerja sama strategis antara Indonesia dan Prancis, terutama dalam bidang pertahanan, diplomasi damai, dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia (setkab.go.id, 29-5-2025).
Dalam pertemuan itu sekaligus Prabowo mengatakan bahwa Indonesia akan mengakui Israel kalau mereka mengakui kemerdekaan Palestina, satu-satunya kemerdekaan bagi Palestina adalah dengan solusi dua negara tambahnya (tempo.co, 30-5-2025).
Solusi dua negara merupakan proposal kerangka perdamaian konflik Palestina-Israel dengan membagi kawasan saat ini menjadi dua negara, satu untuk Palestina dan lainnya untuk Israel. Solusi ini disepakati Perdana Menteri Israel saat itu, Yitzhak Rabin, dan ketua Organisasi Pembebasan Palestina atau PLO Yasser Arafat pada September 1993. Perjanjian ini dikenal sebagai Perjanjian Oslo.
Tak hanya itu, Prabowo juga mengatakan Indonesia akan menjamin Israel untuk berdiri sebagai negara berdaulat dan menjamin keamanannya. Bahkan, kata Prabowo, Indonesia siap mengirim pasukan perdamaian di perbatasan keduanya. Prabowo mendukung upaya Prancis dan Arab Saudi untuk menyelenggarakan KTT pada Juni di New York, Amerika Serikat, untuk mendorong solusi dua negara dan mewujudkan perdamaian di Timur Tengah.
PBB telah menjadwalkan konferensi tingkat tinggi mengenai solusi dua negara yang akan diselenggarakan pada 17–20 Juni 2025 di New York. Dikutip dari situs resmi United Nations, konferensi ini diketuai oleh Prancis dan Arab Saudi. Keduanya menekankan perlunya konferensi bulan Juni untuk menegaskan perdamaian konkret Palestina dan Israel.
Pro Kontra Solusi Dua Negara
Guru besar Hukum Internasional Universitas Indonesia, Hikmahanto Juwana, mengatakan pernyataan pengakuan Israel selaras dengan kebijakan solusi dua negara (two states Solution) yang memang didukung Indonesia. Sayang solusi ini selalu terkendala Hamas, karena memiliki prinsip Palestina merdeka adalah tanah Palestina tanpa negara Israel.
Solusi Two Nation adalah kesepakatan lama yang tak hanya dihasilkan dari perjanjian Oslo, tapi juga forum Arab Peace Initiative dan yang menolak Netanyahu sendiri jauh sebelum dia menjadi perdana menteri, artinya penolak utama solusi ini adalah Israel sendiri.
Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerjasama Internasional, Sudarnoto Abdul Hakim, mengatakan dukungan Indonesia untuk Palestina tetap harus menjadi prioritas karena sesuai dengan Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 yang menegaskan bahwa Indonesia mendukung kemerdekaan bangsa lain sekaligus menolak penjajahan.
Sebelum Indonesia membuka hubungan diplomatik, Sudarnoto mengatakan, Israel harus dihukum sesuai dengan hukum internasional terlebih dahulu. Sudarnoto juga mendesak penangkapan Netanyahu karena telah melakukan kejahatan kemanusiaan.
Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Anwar Abbas menegaskan bahwa hubungan diplomatik antara Indonesia dan Israel bisa terjadi asalkan Palestina menjadi sebuah negara yang merdeka dan berdaulat. Israel harus bertanggung jawab terhadap tindakan genosida dan semua kejahatan kemanusiaan lainnya yang telah mereka lakukan selama ini terhadap rakyat Palestina.
Kebijakan Kontroversial Bukti Negara Tak Memiliki Waspol yang Benar
Apakah karena kebijakan Prabowo ini sehingga ia mendapatkan penghargaan dari Perancis? Namun sejatinya sangat fatal, penghargaan dari negara kafir pendukung penjajahan apa istimewanya? Sebagai pemimpin negeri muslim terbesar di dunia semestinya Prabowo tidak menerima penghargaan itu.
Terlebih jika penghargaan itu dikaitkan dengan Prabowo terhadap pencapaian luar biasa dalam pengabdian kepada negara sangat-sangat tidak relevan. Apakah membiarkan negara penjajah yang seharusnya dibinasakan mendapatkan negara secara defakto dan deyure bisa ditolerir? UUD 1945 kita saja mengamalkan penjajahan harus dihapuskan dari muka bumi, karena tidak sesuai dengan peri kemanusiaan dan peri keadilan. Bukankah jika kita melanggarnya sama dengan kita bertindak inkonstitusional?
Solusi dua negara sesungguhnya ide yang sangat batil. Sampai kapan pun tanah Palestina adalah milik kaum muslim. Yang ditandai dengan penerimaan kunci Baitul Maqdis oleh Umar bin Khattab pasca ditandatangani Perjanjian al-Uhda al-Umariyyah atau lebih dikenal dengan perjanjian Al-Umairiyyah . Perjanjian ini ditandatangani oleh Umar dan Patriark Sophronius pemuka agama Kristen Ortodoks Yerusalem saat itu, bersama beberapa jenderal tentara Muslim.
Penyerahan kunci tersebut dilakukan sebagai upaya diplomasi, yang berarti tanpa ada unsur paksaan sama sekali. Perjanjian itu berisikan penjagaan Islam atas kebebasan umat lain memeluk agamanya, kewajiban penduduknya untuk membayar pajak (kharaj) dan pelarangan Yahudi untuk masuk di tanah Palestina. Bukankah hari ini bisa disebut telah terjadi pelanggaran atas isi perjanjian itu? Karena sebagai pemimpin muslim justru duduk semeja dengan pemimpin kafir yang mendukung pembunuhan atas kaum muslim lainnya.
Israel dengan jumawanya bisa menikmati wilayah Palestina karena dukungan negara besar seperti Amerika dan Prancis, yang semestinya ia sudah pergi diusir oleh tentara muslim. Bukti betapa lemahnya pemimpin muslim di hadapan tuannya. Hingga hanya didapati solusi Palestina adalah dibagi dua untuk dua negara. Layakkah Israel mendapatkan kesempatan mendapatkan pengakuan sebagai negara yang utuh?
Apakah Prabowo lupa, begitu banyaknya penduduk Palestina yang meregang nyawa karena serangan Israel, padahal kebanyak adalah wanita dan anak-anak. Israel memblokade bantuan makanan dari berbagai negara sehingga kelaparan parah melanda Gaza, dan dengan brutalnya, berita terbaru Israel pun membom sebuah pesawat yang berisi jamaah haji asal Yaman. Astaghfirullah.
Pemimpin dengan wawasan politik sempit lagi sekular sangatlah membahayakan. Alih-alih menjadi bagian dari kontelasi internasional namun sesungguhnya hanyalah jongos bangsa kafir. Saatnya kembalikan kepada pengaturan syariat Islam, dimana kita meyakininya sebagai satu kesatuan dalam akidah sebagai seorang muslim.
Jihad dan Khilafah Solusi Terbaik bagi Palestina
Islam adalah agama yang terdiri dari akidah dan syariat. Artinya, bagi setiap pemeluknya ada kewajiban mengimani dengan membenarkan (akidah) juga ada kewajiban mengamalkan (syariat). Keduanya selalu beriringan, sebagaimana firman Allah SWT. yang artinya, ” Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran kepada mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (TQS Al-Baqarah:62).
Maka, sebagai muslim sewajibnyalah kembali kepada syari’at dalam memandang persoalan Palestina. Bukan semata berjuang untuk kemerdekaannya tapi benar-benar menghapuskan penjajahan bercokol di atas tanahnya atau di bumi manapun berada. Penjajahan tak pernah dibenarkan ada di muka bumi ini, sayangnya organisasi internasional yang ada, bahkan yang di dalamnya berkumpul kaum muslim sekalipun tak pernah berhasil benar-benar menegakkan penghapusan penjajahan.
Hanya dengan jihad atas komando seorang Khalifah Palestina bisa bebas merdeka. Tegaknya kembali junnah atau perisai umat ini hanya dengan persatuan kaum muslim yang berjalan bersama dengan partai idiologis. Sebagaimana sabda Rasulullah Saw. , ”Sesungguhnya al-imam (khalifah) itu perisai yang (orang-orang) akan berperang mendukungnya dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan)-nya.” (HR Muttafaqun ’Alayh dan lain-lain). Wallahulam bissawab.**








