Jakarta, Jurnalkota.co.id
Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas I Cipinang tidak hanya memastikan kegiatan belajar mengajar bagi warga binaan tetap berlangsung, tetapi juga membangun budaya evaluasi untuk meningkatkan kualitas pembelajaran secara berkelanjutan.
Upaya tersebut dilakukan melalui forum evaluasi yang diikuti para tutor Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Warga Mandiri, Jumat (25/9/2026). Dalam forum itu, para tutor membawa pengalaman selama satu pekan di ruang kelas untuk dibahas dan dijadikan dasar penyempurnaan pembelajaran berikutnya.
Evaluasi dilakukan karena kondisi yang ditemui tutor di dalam kelas tidak selalu sama dengan rencana pembelajaran yang telah disusun. Perbedaan kemampuan, respons, dan kebutuhan setiap peserta mengharuskan tutor menyesuaikan metode agar materi dapat diterima secara lebih efektif.
AV, salah seorang tutor PKBM Warga Mandiri, mengatakan forum evaluasi memberikan kesempatan kepada para pengajar untuk saling bertukar pengalaman. Berbagai persoalan yang ditemukan di kelas dapat dibahas bersama sehingga tutor tidak harus mencari solusi secara individual.
“Setelah mengajar, kami jadi tahu bagian mana yang mudah diterima, mana yang masih sulit, dan bagaimana respons peserta. Di forum ini pengalaman itu bisa kami diskusikan bersama sehingga pada pertemuan berikutnya kami tidak sekadar mengulang cara yang sama,” ujar AV.
Menurut dia, setiap kelas mempunyai dinamika berbeda. Metode yang berhasil diterapkan pada satu kelompok belum tentu memberikan hasil serupa ketika digunakan pada kelompok lainnya.
Karena itu, tutor perlu memahami perkembangan setiap peserta serta mengevaluasi efektivitas metode yang digunakan. Hasil evaluasi kemudian menjadi bahan untuk menyesuaikan strategi dan materi pada pertemuan selanjutnya.
Pengalaman tutor menjadi bahan perbaikan
Dalam forum tersebut, para tutor membahas dinamika kelas, respons peserta, efektivitas metode pengajaran, kendala selama proses belajar, serta kebutuhan tindak lanjut.
Melalui pola itu, pengalaman tutor tidak berhenti sebagai catatan pribadi. Setiap temuan diolah menjadi umpan balik bersama untuk memperbaiki proses pembelajaran di PKBM Warga Mandiri.
Evaluasi tersebut diharapkan membentuk siklus perbaikan yang berjalan secara konsisten. Tutor merencanakan pembelajaran, melaksanakan kegiatan di kelas, mencermati respons peserta, lalu membahas hasilnya untuk menentukan langkah berikutnya.
Kepala Lapas Kelas I Cipinang Syarpani menegaskan, kualitas pendidikan tidak cukup diukur dari terlaksananya kegiatan belajar mengajar. Evaluasi tetap diperlukan untuk memastikan proses pembelajaran benar-benar menjawab kebutuhan warga binaan.
“Kelas yang berjalan belum tentu berarti proses belajarnya sudah optimal. Kita harus melihat apa yang berhasil, apa yang belum, dan apa yang dibutuhkan peserta,” kata Syarpani.
Ia menambahkan, evaluasi harus diikuti langkah perbaikan yang nyata. Dengan demikian, kegiatan belajar tidak hanya menjadi rutinitas, tetapi mampu memberikan pengetahuan dan keterampilan yang bermanfaat bagi peserta.
“Evaluasi harus menghasilkan perbaikan agar setiap pembelajaran semakin bermakna bagi warga binaan,” tegasnya.
Menurut Syarpani, pendidikan menjadi bagian penting dalam proses pembinaan. Melalui pembelajaran yang terarah dan berkelanjutan, warga binaan diharapkan memperoleh bekal yang dapat digunakan setelah menyelesaikan masa pidana dan kembali ke tengah masyarakat.
Perkuat tata kelola pendidikan
Pembina PKBM Warga Mandiri Septiyawan mengatakan, penguatan tidak hanya dilakukan terhadap kegiatan belajar di dalam kelas, tetapi juga menyentuh tata kelola pendidikan.
PKBM Warga Mandiri telah melaksanakan kewajiban sinkronisasi Data Pokok Pendidikan (Dapodik). Langkah itu berjalan seiring dengan pemetaan kebutuhan pendidikan peserta, penguatan kapasitas tutor, penataan administrasi, serta pengembangan metode pembelajaran yang lebih kontekstual dan partisipatif.
Menurut Septiyawan, seluruh unsur tersebut harus berjalan bersama. Kualitas pembelajaran akan sulit ditingkatkan apabila tidak didukung data peserta yang akurat, administrasi yang tertib, dan kesiapan tutor dalam menghadapi kebutuhan belajar yang beragam.
“Yang kami benahi bukan hanya kegiatan belajar di kelas. Administrasi pendidikan, data peserta, kesiapan tutor, hingga evaluasi pembelajaran harus berjalan beriringan,” ujar Septiyawan.
Ia mengatakan, pembenahan tata kelola diperlukan agar pendidikan kesetaraan di dalam lapas dapat dilaksanakan secara terencana dan dievaluasi dengan ukuran yang jelas.
“Dengan begitu, layanan pendidikan kesetaraan dapat dikelola secara lebih tertib, terukur, dan berkelanjutan,” katanya.
Pendidikan melalui PKBM Warga Mandiri memberikan kesempatan kepada warga binaan untuk tetap memperoleh layanan pendidikan selama menjalani masa pembinaan. Namun, penyediaan akses belajar perlu disertai upaya menjaga mutu agar program tersebut mampu memberikan hasil yang optimal.
Karena itu, evaluasi tutor menjadi bagian penting dalam memastikan materi, metode, dan pola pendampingan tetap sesuai dengan kondisi serta kebutuhan peserta.
Program tersebut juga menjadi bagian dari penguatan pendidikan kesetaraan bagi narapidana dan anak binaan sebagaimana tercantum dalam poin ke-11 dari 15 Program Aksi Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan.
Melalui PKBM Warga Mandiri, Lapas Cipinang berupaya memastikan pendidikan bagi warga binaan tidak hanya tersedia, tetapi juga dikelola secara terstruktur dan berkelanjutan.
Pembenahan mutu pembelajaran, peningkatan kapasitas tutor, dan penataan administrasi diharapkan dapat memperkuat fungsi pendidikan sebagai salah satu bekal warga binaan ketika kembali menjalani kehidupan di tengah keluarga dan masyarakat.














