Lingkungan Rusak, 720 Warga Maja Tuntut Presiden Hentikan Tambang Tanah

Jasa Maklon Sabun

Lebak, Jurnalkota.co.id

Ribuan debu yang beterbangan dan kondisi jalan berlumpur terus menghantui warga di sepanjang jalur Maja–Koleang. Debu menempel di atap rumah, jemuran pakaian, perlengkapan belajar hingga alat salat di mushola. Ketika hujan turun, jalan berubah menjadi lumpur licin yang kerap menyebabkan motor terperosok dan membahayakan pelajar, Sabtu (29/11/2025).

Sumber persoalan tersebut berasal dari aktivitas ratusan truk pengangkut tanah bermuatan tanah dari Curugbitung menuju kawasan utara untuk proyek besar PIK yang melintas saban hari. Kondisi ini sudah berlangsung bertahun-tahun tanpa penanganan berarti.

Ratusan Warga Teken Penolakan Aktivitas Tambang Tanah

Sejumlah tokoh masyarakat Maja mengonfirmasi bahwa sebanyak 720 warga telah menandatangani dokumen penolakan resmi terhadap kegiatan galian tanah dan lalu lintas truk tambang. Tanda tangan tersebut berasal dari beragam kelompok masyarakat: orang tua, pedagang kecil, guru ngaji, ibu rumah tangga, hingga para kiai dan ustadz yang setiap hari merasakan dampak kerusakan lingkungan.

Dokumen penolakan itu menjadi penegasan bahwa warga bukan sekadar mengeluh, tetapi mengambil sikap bersama dan menuntut pemerintah hadir memberi solusi.

Debu dan Lumpur: Warga Hidup dalam Lingkungan Tidak Layak

Debu tebal menyelimuti jalan, masuk ke rumah, warung, hingga ruang belajar santri. Anak-anak kerap mengalami batuk berkepanjangan, sementara pedagang kehilangan pelanggan karena kondisi lingkungan yang dianggap tidak sehat.

Saat hujan, jalur tersebut berubah menjadi lumpur licin. Banyak pengendara motor terjatuh, pelajar terpeleset, dan warga harus memutar rute lebih jauh demi keselamatan.

“Lingkungan kami bukan hanya rusak, tapi membahayakan hidup,” ujar seorang warga yang rumahnya hanya berjarak tiga meter dari jalur tambang.

Diduga Langgar Jam Operasional, Kepgub Tidak Berjalan

Para kiai dan tokoh masyarakat menyebut truk tanah diduga melanggar Keputusan Gubernur Banten Nomor 567 Tahun 2025 yang mengatur jam operasional angkutan tambang. Truk tetap melintas pada dini hari, sore, bahkan hingga malam saat warga beristirahat.

Pengawasan dinilai minim, dan masyarakatlah yang harus menanggung risiko.

“Kami memohon Presiden Prabowo mendengar jeritan warga kecil ini,” kata KH Ahmad Yunani, tokoh masyarakat Maja.

Ia menegaskan bahwa permintaan ini bukan bentuk penolakan terhadap pembangunan, melainkan upaya mempertahankan hak warga untuk hidup di lingkungan yang layak.

Tuntutan Warga: Penutupan Permanen Aktivitas Tambang Tanah

Masyarakat Maja menyampaikan lima tuntutan utama:

1. Penutupan permanen seluruh tambang tanah di Curugbitung–Lebak.

2. Penertiban armada truk yang melanggar jam operasional dan tidak memenuhi standar keselamatan.

3. Audit menyeluruh terkait izin tambang, jalur distribusi tanah, dan rantai pasok untuk proyek reklamasi.

4. Pemulihan lingkungan melalui pembersihan debu dan perbaikan jalan.

5. Intervensi Presiden Prabowo untuk melindungi kesehatan dan keselamatan masyarakat.

Harapan dari Maja untuk Pemerintah Pusat

Surat penolakan yang ditandatangani 720 warga beserta laporan pendukung rencananya akan dikirimkan kepada pemerintah pusat. Warga berharap Presiden Prabowo Subianto memberikan instruksi tegas agar eksploitasi tambang yang berdampak pada keselamatan dan kesehatan masyarakat segera dihentikan.

Warga Maja menegaskan, mereka tidak menuntut fasilitas mewah. Mereka hanya ingin hidup tanpa debu, beraktivitas tanpa lumpur, dan memastikan anak-anak dapat bersekolah tanpa takut kecelakaan akibat aktivitas tambang tanah di kawasan mereka.

 

Penulis: Noma
Editor: Antoni

 

 

Jasa Maklon Skincare Tangerang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *