Lebak, Jurnalkota.co.id
Relawan Sahabat Relawan Indonesia (SRI) mencatat sebanyak 22 warga Badui di pedalaman Kabupaten Lebak, Banten, menjadi korban gigitan ular berbisa jenis ular tanah sepanjang Januari hingga 15 April 2026. Dari jumlah tersebut, satu orang dilaporkan meninggal dunia.
Koordinator Relawan SRI, Muhammad Arif Kirdiat, mengatakan tingginya kasus gigitan ular tidak terlepas dari aktivitas harian masyarakat Badui yang hidup berdampingan dengan alam, terutama saat membuka lahan pertanian di kawasan hutan.
“Dari 22 warga korban gigitan ular berbisa itu, dilaporkan satu orang meninggal dunia,” kata Arif saat dihubungi, Kamis (16/4/2026).
Kasus terbaru dialami Jarsah (24), warga Badui yang tinggal di Kampung Cipaler, Desa Kanekes. Ia menjadi korban gigitan ular tanah saat beraktivitas di ladang.
Beruntung, nyawa Jarsah berhasil diselamatkan setelah mendapatkan penanganan medis di RSUD Banten. Ia dibawa oleh Asep, relawan binaan SRI yang juga merupakan warga Badui.
Saat ini, kondisi Jarsah dilaporkan sudah membaik. Ia bahkan berpeluang pulang dalam waktu dekat setelah dinyatakan pulih oleh tim medis.
“Kebetulan korban memiliki Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dari BPJS PBI, sehingga bisa mendapatkan pelayanan medis secara gratis,” ujar Arif.
Menurut Arif, kasus gigitan ular berbisa menjadi ancaman serius bagi masyarakat Badui karena pola hidup mereka yang bergantung pada hutan dan ladang. Aktivitas membuka lahan pertanian menjadi momen paling rawan terjadinya insiden tersebut.
Masyarakat Badui selama ini mengandalkan hasil ladang untuk memenuhi kebutuhan pangan dan ekonomi keluarga. Mereka menanam berbagai komoditas seperti padi huma, sayuran, jahe, kencur, pisang, hingga jagung.
Namun, aktivitas tersebut juga membawa risiko tinggi, terutama saat berhadapan dengan satwa liar seperti ular berbisa yang kerap ditemukan di area hutan dan ladang.
“Jika korban tidak segera dibawa ke fasilitas kesehatan, gigitan ular bisa berakibat fatal hingga menyebabkan kematian,” kata Arif.
Untuk mengantisipasi kondisi darurat, Relawan SRI telah menyiapkan jaringan pertolongan melalui klinik binaan di wilayah Badui. Relawan setempat berperan penting dalam melakukan evakuasi awal sebelum korban dirujuk ke rumah sakit.
“Kami beruntung memiliki relawan binaan yang juga warga Badui. Jika ada warga yang sakit parah atau menjadi korban gigitan ular, mereka bisa segera dibawa ke Klinik SRI, lalu dirujuk ke RSUD Adjidarmo atau RSUD Banten,” jelasnya.
Sementara itu, keluarga Jarsah mengaku bersyukur atas penanganan cepat yang diberikan tenaga medis. Mereka berharap Jarsah dapat segera kembali ke kampung dalam kondisi sehat.
“Kami senang Jarsah sudah ditangani di RSUD Banten dan kondisinya membaik. Semoga hari ini bisa pulang setelah dinyatakan sembuh,” ujar Pulung, salah satu anggota keluarga korban.
Kasus ini menjadi pengingat akan tingginya risiko kesehatan yang dihadapi masyarakat adat Badui, terutama dalam keterbatasan akses terhadap layanan medis di wilayah pedalaman.
Penulis: Noma
Edotor: Antoni








