Oleh: Juliana Najma
Pegiat Literasi, Alumni Universitas Negeri Yogyakarta
Media sosial kini menjadi ruang yang tak asing bagi hampir semua orang. Laporan Global Digital Reports dari Data Reportal menyebut, ada lebih dari 5,25 miliar pengguna aktif media sosial di dunia (detikEdu, 18/9/2025). Kehidupan manusia pun berada di era paling terhubung sepanjang sejarah. Cukup dengan satu sentuhan layar, seseorang bisa memasuki ruang obrolan, komunitas daring, atau sekadar menyapa teman di dunia maya. Tak heran, banyak orang betah berlama-lama berselancar di sana.
Data Universitas Siber Asia (1/2/2024) bahkan mencatat, rata-rata warga Indonesia menghabiskan 7 jam 42 menit setiap hari untuk menjelajahi internet. Namun, keterhubungan yang semu ini tidak menghapus rasa sepi. Linimasa yang dipenuhi konten hiburan dan kisah personal sering kali justru menimbulkan keterasingan.
Kesepian di Tengah Keramaian
Jika dahulu kesepian identik dengan kondisi fisik—seseorang yang hidup sendiri atau jauh dari keluarga—maka kini ia tampil lebih halus, tersamar di balik senyum media sosial, tersembunyi di antara notifikasi yang tak henti berbunyi. Fenomena ini dikenal sebagai loneliness in the crowd, sepi di tengah keramaian.
Teori hiperrealitas menjelaskan, representasi digital kerap dianggap lebih nyata dibanding realitas itu sendiri. Emosi yang diciptakan media pun mampu memengaruhi kesehatan mental dan hubungan sosial (detikEdu, 18/9/2025). Generasi Z, yang dikenal sebagai digital native, menjadi kelompok paling rentan. Mereka banyak dilanda rasa kesepian, insecure, hingga gangguan kesehatan mental seperti kecemasan dan depresi.
Sistem Sekuler-Liberal dan Kapitalisme
Persoalan ini tidak semata soal literasi digital atau manajemen gawai. Lebih dalam, sistem sekuler-liberal yang memisahkan agama dari kehidupan membuat umat, khususnya generasi muda Muslim, jauh dari identitas sejatinya sebagai hamba Allah. Arus liberalisme memperkuat standar kesuksesan berbasis materi dan status sosial, sehingga melahirkan budaya perbandingan yang tidak realistis di media sosial.
Kapitalisme memperburuk situasi dengan menciptakan logika attention economy, menjadikan perhatian manusia sebagai komoditas. Setiap detik tatapan layar adalah keuntungan miliaran bagi korporasi. Interaksi di media sosial pun kerap bersifat transaksional, berorientasi pada citra diri yang ideal, sementara hubungan dalam keluarga maupun masyarakat menjadi renggang.
Akibatnya, lahirlah generasi yang rapuh: kesepian, terasing, dan kehilangan daya produktif. Padahal, generasi muda memiliki potensi besar untuk berkarya dan memberi kontribusi nyata bagi masyarakat.
Jalan Keluar
Islam menawarkan solusi dengan menegaskan bahwa hidup adalah ibadah kepada Allah, dan kesuksesan seorang Muslim diukur melalui ketaatan serta amal saleh. Media sosial seharusnya dimanfaatkan untuk memperkuat kesadaran umat, menyebarkan opini yang membangkitkan, serta menghubungkan kembali setiap aktivitas dengan tujuan mencari keridaan Allah.
Peran negara juga penting dalam mengatur pemanfaatan ruang digital agar lebih sehat, serta mendorong generasi muda menjadi produktif. Hanya dengan kembali kepada nilai-nilai Islam secara kaffah, umat dapat keluar dari jebakan kesepian semu yang diciptakan sistem sekuler-liberal.
Wallahu a’lam bishawab.








