Menteri Bappenas Kagum Potensi UMKM dan Budaya Kepri, Soroti Peluang Industri Berbasis Laut

Jasa Maklon Sabun

Tanjungpinang, Jurnalkota.co.id

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) RI, Rachmat Pambudy, mengaku terkesan dengan kekayaan budaya serta perkembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang dimiliki Provinsi Kepulauan Riau (Kepri).

Kekaguman tersebut disampaikan Rachmat saat melakukan kunjungan kerja ke Kota Tanjungpinang, Kamis (28/5/2026). Dalam kunjungan tersebut, ia didampingi Gubernur Kepri Ansar Ahmad untuk meninjau sejumlah pusat ekonomi kreatif dan kawasan budaya yang menjadi kebanggaan masyarakat Kepri.

Salah satu lokasi yang dikunjungi adalah Gedung Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi Kepulauan Riau. Di tempat itu, Menteri Bappenas melihat langsung berbagai produk unggulan hasil karya pelaku UMKM lokal yang selama ini menjadi bagian penting penggerak ekonomi daerah.

Beragam produk khas Kepri dipamerkan di Gedung Dekranasda, mulai dari makanan olahan berbahan dasar gonggong, batik khas Melayu, anyaman tikar pandan, hingga kerajinan tangan yang memanfaatkan limbah cangkang gonggong sebagai bahan baku bernilai ekonomi.

Rachmat bahkan menyempatkan diri menyaksikan langsung proses penenunan kain tradisional yang dilakukan para perajin lokal. Menurutnya, produk-produk UMKM Kepri memiliki kualitas yang baik dan mampu bersaing karena didukung kemasan yang menarik serta tata kelola pemasaran yang semakin modern.

“Saya melihat produk-produk UMKM di sini sangat baik. Kemasannya bagus, penataannya juga rapi dan modern. Ini menunjukkan bahwa pelaku UMKM Kepri memiliki potensi besar untuk terus berkembang,” ujarnya.

Menurut Rachmat, keberadaan Gedung Dekranasda Kepri juga menjadi contoh bagaimana pemerintah daerah menghadirkan wadah terpadu yang mampu membantu promosi sekaligus pemasaran produk-produk lokal.

Ia menilai konsep yang diterapkan Dekranasda Kepri dapat memperkuat daya saing UMKM sekaligus membuka peluang pasar yang lebih luas bagi para pelaku usaha.

Selain menyoroti sektor ekonomi kreatif, Menteri Bappenas juga melihat potensi besar sumber daya kelautan yang dimiliki Kepulauan Riau. Sebagai provinsi kepulauan yang sebagian besar wilayahnya terdiri dari lautan, Kepri dinilai memiliki peluang besar untuk mengembangkan industri berbasis hasil laut.

Rachmat secara khusus menyoroti produk-produk olahan ikan dan hasil laut lainnya yang menurutnya dapat dikembangkan menjadi produk unggulan nasional.

Bahkan, ia menyebut sejumlah produk olahan hasil laut berpotensi mendukung kebutuhan konsumsi jemaah haji Indonesia. Selain itu, produk turunan seperti minyak gamat dan berbagai suplemen kesehatan berbahan dasar laut juga memiliki prospek pasar yang menjanjikan.

“Ini bisa menjadi sumber penghasilan baru bagi Kepri melalui pengembangan industri berbasis sumber daya laut,” katanya.

Setelah meninjau Gedung Dekranasda, rombongan melanjutkan kunjungan ke Pulau Penyengat, salah satu kawasan bersejarah yang menjadi ikon budaya Melayu di Kepulauan Riau.

Di pulau yang dikenal sebagai pusat peradaban Melayu tersebut, Menteri Bappenas mengunjungi sejumlah situs penting, mulai dari masjid bersejarah, makam tokoh-tokoh Melayu, hingga balai adat yang menjadi bagian dari warisan budaya daerah.

Menurut Rachmat, Pulau Penyengat memiliki nilai sejarah dan budaya yang sangat kuat. Keberadaan situs-situs bersejarah tersebut menjadi modal penting dalam pengembangan sektor pariwisata berbasis budaya atau heritage tourism.

Ia menilai Kepulauan Riau memiliki kekuatan besar pada sektor ekonomi kreatif atau orange economy, yakni ekonomi yang bertumpu pada kreativitas, budaya, dan kekayaan intelektual masyarakat.

“Ekonomi oranye Kepri, termasuk Pulau Penyengat, cukup bagus. Jika dikelola dengan baik, Kepri bisa menjadi contoh,” ujarnya.

Meski demikian, Rachmat menilai masih terdapat ruang yang dapat dioptimalkan agar potensi wisata budaya di Pulau Penyengat mampu memberikan dampak ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat.

Menurut dia, berbagai elemen pendukung wisata sebenarnya sudah tersedia, mulai dari narasi sejarah (storytelling), paket wisata, hingga infrastruktur penunjang. Tantangan berikutnya adalah memperkuat promosi dan strategi pemasaran agar lebih dikenal luas oleh wisatawan domestik maupun mancanegara.

Ia pun mengapresiasi berbagai langkah penataan kawasan budaya Pulau Penyengat yang telah dilakukan Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau dalam beberapa tahun terakhir.

“Alhamdulillah banyak kemajuan. Tinggal dicari ruang-ruang yang masih bisa diimprove supaya dampaknya lebih besar lagi, karena sudah ada storytelling, sudah ada paket wisata, tinggal marketing-nya diperbesar,” kata Rachmat.

Kunjungan Menteri Bappenas tersebut diharapkan menjadi dorongan bagi pengembangan sektor UMKM, ekonomi kreatif, serta pariwisata budaya di Kepulauan Riau agar semakin berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi daerah dan kesejahteraan masyarakat.

 

Jasa Maklon Skincare Tangerang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *