Tanjungpinang, Jurnalkota.co.id
Pelaksanaan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) XII Tingkat Provinsi Kepulauan Riau di Kota Tanjungpinang tidak hanya menjadi ajang syiar Islam dan perlombaan tilawah Al Quran, tetapi juga memberikan dampak positif terhadap sektor ekonomi, khususnya industri perhotelan. Kehadiran ribuan kafilah, ofisial, panitia, tamu undangan, hingga pengunjung dari berbagai kabupaten dan kota di Kepulauan Riau membuat tingkat hunian hotel di Tanjungpinang mengalami peningkatan selama pelaksanaan MTQ.
Sejumlah pelaku usaha perhotelan mengakui agenda berskala provinsi tersebut menjadi salah satu faktor utama meningkatnya okupansi kamar dibandingkan hari-hari biasa. Bahkan, beberapa hotel mencatat tingkat hunian mencapai hampir 100 persen selama kegiatan berlangsung.
Salah satu hotel yang merasakan dampak tersebut adalah Hotel Melin yang berada di Jalan Pos, kawasan Kota Lama, Tanjungpinang. Hotel ini menjadi tempat menginap kafilah Kabupaten Kepulauan Anambas selama mengikuti MTQ XII Kepri.
Resepsionis Hotel Melin, Lina, mengatakan tingkat hunian hotel meningkat cukup signifikan sejak dimulainya pelaksanaan MTQ.
“Kalau tidak ada acara MTQ, biasanya memang tidak seramai ini. Sekarang dampaknya besar buat kami karena kamar lebih banyak terisi,” kata Lina, Rabu (8/7/2026).
Menurut dia, Hotel Melin memiliki 60 kamar. Namun, saat ini hanya 45 kamar yang dipasarkan karena sebagian kamar sedang tidak dioperasikan. Dari jumlah kamar yang tersedia tersebut, sekitar 80 persen berhasil terisi selama pelaksanaan MTQ XII Kepri.
Lina menjelaskan, selain keberadaan peserta MTQ, lokasi Hotel Melin yang berada di pusat Kota Tanjungpinang juga menjadi nilai tambah bagi para tamu. Hotel tersebut memiliki akses yang dekat menuju berbagai fasilitas umum dan destinasi wisata.
“Tamu yang menginap lebih mudah menuju restoran, kawasan Tugu Sirih, hingga Pelabuhan Sri Bintan Pura. Lokasi hotel yang strategis juga menjadi salah satu alasan mereka memilih menginap di sini,” ujarnya.
Ia berharap Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau maupun Pemerintah Kota Tanjungpinang semakin sering menggelar kegiatan berskala provinsi maupun nasional di ibu kota provinsi tersebut.
Menurut Lina, penyelenggaraan berbagai agenda besar terbukti memberikan manfaat langsung bagi pelaku usaha perhotelan, restoran, hingga sektor usaha lainnya.
“Tidak hanya MTQ, kami berharap event-event tingkat provinsi lainnya juga digelar di Tanjungpinang. Kalau kegiatan seperti ini sering ada, hotel-hotel tentu ikut merasakan manfaatnya karena tamu yang datang semakin banyak,” katanya.
Hal senada disampaikan Sales Marketing Hotel Alltrue, Alex Fatrisman. Ia mengatakan MTQ XII Kepri memberikan dampak positif terhadap tingkat okupansi hotel yang dikelolanya.
Bahkan sebelum MTQ berlangsung, Hotel Alltrue telah menjadi lokasi berbagai kegiatan persiapan yang dilaksanakan Pemerintah Kota Tanjungpinang, seperti simulasi dan pelatihan untuk mendukung kelancaran pelaksanaan MTQ.
Selama penyelenggaraan MTQ, Hotel Alltrue menjadi tempat menginap kafilah Kabupaten Bintan. Sebanyak 42 kamar digunakan oleh peserta dan ofisial kafilah tersebut.
Alex menjelaskan Hotel Alltrue memiliki total 82 kamar. Seluruh kamar yang dipasarkan berhasil terisi selama pelaksanaan MTQ.
“Alhamdulillah kamar kami terisi penuh. Selain kafilah MTQ dari Kabupaten Bintan, kami juga menerima tamu dari Singapura dan Malaysia. Dalam satu kali kunjungan, tamu mancanegara itu bisa memesan sekitar 10 sampai 15 kamar,” ujarnya.
Ia menilai dampak positif MTQ tidak hanya terlihat dari meningkatnya tingkat hunian kamar, tetapi juga dari tingginya pemanfaatan fasilitas pendukung hotel, termasuk ruang pertemuan yang digunakan untuk kegiatan simulasi dan persiapan sebelum pelaksanaan MTQ.
Menurut Alex, penyelenggaraan event berskala besar memiliki efek berganda (multiplier effect) terhadap sektor jasa dan pariwisata di Kota Tanjungpinang.
Karena itu, ia berharap pemerintah terus menghadirkan agenda-agenda berskala provinsi maupun nasional agar roda perekonomian daerah semakin bergerak.
Meski demikian, Alex menilai penyelenggaraan kegiatan besar juga perlu diimbangi dengan perencanaan yang matang, terutama terkait kapasitas akomodasi yang tersedia sehingga seluruh kebutuhan peserta dapat terpenuhi dengan baik.
Selain itu, ia mendorong pemerintah untuk terus memperkuat promosi destinasi wisata di Kota Tanjungpinang agar para tamu tidak hanya datang untuk menghadiri kegiatan, tetapi juga memperpanjang masa tinggal mereka.
Menurutnya, Tanjungpinang memiliki kekayaan wisata budaya, sejarah, religi, dan kuliner yang dapat menjadi daya tarik bagi wisatawan domestik maupun mancanegara.
“Tanjungpinang memiliki potensi wisata budaya, sejarah, religi, dan kuliner. Menurut saya, yang paling kuat untuk terus dikembangkan adalah wisata budaya dan sejarah. Kalau potensi itu terus dipromosikan, tamu yang datang bukan hanya menginap karena menghadiri kegiatan, tetapi juga meluangkan waktu untuk menikmati destinasi yang ada,” ujarnya.
Pelaksanaan MTQ XII Tingkat Provinsi Kepulauan Riau pun menjadi bukti bahwa penyelenggaraan event berskala besar tidak hanya sukses dari sisi pelaksanaan kegiatan keagamaan, tetapi juga memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat. Peningkatan okupansi hotel, bertambahnya kunjungan wisatawan, hingga meningkatnya aktivitas sektor jasa menjadi indikator bahwa agenda seperti MTQ mampu menggerakkan perekonomian lokal sekaligus memperkuat posisi Tanjungpinang sebagai kota tujuan penyelenggaraan berbagai kegiatan tingkat regional maupun nasional.













