Raja Ariza: Bahasa Melayu adalah Landasan Terbentuknya Bahasa Nasional

Jasa Maklon Sabun

Tanjungpinang, Jurnalkota.co.id

Rangkaian The International Workshop on Historic Urban Landscape (HUL): Mapping Intangible Heritage yang berlangsung sejak 30 November 2025 resmi ditutup di Gedung Dekranasda Kepri, kawasan Gurindam 12, Kota Tanjungpinang, Kamis (4/12/2025).

Workshop ini memaparkan hasil pemetaan warisan budaya takbenda di kawasan Kota Lama Tanjungpinang dan Pulau Penyengat.

Wakil Wali Kota Tanjungpinang, Raja Ariza, menyampaikan apresiasinya atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Ia menegaskan Tanjungpinang dan Pulau Penyengat menyimpan jejak sejarah dan identitas Melayu yang penting bagi pelestarian budaya, termasuk keberagaman bahasa di tiap pulau di Kepri.

“Bahasa Melayu adalah landasan terbentuknya bahasa nasional kita,” ujar Raja Ariza.

Raja Ariza juga mengapresiasi Universitas Maritim Raja Ali Haji (Umrah) sebagai penginisiasi kegiatan serta kolaborasi berbagai pihak, termasuk BPK Wilayah IV, Universitas Indonesia, Trisakti, IPB, Universitas Brawijaya, dan mitra dari Belanda.

“Mudah-mudahan ke depan kita dapat menjalin kerja sama ini untuk menggali kembali khazanah budaya kita yang masih banyak tersimpan,” kata Raja Ariza.

Staf Ahli Gubernur Kepri Bidang Pemerintahan dan Hukum, Sardison, yang hadir mewakili Gubernur Ansar Ahmad, menyebut workshop ini sebagai kegiatan pertama di Kepri dengan pemetaan warisan budaya takbenda secara komprehensif.

“Saya menaruh perhatian besar karena masih banyak pihak yang peduli terhadap pelestarian budaya takbenda. Kegiatan semacam ini diharapkan terus mendapat dukungan dari berbagai pemangku kepentingan,” ujarnya.

Menurut Sardison, budaya, bahasa, dan kuliner merupakan penanda identitas suatu daerah. Karena itu, ia berharap hasil workshop tidak berhenti pada laporan pemetaan, tetapi dilanjutkan dengan penelitian, pengembangan program, hingga penguatan aspek budaya di seluruh wilayah Kepri—tidak hanya di Penyengat dan Kota Lama, tetapi juga di Lingga, Anambas, dan Natuna.

Pemerintah provinsi, lanjutnya, menunggu tindak lanjut berupa program konkret serta pemberdayaan masyarakat. Masukan dari para kolaborator dinilai penting sebagai dasar penyusunan regulasi dan tata kelola pelestarian budaya.

“Jika aturan tidak diperkuat, warisan budaya bisa tergerus dan hilang perlahan. Kegiatan seperti ini diharapkan terus berkembang agar mampu memperkaya pelestarian budaya Melayu dan menjaga karakteristinya,” ujarnya.

Acara penutupan turut dihadiri kolaborator dari Belanda, Wakil Rektor III Umrah Suryadi, Kepala BPK Wilayah IV Jumhari, dan Sekjen Ikatan Ahli Perencana Wilayah dan Kota Indonesia Syamsinar. Kegiatan dirangkai dengan penyerahan sertifikat dan cinderamata.

Jasa Maklon Skincare Tangerang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed