Tanjungpinang, Jurnalkota.co.id
Bazar Musabaqah Tilawatil Qur’an dan Hadits (MTQH) XX tingkat Kota Tanjungpinang di kawasan Melayu Square tak sekadar menjadi pelengkap rangkaian kegiatan keagamaan. Lebih dari itu, bazar ini menjelma sebagai etalase promosi produk unggulan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dari seluruh kecamatan di ibu kota Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) tersebut.
Sejak hari pertama pelaksanaan, deretan stan yang tertata rapi dipadati pengunjung. Beragam produk lokal ditampilkan, mulai dari kuliner khas daerah, olahan hasil laut, hingga kerajinan tangan yang mencerminkan identitas budaya setempat.
Wakil Wali Kota Tanjungpinang, Raja Ariza, mengatakan setiap kecamatan membawa produk unggulan dengan karakteristik berbeda. Hal ini menunjukkan besarnya potensi ekonomi berbasis kerakyatan di Tanjungpinang.
“Setiap kecamatan memiliki produk unggulan dengan ciri khas masing-masing. Ini menunjukkan potensi ekonomi yang cukup besar di Tanjungpinang,” ujar Raja Ariza saat meninjau stan bazar MTQH, Senin (27/4/2026).
Menurut dia, Pemerintah Kota Tanjungpinang terus berupaya memperkuat pembinaan terhadap pelaku UMKM agar mampu berkembang dan bersaing, tidak hanya di tingkat lokal, tetapi juga nasional hingga internasional.
“Kita berharap pelaku usaha ini bisa naik kelas. Standar kualitas produk harus mengarah ke standar nasional, apalagi kita berada di wilayah perbatasan. Bahkan, beberapa produk kita sudah ada yang dipasarkan ke Singapura dan Malaysia,” katanya.
Raja Ariza menegaskan, keberadaan UMKM menjadi tulang punggung perekonomian daerah. Hal ini tidak terlepas dari kondisi Tanjungpinang yang tidak memiliki industri besar sebagai penopang utama ekonomi.
“Pertumbuhan ekonomi Tanjungpinang banyak ditopang sektor UMKM, karena kita tidak memiliki industri besar seperti pabrik. Karena itu, penguatan sektor ini menjadi prioritas,” ujarnya.
Di sisi lain, pelaksanaan bazar MTQH juga memberikan dampak langsung bagi pelaku usaha. Salah satu pelaku UKM, Farah, mengaku bersyukur dapat berpartisipasi dan memasarkan produknya di tengah tingginya kunjungan masyarakat.
“Kami UKM sangat senang karena kegiatan ini membantu produk kami lebih dikenal masyarakat,” ujarnya.
Farah berharap kegiatan serupa dapat terus digelar secara berkelanjutan dengan melibatkan lebih banyak pelaku usaha, baik yang sudah menjadi binaan pemerintah maupun yang baru merintis.
“Kami berharap ke depan para pelaku usaha bisa terus dilibatkan, karena ini sangat membantu promosi produk kami agar lebih dikenal dan berkembang,” katanya.
Ia menjelaskan, produk yang ditawarkan di stan bazar cukup beragam, mulai dari makanan kering, makanan basah, hingga kerajinan tangan. Seluruh produk tersebut juga telah memenuhi aspek legalitas usaha, seperti Nomor Induk Berusaha (NIB), izin PIRT, hingga sertifikasi halal.
Selama pelaksanaan MTQH, para pelaku UMKM membuka stan sejak pagi hingga malam hari. Suasana bazar pun semakin semarak seiring antusiasme masyarakat yang datang, baik untuk berbelanja maupun menikmati rangkaian kegiatan MTQH.
“Masyarakat tidak hanya bisa berbelanja, tapi juga ikut meramaikan MTQH. Sambil menikmati kegiatan, kalau lapar atau haus bisa mampir ke stan UKM,” ujar Farah.
Dengan kehadiran bazar ini, MTQH tidak hanya menjadi ajang syiar keagamaan, tetapi juga ruang pemberdayaan ekonomi masyarakat yang berdampak langsung terhadap peningkatan kesejahteraan pelaku usaha lokal.









