Lebak, Jurnalkota.co.id
Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Tambak 2 Cimarga, Kabupaten Lebak, Banten, memastikan makanan yang disalurkan melalui Program Makan Bergizi Gratis (MBG) memenuhi standar kualitas, kebersihan, dan keamanan pangan.
Pemilik SPPG Tambak 2 Cimarga, Eli Suhaeli, mengatakan bahwa Program MBG yang digagas Presiden Prabowo Subianto memberikan dampak positif terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak.
Program tersebut dinilai membantu memenuhi kebutuhan gizi anak sekaligus menjadi bagian dari upaya mempersiapkan generasi Indonesia yang sehat, cerdas, dan berkualitas menuju Generasi Emas 2045.
“Program MBG memberikan manfaat yang cukup besar bagi masyarakat, khususnya mereka yang tinggal di desa dan memiliki keterbatasan ekonomi,” kata Eli dalam keterangannya di Lebak, Rabu (26/8/2026).
Menurut Eli, masyarakat menyambut baik pelaksanaan Program MBG karena anak-anak mereka memperoleh makanan bergizi, bersih, higienis, dan menyehatkan secara rutin.
Sebelum program tersebut berjalan, sebagian masyarakat di wilayah itu kesulitan menyediakan makanan dengan gizi seimbang bagi anak-anak mereka. Kondisi ekonomi membuat beberapa keluarga tidak selalu mampu menyediakan menu seperti daging, sayuran, dan buah-buahan.
Melalui Program MBG, kebutuhan makanan bergizi tersebut dapat dipenuhi. Asupan gizi yang baik diharapkan mendukung pertumbuhan fisik, perkembangan kecerdasan, serta kesehatan anak dalam jangka panjang.
“Kami meyakini Program MBG dapat membantu mencetak generasi unggul yang memiliki sumber daya manusia berkualitas,” ujar Eli.
Ia menjelaskan, SPPG Tambak 2 Cimarga saat ini melayani sekitar 3.345 penerima manfaat. Mereka terdiri dari pelajar, ibu hamil, ibu menyusui, dan balita.
Dalam proses penyediaan makanan, pengelola dapur menerapkan standar operasional prosedur yang direkomendasikan Badan Gizi Nasional (BGN). Seluruh peralatan dapur juga disiapkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Selain itu, pengelola berupaya memenuhi sejumlah persyaratan pendukung, antara lain Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS), sertifikasi halal, Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL), serta sertifikasi Hazard Analysis and Critical Control Points (HACCP).
Penerapan standar tersebut dinilai penting untuk memastikan setiap tahapan pengolahan makanan, mulai dari penerimaan bahan baku, penyimpanan, proses memasak, pengemasan, hingga pendistribusian kepada penerima manfaat, berjalan dengan aman.
Eli menambahkan, keberadaan SPPG Tambak 2 Cimarga tidak hanya membantu pemenuhan gizi masyarakat, tetapi juga menggerakkan perekonomian lokal. Pengelola dapur memanfaatkan hasil pertanian, perikanan, dan peternakan masyarakat sebagai bahan baku makanan.
SPPG tersebut juga menyerap 49 tenaga kerja dari masyarakat sekitar. Para pekerja berasal dari keluarga kurang mampu yang tercatat dalam Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN), sesuai dengan arahan pemerintah.
Dengan demikian, Program MBG tidak hanya memberikan makanan bergizi kepada penerima manfaat, tetapi juga membuka lapangan pekerjaan serta menciptakan perputaran ekonomi di tingkat desa.
“Kami sudah beroperasi selama enam bulan, sejak Februari 2026. Sejauh ini, kegiatan berjalan lancar, termasuk penyaluran makanan ke sekolah dan posyandu,” tutur Eli.
Sementara itu, Ketua Satuan Tugas Program MBG Kabupaten Lebak, Amir Hamzah, mengapresiasi pelaksanaan program tersebut di SPPG Tambak 2 Cimarga.
Menurut Amir, makanan yang disalurkan kepada penerima manfaat sejauh ini memiliki kualitas yang relatif baik. Satgas juga belum menerima keluhan dari penerima manfaat maupun masyarakat terkait makanan yang dibagikan.
“Kami melihat kinerja SPPG Tambak 2 Cimarga cukup baik dalam menyediakan makanan yang bergizi dan bermutu,” kata Amir.
Meski demikian, Satgas Program MBG Kabupaten Lebak akan terus melakukan pengawasan terhadap dapur-dapur SPPG. Pengawasan diperlukan untuk memastikan kualitas makanan, kebersihan dapur, keamanan bahan pangan, serta proses distribusi tetap sesuai dengan ketentuan.
Amir menegaskan, pemerintah daerah tidak akan memberikan toleransi terhadap pengelola dapur yang mengabaikan kualitas dan keamanan makanan. Tindakan tegas akan diberikan apabila ditemukan pelanggaran atau makanan yang disalurkan tidak memenuhi standar.
“Pengawasan akan terus dilakukan agar seluruh SPPG benar-benar mengutamakan makanan yang higienis, aman, dan berkualitas,” ujarnya.
Program MBG juga mendapat tanggapan positif dari para pelajar. Sejumlah siswa SDN 1 Tambak, Kecamatan Cimarga, mengaku senang menerima makanan bergizi di sekolah.
Selain membantu memenuhi kebutuhan gizi, program tersebut dinilai dapat mengurangi pengeluaran uang jajan siswa.
“Kami merasa bahagia dan senang menerima makanan MBG karena menunya sesuai dengan selera,” kata Ahmad, siswa SDN 1 Tambak, Kecamatan Cimarga.
Penulis: Noma
Editor: Antoni










