Tragedi Bagan Deli, Ketika Wibawa Aparat Ikut Hangus

Jasa Maklon Sabun

www.jurnalkota.co.id

Oleh: Retno Purwaningtias, S.IP
Pegiat Literasi

Sirene tak berbunyi. Langkah-langkah aparat Satresnarkoba Polres Pelabuhan Belawan menyusuri lorong-lorong di kawasan Bagan Deli. Target mereka, menggulung sarang Narkoba yang sudah lama meresahkan warga. Namun belum sempat menjangkau pelaku, perlawanan datang lebih dulu.

Penggerebekan yang terjadi pada Rabu malam, 9 April 2025 itu berubah menjadi mimpi buruk. Alih-alih berhasil mengamankan lokasi, aparat justru diserang oleh sekelompok orang tak dikenal. Dua motor polisi dibakar hingga hanya tersisa rangka besi. Massa bahkan sempat menuntut pembebasan dua dari lima terduga pengguna Narkoba yang telah ditangkap, yakni I dan T. Meski tak ada korban jiwa, peristiwa ini menguak fakta getir: para pelaku Narkoba tak lagi takut pada hukum (detik.com, 14/4/2025). Dari kejadian itu, yang tersisa hanyalah rangka besi dan wibawa aparat yang ikut hangus.

Peristiwa ini bukan hanya insiden biasa, tapi tamparan keras bagi penegakan hukum. Ini menunjukkan betapa besar nyali para bandar narkoba, sementara polisi makin kehilangan wibawa. Lantas, siapa sebenarnya yang berkuasa di negeri ini? Aparat atau para mafia?

Kapolres Pelabuhan Belawan, AKBP Oloan Siahaan, menyatakan bahwa motor dibakar dengan bensin. “Pakai bensin,” singkatnya saat konferensi pers. Tapi publik tak hanya butuh kronologi. Mereka menunggu tindakan nyata. Sayangnya, di tengah derasnya arus Narkoba di Medan, yang muncul justru kekhawatiran: apakah polisi memang takut pada bandar?.

Fenomena ini memperlihatkan betapa buruknya penegakan hukum dalam sistem kapitalis – sekuler. Hukum tak lagi dihormati. Polisi yang seharusnya menjaga ketertiban dapat dilecehkan, bahkan diserang. Ironisnya, dalam sistem ini, kejahatan makin berkembang, sementara penegak hukum malah terbelenggu.

Tak bisa dipungkiri, banyak oknum aparat yang turut terlibat dalam jaringan Narkotika. Ada yang menjadi beking, ada yang jadi pengguna. Maka, wajar jika pelaku merasa tak perlu takut. Mereka merasa dilindungi oleh sistem yang rapuh dan aparat yang tercemar.

Sistem sekuler justru memberi ruang bagi para pelaku kejahatan. Dalam sistem ini, negara lebih mementingkan kebebasan individual daripada moralitas yang berbasis pada agama. Hukum bisa dibeli, kekuasaan disalahgunakan, dan hukum tidak lagi menjadi pedoman yang adil. Inilah yang menyebabkan para bandar Narkoba merasa aman, sementara polisi tak berdaya.

Di sisi lain, Islam menawarkan solusi menyeluruh yang mampu mengatasi masalah ini. Islam tidak hanya sekadar menangani gejala, tapi menyelesaikan akar masalah. Pertama, Islam membangun kesadaran individu melalui ketakwaan. Dalam keluarga, anak-anak diajarkan nilai iman yang kuat, yang mengajarkan mereka tentang halal-haram, serta bahaya narkoba, bukan hanya dari sisi medis, tapi juga sebagai pelanggaran terhadap norma Agama.

Kedua, Islam menghidupkan budaya amar makruf nahi mungkar di tengah masyarakat. Masyarakat saling mengingatkan, mencegah, dan menegur sebelum kejahatan menjadi lebih besar. Dengan demikian, tercipta atmosfer sosial yang menolak narkoba dan kejahatan lainnya.

Ketiga, Islam menegakkan sanksi tegas terhadap pelaku. Dalam Islam, penyalahgunaan narkoba dapat dikenakan sanksi takzir yang ditentukan oleh hakim sesuai dengan tingkat bahaya yang ditimbulkan. Pengedar Narkoba besar bisa dikenakan hukuman berat, bahkan hukuman mati, untuk melindungi masyarakat.

Namun, selama kita tetap hidup dalam sistem sekuler, jangan harap bandar Narkoba takut pada polisi. Dalam sistem ini, hukum bisa dibeli, dan aparat yang lemah hanya menjadi bagian dari masalah. Negara malah memberi ruang bagi para pelaku kejahatan untuk berkembang.

Islam, sebagai sistem kehidupan yang menyeluruh, menuntut negara untuk bertanggung jawab penuh menjaga keamanan dan moral rakyat. Bukan hanya razia yang tak membawa hasil, tetapi pembinaan akidah yang berkelanjutan. Bukan hanya penjara, tapi juga hukuman yang memberi efek jera. Bukan hanya penggerebekan yang sesaat, tetapi pembersihan.

Islam, sebagai sistem kehidupan yang menyeluruh, menuntut negara untuk bertanggung jawab penuh menjaga keamanan dan moral rakyat. Bukan hanya razia yang tak membawa hasil, tetapi pembinaan akidah yang berkelanjutan. Bukan hanya penjara, tapi juga hukuman yang memberi efek jera. Bukan hanya penggerebekan yang sesaat, tetapi pembersihan total terhadap jaringan Narkoba.

Tragedi di Bagan Deli seharusnya menjadi alarm bagi kita. Sudah cukup kita hidup dalam sistem yang membiarkan rakyat jadi korban. Sudah saatnya kita beralih ke sistem yang benar-benar mampu mengatasi persoalan dari akar. Islam bukanlah utopia, melainkan sistem yang telah diterapkan lebih dari 13 abad dengan hasil yang nyata menjaga masyarakat dari kerusakan moral dan sosial.

Saatnya kita bergerak, bukan hanya menonton. Kita tak hanya butuh polisi yang berani, tapi juga sistem yang berpihak pada rakyat. Sistem yang tidak tunduk pada kekuatan uang dan pengaruh, tapi berdiri kokoh di atas keadilan dan ketakwaan. Karena selama sistem ini dibiarkan, para pelaku terus merasa aman.

Allah Swt. berfirman:

” hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka…”(TQS. Al-Ma’idah [5]: 49)

Wallahualam bissawab.

Jasa Maklon Skincare Tangerang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *