Tanjungpinang, Jurnalkota.co.id
Yuniarni Pustoko Weni mengusulkan dua jam tanpa telepon genggam bagi anak-anak di sekolah pada satu hari setiap pekan. Gagasan tersebut disampaikan setelah ia dikukuhkan sebagai Bunda Literasi dan Bunda Baca Kota Tanjungpinang periode 2025–2030, Selasa (3/11/2026).
Pengukuhan dilakukan oleh Wali Kota Tanjungpinang Lis Darmansyah di Aula Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah, Kantor Wali Kota Tanjungpinang. Kegiatan itu dirangkaikan dengan Sosialisasi dan Advokasi Akreditasi Perpustakaan Tahun 2026 yang diselenggarakan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan.
Weni berharap usulan waktu tanpa gawai tersebut dapat dibahas bersama pemerintah daerah dan pihak terkait. Tujuannya memberikan ruang bagi anak-anak untuk membaca dan belajar tanpa gangguan perangkat digital.
Menurut Weni, tugas sebagai Bunda Literasi merupakan tanggung jawab untuk ikut menumbuhkan budaya membaca. Upaya tersebut perlu dimulai dari lingkungan terdekat, terutama keluarga dan sekolah.
“Pengukuhan ini bukan sekadar sebuah kehormatan, tetapi merupakan amanah dan tanggung jawab untuk ikut berperan dalam menumbuhkan budaya literasi di tengah masyarakat,” ujar Weni.
Ia mengajak keluarga membiasakan anak-anak membaca, menyediakan waktu untuk berdiskusi, serta menciptakan suasana yang nyaman untuk belajar. Dengan cara itu, kegiatan membaca diharapkan menjadi bagian dari keseharian anak.
“Mari kita mulai membangun budaya literasi dari lingkungan keluarga. Biasakan anak-anak membaca, sediakan waktu untuk berdiskusi, dan jadikan kegiatan membaca sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari,” tuturnya.
Weni menilai, gerakan literasi membutuhkan keterlibatan pemerintah, sekolah, keluarga, masyarakat, komunitas, hingga dunia usaha. Kegiatannya juga perlu dikemas secara menyenangkan, mudah diakses, dan dekat dengan kehidupan masyarakat.
Sementara itu, Lis Darmansyah meminta pengukuhan Bunda Literasi ditindaklanjuti dengan kegiatan nyata hingga tingkat kelurahan. Ia menekankan pentingnya manfaat yang dapat dirasakan masyarakat dari gerakan tersebut.
“Saya tidak ingin Bunda Literasi yang sudah dibentuk hanya sekadar seremoni. Ini harus bisa memberikan kontribusi dan dampak positif di lingkungan masing-masing, khususnya di setiap kelurahan,” ucap Lis.
Lis juga meminta perpustakaan kelurahan kembali diaktifkan dan dimanfaatkan oleh warga. Menurut dia, ketersediaan buku dan fasilitas perlu diikuti kegiatan membaca serta aktivitas literasi agar perpustakaan berfungsi sebagai ruang belajar masyarakat.
Di tengah meluasnya penggunaan teknologi digital, Lis mengingatkan pentingnya kemampuan memilah informasi dan menggunakan teknologi secara bijak, terutama bagi anak-anak.
Ia mengatakan, teknologi seperti kecerdasan buatan atau AI seharusnya membantu proses belajar dan menambah pengetahuan. Penggunaannya diharapkan tidak membuat masyarakat bergantung pada teknologi.
“Digitalisasi itu dikendalikan oleh pola pikir kita, bukan kita yang dikendalikan oleh sistem atau digitalisasi,” kata Lis.
Selain memperkuat kemampuan literasi digital, Lis mengajak seluruh pihak tetap memberikan ruang bagi pelestarian budaya Melayu. Tradisi menulis, pantun, syair, gurindam, hingga tunjuk ajar perlu terus dikenalkan kepada generasi muda.
“Gerakan literasi modern harus dibangun dengan melestarikan budaya lokal. Dengan begitu, gerakan literasi tidak hanya menghasilkan masyarakat yang cerdas, tetapi juga masyarakat yang mengenal, mencintai, dan bangga terhadap budaya sendiri,” ujarnya.
Bunda Literasi Provinsi Kepulauan Riau Dewi Kumalasari turut menekankan peran Bunda Literasi sebagai penggerak, motivator, dan inspirator dalam menumbuhkan budaya membaca.
Menurut Dewi Kumalasari, gerakan tersebut dapat dimulai melalui kebiasaan sederhana di lingkungan keluarga, kemudian diperluas ke sekolah dan masyarakat.
“Bunda Literasi harus menjadi penggerak dan inspirator. Mari kita mulai dari keluarga dengan membiasakan membaca bersama anak, setidaknya 15 menit setiap hari,” kata Dewi Kumalasari.
Ia juga mendukung gagasan Weni mengenai dua jam tanpa telepon genggam bagi anak-anak di sekolah. Dewi menilai, kebiasaan membaca perlu dibangun melalui kegiatan sederhana yang dilakukan secara konsisten.














