Oleh: Retno Purwaningtias, S.IP
Pegiat Literasi
Di layar ponsel, seseorang bisa tampak selalu tertawa. Unggahan di TikTok penuh filter, musik, dan potongan hidup yang tampak sempurna. Namun, di balik itu, ia duduk sendirian, menatap kosong, merasa hampa. Fenomena lonely in the crowd—ramai di dunia maya, sepi di dunia nyata—kini menjadi realitas generasi.
Sebuah riset mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta berjudul “Loneliness in the Crowd: Eksplorasi Literasi Media Digital pada Fenomena Kesepian di TikTok melalui Konfigurasi Kajian Hiperrealitas Audiovisual” mengungkap, konten digital justru bisa menumbuhkan rasa kesepian. Teori hiperrealitas menjelaskan bahwa apa yang ditampilkan media sering dianggap lebih nyata daripada kenyataan itu sendiri. Emosi yang terbentuk pun rapuh, karena hanya konstruksi digital, bukan interaksi sosial murni (detik.com, 22/9/2025).
Fenomena ini paling banyak menjerat Gen Z, generasi yang disebut paling terkoneksi, tetapi justru paling kesepian, paling sering insecure, dan paling rentan mengalami gangguan kesehatan mental.
Sistem yang Membentuk
Masalah ini tidak semata soal literasi digital. Ia lahir dari sistem sekuler-liberal yang menumbuhkan gaya hidup individualistik. Media sosial menjadi produk industri kapitalis yang memonetisasi perhatian manusia. Semakin lama seseorang menatap layar, semakin besar keuntungan yang diraup pemilik platform.
Akibatnya, generasi muda lebih fasih berinteraksi di ruang obrolan digital ketimbang di dunia nyata. Bahkan di ruang keluarga, banyak yang lebih akrab dengan scrolling dibanding bercengkerama.
Kesepian ini bukan hanya persoalan psikologis, melainkan juga masalah peradaban. Generasi yang rapuh, sibuk mengejar validasi semu, akan kehilangan kepedulian sosial. Umat pun berisiko kehilangan daya juang, ikatan, dan potensi produktif.
Kebahagiaan yang Kontradiktif
Paradigma materialistik melihat bahagia dari jumlah like, pengikut, atau atensi publik. Padahal, kebutuhan jiwa manusia tidak pernah bisa dipuaskan dengan itu. Makin seseorang mengejar validasi digital, makin besar ruang kosong dalam dirinya.
Media sosial memang menawarkan kebahagiaan instan: satu klik bisa menghadirkan komentar manis atau tanda suka. Namun, rasa senang itu datang cepat dan hilang lebih cepat. Setelahnya, rasa hampa justru makin dalam. Inilah “bahagia semu” yang perlahan mematikan daya hidup generasi.
Kapitalisme menciptakan siklus tanpa ujung: kesepian, membuat konten, mendapat validasi, lalu kesepian kembali. Industri untung, generasi hancur.
Pandangan Islam
Islam memandang manusia sebagai makhluk sosial yang membutuhkan interaksi nyata. Nabi menekankan ukhuwah, kepedulian, dan interaksi langsung yang membangun ikatan ruhiyah dan emosional. Teknologi boleh digunakan, tetapi harus ditempatkan sebagai alat, bukan dunia baru yang mengasingkan manusia.
Karena itu, identitas Islam penting dijadikan fondasi. Negara pun seharusnya hadir mengatur ruang digital agar tidak menjadi ladang eksploitasi kapitalis, sekaligus mendidik generasi agar tetap sehat, produktif, dan peduli pada persoalan umat.
Sejarah Islam menunjukkan, negara bukan sekadar pengatur teknis, melainkan pelindung generasi. Pendidikan, kebijakan publik, hingga jaminan sosial diarahkan untuk membentuk umat yang kuat, bukan tercerabut oleh kesepian.
Jalan Keluar
Realitas lonely in the crowd adalah cermin kegagalan sistem hari ini. Generasi dipertontonkan sebagai yang paling bebas, tetapi justru paling terpenjara. Mereka dikelilingi jutaan teman digital, tetapi kesepian tak pernah hilang.
Perubahan hanya mungkin jika berani melepaskan diri dari sistem sekuler-liberal, lalu kembali pada sistem yang menyehatkan jiwa, menumbuhkan ukhuwah, dan melahirkan generasi kuat.
Wallahu’alam.








