Bintan, Jurnalkota.co.id
Suara dentuman meriam memecah keheningan perairan Selat Riau Selatan, Kamis (5/3/2026). Di tengah birunya laut yang membentang di sekitar Pulau Mantang, Kabupaten Bintan, Kapal Perang Republik Indonesia KRI Surik-645 menggelar latihan tempur dengan menembakkan meriam ke arah sasaran terapung.

Latihan tersebut merupakan bagian dari Latihan LAKPA 603, yaitu latihan penembakan sasaran terapung yang digelar oleh unsur Bawah Kendali Operasi (BKO) Gugus Keamanan Laut (Guskamla) Koarmada I.
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya meningkatkan kemampuan tempur prajurit sekaligus memastikan kesiapan sistem persenjataan kapal perang dalam menghadapi berbagai potensi ancaman di laut.
Sebelum latihan dimulai, suasana di atas geladak kapal dipenuhi kesibukan. Awak kapal menyiapkan berbagai peralatan tempur, sementara perwira pengendali memastikan seluruh prosedur berjalan sesuai standar keselamatan.
KRI Surik-645 terlebih dahulu melakukan safety broadcast, yakni pemberitahuan kepada kapal-kapal yang melintas agar menjauhi area latihan. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan daerah latihan steril dari aktivitas pelayaran sipil sehingga latihan dapat berlangsung aman.
Komandan KRI Surik-645 Letkol Laut (P) Ditto Regina Saputra, M.Tr.Opsla menegaskan bahwa latihan tersebut merupakan bagian dari pembinaan profesionalisme prajurit TNI Angkatan Laut.
“Latihan ini bertujuan menjaga kesiapan tempur prajurit sekaligus memastikan seluruh sistem persenjataan kapal dapat berfungsi optimal saat dibutuhkan,” ujarnya.
Briefing Tempur
Sebelum tembakan dilepaskan, seluruh prajurit yang terlibat mengikuti briefing serial latihan LAKPA 603 yang dipimpin unsur komando kapal.
Dalam briefing tersebut dijelaskan secara rinci tahapan latihan, prosedur keselamatan, serta mekanisme penembakan yang akan dilaksanakan.
Beberapa saat kemudian, sasaran terapung diturunkan ke laut sebagai target latihan. Sasaran tersebut sengaja ditempatkan pada jarak tertentu agar prajurit dapat melatih akurasi dan koordinasi penembakan.
Setelah target siap, KRI Surik-645 melakukan manuver taktis untuk mengambil posisi tembak yang ideal.
Di atas geladak kapal, prajurit kemudian bersiap mengoperasikan sistem persenjataan.
Meriam 30 mm Seahawk menjadi senjata utama dalam latihan tersebut. Senjata ini dapat dioperasikan melalui Remote Operation Console (ROC) maupun secara manual.
Selain itu, prajurit juga menggunakan meriam 12,7 mm Mitraliur untuk menambah variasi latihan tembakan.
Saat aba-aba diberikan, suara meriam pun menggema di tengah lautan. Rentetan tembakan dilepaskan ke arah sasaran terapung yang berada di kejauhan.
Tak lama kemudian, sasaran yang menjadi target latihan terlihat hancur dan akhirnya tenggelam di perairan Selat Riau Selatan.
Keberhasilan tersebut menunjukkan ketepatan tembakan, koordinasi tim, serta profesionalisme prajurit KRI Surik-645 dalam mengoperasikan sistem persenjataan kapal perang.
Jaga Kedaulatan Laut
Latihan tempur seperti ini menjadi bagian penting dari upaya TNI Angkatan Laut dalam menjaga kesiapan operasional unsur kapal perang yang bertugas di wilayah perairan Indonesia.
Perairan di sekitar Selat Riau dan Kepulauan Riau merupakan jalur strategis yang dilalui berbagai aktivitas pelayaran internasional.
Karena itu, kehadiran unsur kapal perang TNI AL tidak hanya berfungsi sebagai pengamanan wilayah, tetapi juga menjadi simbol kedaulatan negara di laut.
Melalui latihan yang dilakukan secara berkala, prajurit TNI AL diharapkan selalu siap menghadapi berbagai potensi ancaman, baik dari permukaan laut maupun dari udara.
Bagi awak KRI Surik-645, latihan ini bukan sekadar rutinitas, tetapi juga wujud komitmen untuk terus menjaga profesionalisme dalam menjalankan tugas negara.
Di tengah luasnya perairan Nusantara, kapal perang seperti KRI Surik-645 menjadi garda terdepan dalam memastikan keamanan dan kedaulatan laut Indonesia tetap terjaga.








