Jakarta, Jurnalkota.co.id
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di SMPN 82 Jakarta Barat dihentikan sementara setelah ratusan siswa diduga mengalami keracunan makanan usai menyantap menu makan siang yang dibagikan sekolah, Jumat (23/5/2026).
Berdasarkan pendataan pihak sekolah melalui wali kelas, sebanyak 109 siswa dilaporkan mengalami gangguan kesehatan dengan gejala beragam, mulai dari mual, muntah, sakit perut, pusing, hingga diare.
Dari jumlah tersebut, 11 siswa sempat mendapatkan penanganan medis di klinik, puskesmas, dan rumah sakit. Bahkan hingga Senin (25/5/2026), satu siswa masih menjalani perawatan inap di RS Sumber Waras.
Peristiwa tersebut memicu kekhawatiran para orang tua murid yang meminta pemerintah daerah hingga aparat penegak hukum turun tangan melakukan investigasi menyeluruh terkait keamanan makanan dalam program MBG.
“Anak saya pulang sekolah mengeluh pusing, mual, dan muntah-muntah. Beberapa teman sekelasnya juga mengalami hal yang sama,” ujar salah seorang wali murid siswa kelas VII saat ditemui awak media.
Keluhan serupa juga dialami FP, siswa kelas IX SMPN 82 Jakarta Barat. Kondisinya yang terus melemah membuat pihak keluarga segera membawanya ke klinik terdekat untuk mendapatkan pertolongan medis.
Kepala SMPN 82 Jakarta Barat, Dewi Susilawati, menjelaskan makanan dari vendor MBG tiba di sekolah sekitar pukul 09.45 WIB dan langsung didistribusikan untuk persiapan makan siang siswa.
Sebelum makanan dibagikan, pihak sekolah melakukan prosedur pengecekan rasa atau taste test oleh Person in Charge (PIC) sekolah pada pukul 10.05 WIB.
“Hasil pengecekan awal menunjukkan nasi putih, ayam kemangi, tempe katsu, serta tumis wortel dan jagung dalam kondisi baik dan layak konsumsi,” kata Dewi.
Namun dalam proses pengecekan tersebut, petugas menemukan satu potong buah semangka yang memiliki rasa asam. Karena itu, pihak sekolah langsung mengingatkan siswa agar tidak mengonsumsi buah semangka apabila terasa asam saat dimakan.
Meski demikian, selama proses belajar mengajar berlangsung, tidak ada laporan siswa yang mengeluhkan kondisi kesehatan kepada guru maupun pihak sekolah.
“Keluhan baru muncul setelah anak-anak tiba di rumah masing-masing dan orang tua melapor melalui grup komunikasi sekolah,” ujarnya.
Mendapat laporan tersebut, pihak sekolah segera berkoordinasi dengan Puskesmas Grogol Petamburan untuk melakukan penanganan awal dan pendataan siswa yang mengalami gejala.
Sebagai langkah antisipasi, distribusi Program Makan Bergizi Gratis di SMPN 82 Jakarta Barat resmi dihentikan sementara mulai Senin (25/5/2026).
Pihak sekolah menyatakan penghentian sementara dilakukan sambil menunggu hasil evaluasi dan investigasi lebih lanjut terkait penyebab pasti gangguan kesehatan para siswa.
Selain itu, sekolah juga akan membagikan formulir persetujuan kepada para orang tua untuk memastikan kembali keterlibatan siswa dalam program MBG ke depan.
“Kami ingin memastikan seluruh proses berjalan aman. Evaluasi menyeluruh sedang dilakukan agar kejadian serupa tidak kembali terjadi,” kata pihak sekolah.
Sementara itu, Koordinator Lapangan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), Faizar, mengatakan pihaknya masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium terhadap sampel makanan yang dikonsumsi siswa.
SPPG yang memasok makanan untuk program MBG tersebut diketahui beroperasi di Jalan Indraloka II Nomor 1846 RT 07/RW 06, Kelurahan Wijaya Kusuma, Kecamatan Grogol Petamburan, Jakarta Barat.
Menurut Faizar, proses pemeriksaan laboratorium diperlukan untuk memastikan sumber penyebab gangguan kesehatan yang dialami para siswa.
“Kami masih menunggu hasil uji laboratorium untuk memastikan penyebab pastinya,” ujarnya singkat.
Kasus dugaan keracunan makanan itu pun menuai perhatian luas dari para orang tua murid. Mereka meminta Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Dinas Pendidikan DKI Jakarta, hingga aparat kepolisian turun langsung melakukan investigasi.
Para wali murid mendesak pemerintah membuka hasil pemeriksaan laboratorium secara transparan agar publik mengetahui penyebab pasti insiden tersebut.
Selain itu, mereka juga meminta adanya pengawasan lebih ketat terhadap pengolahan, distribusi, dan kualitas makanan dalam Program Makan Bergizi Gratis.
“Program ini sebenarnya bagus untuk anak-anak, tetapi keamanan makanannya harus benar-benar dijamin. Jangan sampai kejadian seperti ini terulang lagi,” ujar salah seorang wali murid.
Hingga berita ini diturunkan, sebagian besar siswa yang sempat menjalani pengobatan dilaporkan mulai membaik dan sudah dapat beraktivitas kembali.
Meski demikian, pihak sekolah bersama tenaga kesehatan masih terus melakukan pemantauan terhadap kondisi siswa, terutama satu siswa yang masih menjalani perawatan inap di RS Sumber Waras.
Kasus ini menjadi perhatian serius mengingat Program Makan Bergizi Gratis merupakan salah satu program yang ditujukan untuk mendukung kesehatan dan pemenuhan gizi pelajar. Pemerintah pun diharapkan dapat melakukan evaluasi ketat agar kualitas dan keamanan makanan yang disalurkan benar-benar terjamin sebelum dikonsumsi para siswa.














